Part 49
.
.
.
Beautiful Disaster
Sesaat sebelum matahari menyelesaikan tugasnya, Deven menyungkupkan jaket pada bahu gadisnya dan menerima senyum yang ribuan kali lebih indah dari pemandangan laut di depan sana. Deven mengelus puncak kepala Anneth, sedikit mengacaknya demi menyalurkan rasa sayang yang sepertinya tak akan pernah habis.
"Makasih, Dev."
Deven mengangguk lalu mendudukkan diri di sebelah Anneth tanpa memberi jarak yang berarti. Sengatan itu muncul ketika Anneth mendapati bahunya bersinggungan dengan bahu Deven.
"Mau nyandar?" tawar Deven yang hanya dibalas kekehan oleh Anneth untuk menutupi salah tingkahnya.
"Indah ya," tutur Anneth pelan.
Deven menatap Anneth dari samping selintas, lalu kembali memandang air laut yang telah berubah warna. Seolah dasar dari palungnya benar-benar dilapisi oleh emas.
"Iya."
"Bukan pemandangannya."
Deven membuat gelombang kecil di dahinya. "Terus?"
"Situasi ini. Duduk di pasir, lihat sunset, sama kamu."
Deven tersenyum. Sejak kapan Anneth pandai membuat pipinya menghangat?
"Dev?"
"Hm?"
"Mau tau nggak gimana kamu di mataku?"
"Gimana?"
"Kamu itu komponen keindahan. Bagian kecil. Tapi yang namanya komponen akan selalu jadi yang terpenting. Seindah apapun hidupku, tanpa kamu keindahan itu nggak pernah ada."
"Belajar romantis dari mana?"
Anneth menoleh saat Deven juga tengah menatapnya. Pandangan mereka beradu. Saling berkaca pada mata masing-masing, keduanya lantas tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELLIFLUOUS [End]
Fiksi Penggemar"Nggak ada benar atau salah perihal mencintai. Tapi, kalau menurutmu kita memulainya dengan cara yang salah, ayo melanjutkannya dengan cara yang benar." Tak ada yang seindah jatuh cinta di usia remaja. Deven dan Anneth merasakan keindahan itu bersam...
![MELLIFLUOUS [End]](https://img.wattpad.com/cover/256014935-64-k282983.jpg)