Naya Pov
Sudah sebulan semenjak anak-anak tau Ka Arka dan Rafa bersaudara, sekolah menjadi lebih heboh. Banyak anak yang membicarakan bahwa keluarga Ka Arka memiliki bibit yang unggul. Rafa masih cuek seperti biasanya, nampaknya ia tidak terlalu memikirkan dan menanggapi anak-anak yang mulai menaruh perhatian padanya. Ka Arka juga sekarang lebih leluasa jika ingin berbicara dengan Rafa tidak seperti sebelumnya.
Istirahat siang itu gue dan Ines hanya berdua ke kantin, Denis dan Rafa sedang mengumpulkan tugas ke ruang guru. Disebelah kami duduk Ka Yessi and the genk. Genk kakak kelas yang merupakan salah satu fans Ka Arka. Sebenarnya gue ingin duduk jauh dari mereka namun tempat yang kosong hanya disini.
"Kemarin deketin kakaknya sekarang deketin adenya. Semuanya aja dideketin." Kata salah satu anggota geng Ka Yessi.
Gue maupun Ines hanya diam tidak meladeni mereka. "Di kelas deket-deket adenya, diluar jam kelas deketin kakaknya. Anak kelas 10 sekarang centil ya." Kata anggota lainnya.
Mereka sedang menyindir Ines. Kenapa dizaman sekarang masih aja ada orang seperti mereka. Gue melihat Ka Yessi terlihat senang melihat Ines hanya menunduk diam. Meskipun Ines terkenal gak bisa diem, tapi anak ini termasuk pendiam jika menghadapi kakak kelas. Apalagi berhubungan dengan Ka Yessi.
"Udah makan aja, gak usah didenger." Kata gue asal sambil meminum jus gue. Gue meruntuki Denis dan Rafa yang tidak muncul-muncul.
Ka Yessi menatap gue dengan tatapan tidak suka. Nampaknya ia mendengar ucapan gue tadi. "Pantes ya mereka temenan, temennya dulu sksd pas MOS sama Arka, karena gak bisa deketin jadi temenan deh mereka." Kata Ka Yessi sinis.
Gue menatap Ka Yessi dengan wajah tak suka. "Balik ke kelas aja yuk Nes." Kata gue mengajak Ines pergi.
Saat gue melewati mereka, dengan sengaja salah satu teman Ka Yessi menumpahkan minumannya ke gue. Gue menghela nafas pelan menahan marah. "Ups, sorry tangan gue licin." Katanya dengan nada tak bersalah lalu tertawa dengan teman-temannya.
"Lo pada kenapa si ka? Kurang kerjaan banget ngurusin hidup orang." Kata gue kesal.
"Lo sama temen lo yang kecentilan, sok cantik banget kalian." Kata Ka Lea salah satu anggota Ka Yessi yang dari tadi sering bersuara. Ia berdiri dan menatap gue. Ines menarik tangan gue dan mengajak gue pergi.
Kami sudah menjadi perhatian seluruh kantin. Ines mengajak gue untuk pergi, akhirnya gue pun mengikutinya. Meladeni mereka hanya akan membuat gue kurang kerjaan. Masa indah SMA gue berakhir. Gue dan Ines berjalan menuju toilet untuk membersihkan noda jus stroberi yang menempel di baju gue.
Kami berpapasan dengan Ka Arka dan teman-temannya dipintu masuk kantin. Ini dia biang masalahnya. Keluh gue kesal dalam hati. Gue menatap Ka Arka dengan jengkel lalu membuang muka.
"Lo kenapa?" Tanya Ka Arka menahan tangan gue.
"Bukan urusan lo ka. Udah deh lepas gue males ngurusin macan-macan lo." Kata gue kesal lalu pergi meninggalkan Ka Arka menuju toilet. Ines hanya menunduk lalu mengejar gue.
Gue masuk ke salah satu toilet dan membersihkan noda jus yang menempel. Walaupun nodanya bisa dibersihkan dengan sabun yang ada, tapi baju gue basah jadinya. Hari ini gue lupa membawa jaket karena buru-buru berangkat. "Nes, pinjemin gue jaket dong ke Denis." Kata gue membuka pintu toilet sambil mengeringkan baju gue dengan tissue toilet.
Ines tidak menjawab dan hanya mengulurkan sebuah jaket pada gue. Gue melihat kaki itu bukan kaki Ines. Dia memakai celana panjang. Saat gue mengangkat wajah, gue melihat wajah Ka Arka disana. "Gak usah ka, gue bisa pinjem jaket Denis." Kata gue cuek lalu perjalan meninggalkan Ka Arka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selebgram Fall in Love
Teen FictionArkana Dwi Alexander, seorang remaja SMA yang aktif dan energik. Selain aktif disekolah sebagai wakil ketua OSIS, ia juga aktif sebagai selebgram. Dia juga banyak melakukan endorse untuk beberapa produk. Arka belum pernah merasakan jatuh cinta, ia t...
