Gue menjalani hari-hari dengan disibukkan tugas kampus seperti biasa. Terkadang gue dan Kak Arka saling bertukar kabar meskipun tidak terlalu sering. Kami sibuk dengan urusan masing-masing. Lagian Kak Arka juga sibuk dengan persiapan wisuda dan bisnisnya. Gue pun masih ragu dengan hubungan jarak jauh jika harus balikan lagi. Mungkin kondisi ini lebih baik.
Hubungan gue dan Rio pun tidak ada masalah lagi. Meskipun banyak orang yang membicarakan kami, gue tidak terlalu memikirkannya. Yang penting gue dan Rio bisa berteman seperti dulu lagi. Tak sedikit orang mengira gue dan Rio sudah balikan apalagi kami sering terlihat bersama karena mengerjakan tugas Pak Wanto.
Siang itu selesai kelas gue janjian dengan Rio seperti biasa. Saat gue akan pergi menemui Rio, Panji menahan gue. Gue mengerutkan kening tak mengerti dengan sikap Panji yang aneh siang itu. "Gue boleh ngomong sebentar gak Nay sama lo?" Tanya Panji.
"Hmm, tapi gue gak bisa lama-lama udah janjian sama Rio." Kata gue melihat jam di tangan gue. Masih ada 10 menit dari waktu janjian kami.
"Gak masalah." Kata Panji tersenyum.
Gue berjalan mengikuti Panji duduk di lobby luar fakultas. Untungnya Rio mengabarkan bahwa ia akan sedikit terlambat siang itu. "Mau ngomong apa Nji?" Tanya gue bingung.
"Lo balikan ya Nay sama Rio?" Tanyanya ragu.
"Hah? Gak kok, kenapa emang?" Tanya gue bingung.
"Syukur deh. Tapi kenapa lo deket sama Rio sekarang?" Tanya Panji seakan meminta penjelasan dari gue.
Gue menghela nafas pelan. Sepertinya gue harus meluruskan semuanya ke Panji jika gue tidak pernah menganggap Panji lebih dari teman. "Gue sama Rio emang gak balikan tapi bukan berarti gue gak boleh deket sama Rio lagi kan?" Kata gue.
"Tapi Nay, Rio itu cowok gak bener. Jadi menurut gue lo lebih baik jangan deket-deket sama dia." Kata Panji melarang gue.
"Plis deh Nji, gue kenal Rio bukan baru sehari dua hari, gue kenal dia dari awal masuk kampus ini jadi gue lebih tau Rio dibanding lo." Kata gue tak suka Panji menjelekkan Rio. "Lagian lo kan gak ada hak ngelarang gue deket sama siapa aja." Kata gue tak suka.
"Tapi dia gak seperti yang lo pikir Nay. Gue emang bukan siapa siapa lo tapi gue sayang sama lo Nay. Gue gak mau lo kenapa-kenapa." Kata Panji tulus.
"Nji gue bisa jaga diri gue. Rio itu gak seperti yang lo pikirin. Dia punya alesan sendiri kenapa kemarin dia begitu. Dan sorry gue cuma nganggep lo temen selama ini gak lebih." Kata gue menolak Panji.
"Apa gue gak bisa dapet satu kesempatan Nay?" Tanya Panji lirih.
Gue terdiam melihat Panji, tapi gue juga tidak mau memberikan harapan palsu kepada Panji. "Sorry Nji, tapi gue gak bisa." Kata gue menyesal. "Gue harap kita bisa jadi temen aja seperti biasa." Kata gue menyesal lalu pergi meninggalkan Panji.
Tak lama Fian muncul menghampiri Panji, ia merangkul Panji dan mengajaknya pergi ke kantin. "Kan udah gue bilang bro. Hati Naya udah ada yang punya dan itu bukan Rio. Yuk ke cafe seberang gue traktir." Kata Fian menyemangati Panji.
Gue menghampiri Rio yang sedang berjalan menuju fakultas gue. Kami pun akhirnya memutuskan untuk makan siang dulu ke kantin kampus sebelum pergi ke perpus. "Sorry ya tadi gue di panggil dosen dulu." Kata Rio saat kami sedang menuju kantin.
"It's okay Yo. Gue tadi juga belum terlalu lama." Kata gue tersenyum. "Btw udah dapet laporan yang mau kita analisis?" Tanya gue mengingat Rio berjanji akan mencari laporan untuk tugas kami.
"Udah dong, dapet dari abang gue. Btw gue laper nanti aja ngomongin tugasnya." Kata Rio sambil melihat menu disana.
Kami berdua memesan makanan dan duduk di meja yang masih kosong. Siang itu karena jam makan siang kantin tampak ramai. Gue dan Rio berbicara mengenai berbagai hal. Rasanya seperti kembali saat kami berteman dulu. Tak ada rasa canggung sama sekali. Sepertinya tugas ini akan berhasil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selebgram Fall in Love
JugendliteraturArkana Dwi Alexander, seorang remaja SMA yang aktif dan energik. Selain aktif disekolah sebagai wakil ketua OSIS, ia juga aktif sebagai selebgram. Dia juga banyak melakukan endorse untuk beberapa produk. Arka belum pernah merasakan jatuh cinta, ia t...
