Paginya gue bangun jam 6 pagi, setelah mandi dan berpakaian gue membuka laptop untuk melihat laporan toko yang dikirim oleh salah satu pegawai gue di Bandung. Gue juga sempat mengobrol membahas sedikit masalah toko dan urusan Jogja dengan Farhan. Anak itu pagi-pagi menelpon gue sebelum pergi ke kampus untuk bimbingan dan mempersiapkan semropnya dengan kelompoknya.
"Sukses ya Han. Sorry gue gak bisa nemenin lo semprop." Kata gue sedikit menyesal. Pasalnya Farhan selalu hadir disaat-saat penting dalam kehidupan gue di kampus.
"Selow bro, gue yang minta maaf gak bisa ikut ke Jogja." Keluh Farhan.
Gue tertawa pelan. "Pagi-pagi kenapa jadi minta maaf udah kaya lebaran ya. Yaudah lo tenang aja, urusan di Jogja gue yang handle dulu. Lo cukup berdoa Bobby gak aneh-aneh disini." Kata gue mengingat gue pergi bersama Bobby si anak ajaib.
"Siap. Tenang aja pawang Bobby kan ada si Andre." Kata Farhan nyengir.
"Iya betul. Yaudah gue mau ngecek laporan toko lagi. Semangat ya bro ke kampus hari ini." Kata gue tersenyum lalu mengakhiri telepon kami.
Gue meletakkan ponsel gue di sebelah laptop dan kembali membaca laporan. Yoga sudah bangun dan sedang mandi sekarang. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, gue keluar kamar sebentar dan pergi ke kamar sebelah untuk membangunkan Bobby dan Andre. Selesai menyuruh mereka untuk mandi dan bersiap gue pun keluar kamar hendak kembali ke kamar gue.
Gue melihat Mas Alvino sedang berbicara didepan kamar adiknya. Sepertinya ia sedang berbicara dengan adik perempuannya itu. Entah kenapa gue sedikit berharap melihat sosok adik Mas Alvino. "Bangun terus siap-siap, abis itu sarapan baru kita jalan ke kampus." Kata Mas Alvino.
"Ih Mas Vin baru juga jam 7." Kata cewek itu dengan nada malas.
Gue tanpa sadar membuat suara saat gue menutup pintu kamar Bobby dan Andre. Padahal gue sudah mencoba untuk menutupnya pelan-pelan. Mas Alvino menoleh dan cewek di depannya pun ikut menoleh ke arah gue. "Pagi Mas Alvino." Kata gue nyengir karena merasa canggung seperti orang yang ketauan mengendap-endap.
Mas Alvino tersenyum dan saat gue melihat cewek di sebelahnya. Deg. "Stela." Kata gue pelan.
Naya yang baru bangun langsung tersadar melihat gue. Dengan wajah bingung ia melihat gue dan menatap Mas Alvino denga tatapan penuh tanya. "Pagi Mas Arka." Kata Mas Alvino menyapa gue. "Oh iya nanti jam 8 kita sarapan bareng ya, selesai sarapan kita baru jalan ke cafe. Nanti tolong bilangin temen-temen Mas Arka ya." Kata Mas Alvino ramah.
Naya yang masih tak mengerti menatap gue dan Mas Alvino secara bergantian. "Oh iya lupa, ini adik saya Naya. Gak usah dikenalin kalian kayanya udah kenal kan?" Kata Mas Alvino tertawa pelan.
"Mas Vin kenapa gak bilang semalem." Kata Naya sebal sedikit berteriak.
"Lah kamu gak nanya. Yaudah ah mas mau ke bawah dulu tadi dipanggil eyang. Kamu buruan siap-siap, telat Mas tinggal." Kata Mas Alvino mengacak rambut Naya. "Mas duluan ke bawah ya mas Arka, nanti kalo udah pada rapih langsung turun aja." Kata Mas Alvino tersenyum ramah lalu turun meninggalkan gue dan Naya yang masih sama-sama terkejut.
"Hai." Kata gue tersenyum lalu menghampiri Naya, gue berusaha menghilangkan suasana canggung diantara kami.
"Hai kak." Kata Naya masih canggung.
Diam menghampiri kami berdua. Saat gue akan berbicara suara teriakan Mas Alvin menghentikan gue. "Nay cepetan mandi disuruh eyang, ngobrolnya nanti aja malu pagi-pagi belum mandi." Kata Mas Alvin usil. Gue dapat mendengar suara tawanya pelan dari atas sini.
Naya tampak kesal dengan wajah melihat ke bawah tangga. Gue tersenyum akhirnya dapat kembali melihat wajah cewek ini. Wajah yang selama ini gue rindukan. Naya tak banyak berubah, ia masih sama terlihat canti dengan rambutnya yang sekarang sedikit lebih pendek dari rambutnya yang dulu. "Buruan mandi nanti telat." Kata gue tersenyum miring lalu mengelus kepala Naya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selebgram Fall in Love
Teen FictionArkana Dwi Alexander, seorang remaja SMA yang aktif dan energik. Selain aktif disekolah sebagai wakil ketua OSIS, ia juga aktif sebagai selebgram. Dia juga banyak melakukan endorse untuk beberapa produk. Arka belum pernah merasakan jatuh cinta, ia t...
