Part 33
.
.
.
Beautiful Choice
Now playing ^Like I'm Gonna Lose You - Megang Trainor (cover Anneth & Deven)^
Waktu memang tak bisa diputar ulang layaknya lagu Happy dari Skinnyfabs yang tengah Deven dengarkan melalui headphone putihnya, namun dalam hidup selalu ada peristiwa-peristiwa yang seperti direka ulang. Jika awal tahun lalu ada Anneth yang berdiri di depan gerbang sambil membaca tulisan Arpegio High School, kini ada Deven yang tengah melakukan hal serupa.
Gedung sekolah yang menjadi tempatnya menimba ilmu selama enam bulan terakhir telah memberinya banyak pelajaran berharga mengenai persahabatan, mimpi-mimpi, dan cerita cinta masa remaja. Akhir-akhir ini Deven merasa jika masa remajanya akan segera berakhir. Masa bermain dan bersenang-senang itu akan segera usai. Entahlah. Mungkin hanya perasaan.
Deven yang sengaja datang dengan menaiki bus di hari pertama masuk sekolah mulai berjalan gancang memasuki halaman Arpegio. Tujuannya hanya satu, kelas XI IPS 2. Ia hendak menemui seseorang di sana. Seseorang yang katanya selalu berangkat paling awal untuk mengerjakan PR di sekolah.
Sesampainya di ruang kelas yang sudah lebih bersih dari kelas lain itu, Deven berhasil menangkap potret seorang gadis yang tengah menyingkirkan debu-debu di atas meja dengan kemoceng.
Deven sengaja hanya memerhatikannya untuk beberapa lama sembari menyandarkan bahu di bingkai pintu.
"Ngapain lo di situ?" tegur gadis beraura dingin itu setelah menyadari keberadaan Deven.
"Gue disuruh Pak Raden pinjam catatan ekonomi. Gue tunggu di taman dan lo harus datang dalam lima menit atau gue aduin lo ke Pak Raden, lagi."
Gadis itu tampak memutar bola matanya jengah dan menggerakkan dagu sebagai isyarat agar Deven segera pergi.
"Lima menit," ulang Deven sebelum meninggalkan teras.
Tidak sampai lima menit, gadis berambut ombre dengan mata bulat itu telah tiba di taman beserta catatan ekonomi yang diminta Deven.
"Duduk!"
"Apa lagi, sih?"
"Duduk, sweety," ujar Deven dengan nada lembut yang menyiratkan kekesalan.
Jika tak ingat laki-laki berhoodie itu pernah melaporkannya ke Pak Raden–guru Ekonomi yang sekaligus menjagat sebagai ketua BK, gadis itu tak akan repot-repot datang dan duduk di sana seperti orang bodoh.
"Temen lo mana?" tanya Deven.
"Ha ha, lucu lo."
"Lhoh, gue nanya, bukan lagi ngelawak."
"Ngapain lo ajak gue ke sini? Gue nggak mau disangka pelakor sama seantero Arpegio cuma gara-gara duduk berduaan sama lo."
"Santai babe, gue nggak lagi ngajak lo kencan. Gue cuma nanya temen-temen lo mana."
"Nggak ada. Mereka nggak mau lagi temenan sama gue setelah lo diam-diam laporin gue ke Pak Raden."
Deven terkekeh, "Kalau nggak gitu Ucha bakal jatuh secara nggak logis lagi di kamar mandi. Bukan begitu, nona Arimbi?"
"Gue Be, bukan Arimbi."
"Yayaya, terserah lo. Kenapa sih lo benci banget sama Ucha? Ada masalah apa lo sama dia?"
Sebelum menerima jawaban, Deven mendengar hembusan napas kasar dari bibir mungil seorang Arimbi Prahaningtyas.
"Gue benci Ucha karena dia selalu lebih disayang sama Opa."
KAMU SEDANG MEMBACA
MELLIFLUOUS [End]
Fiksi Penggemar"Nggak ada benar atau salah perihal mencintai. Tapi, kalau menurutmu kita memulainya dengan cara yang salah, ayo melanjutkannya dengan cara yang benar." Tak ada yang seindah jatuh cinta di usia remaja. Deven dan Anneth merasakan keindahan itu bersam...
![MELLIFLUOUS [End]](https://img.wattpad.com/cover/256014935-64-k282983.jpg)