Pagi itu gue bangun dan keluar kamar. Perut gue sudah berbunyi minta diisi, akhirnya gue cuma cuci muka dan gosok gigi lalu turun ke bawah. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, tetapi suasana rumah masih sepi. Dengan masih mengenakan piyama, gue berjalan menuju halaman depan melihat Bunda yang sedang menyiram tanaman didepan rumah.
"Bund, aku laper." Kata gue menghampiri Bunda duduk di bangku depan.
"Ya ampun, anak Bunda bukannya mandi baru turun." Kata Bunda menggelengkan kepalanya.
Gue hanya tertawa kecil. "Ayah mana Bun?" Tanya gue sambil memeluk kaki.
"Lagi lari pagi keliling komplek." Kata Bunda masih menyiram tanamannya.
Gue menghela nafas pelan. Tak lama gue mendengar suara Ayah yang mendekat. Sepertinya Ayah sedang berbicara dengan seseorang. Karena penasaran gue pun menghampiri Bunda untuk mengintip Ayah.
"Mampir dulu Pak Ray, Nak Arka." Kata Ayah yang sudah berdiri di depan rumah.
Gue melihat Ayah berdiri dengan Ka Arka dan seorang pria sepantaran Ayah. Belum sempat gue mencerna kejadian pagi itu, suara Bunda sudah menyadarkan gue. "Eh ada Nak Arka, lagi lari pagi juga ya sama Ayahnya? Gak kaya anak Bunda nih baru bangun." Sapa Bunda sambil tersenyum.
Ketiga laki-laki itu menoleh ke arah gue dan Bunda. Ka Arka tertawa kecil melihat gue, sedangkan pria yang berdiri disebelahnya hanya tersenyum. "Anak gadis bukannya abis bangun langsung mandi." Kata Ayah heran. Gue yang refleks menjadi pusat perhatian pun langsung bersembunyi di belakang Bunda.
"Pagi Tante. Pagi Nay." Sapa Ka Arka sambil tersenyum. Bunda pun tersenyum membalas sapaan Ka Arka.
"Kami langsung pamit ya Pak Ardi, kasian Mamanya sama adik-adiknya Arka udah nunggu di rumah." Kata Om Ray, papanya Ka Arka.
"Iya Pak Ray, kapan-kapan mampir aja kalo lewat sini jangan sungkan." Kata Ayah ramah.
Ka Arka melihat gue yang mengintip dari belakang Bunda. Dari bahasa isyarat yang ia berikan Ka Arka bilang jangan lupa sarapan sama mandi biar wangi. Kemudian cowok itu pun memamerkan senyumannya. Ka Arka selalu tau bagaimana mengeluarkan pesonanya.
"Bunda setuju kok kalo pacar kamu kaya Arka." Kata Bunda berbisik pelan saat Ka Arka dan Papa nya sudah pergi menjauh.
"Bunda ih.." kata gue salting lalu pergi menghampiri Ayah. "Ayah ayo sarapan, Naya laper." Kata gue dengan manja.
Ayah pun hanya tersenyum melihat tingkah gue. "Besok mandi dulu sebelum keluar, malu kan ketauan belum mandi." Kata Ayah mengacak rambut gue.
"Ih Ayah sama Bunda sama aja. Yaudah aku sarapan duluan aja." Kata gue malu dan bergegas masuk menuju meja makan. Bunda dan Ayah hanya menggeleng melihat tingkah gue, mereka pun masuk menyusul gue.
Arka Pov
Pagi itu gue lari pagi dengan Papa, dan tak sengaja gue ketemu dengan Ayahnya Naya. Sebenarnya bukan kali ini kami bertemu, bahkan Papa sudah kenal dengan Om Ardi, Ayahnya Naya. Katanya mereka sering lagi pagi bersama, kadang Daddy juga ikut lari bersama mereka. Sebenarnya bukan hal yang aneh apalagi kami berada di komplek yang sama.
Sebelum pulang kami melewati rumah Naya, saat Om Ardi menawarkan mampir tanpa sengaja gue melihat Naya berdiri di dekat Bundanya. Masih dengan mengenakan piyama teddy bear nya, ia tampak sangat menggemaskan pagi itu. Karena malu ia pun bersembunyi dibelakang Bundanya.
"Anaknya Pak Andi cantik juga ya bang?" Kata Papa saat kami sudah menjauhi rumah Naya.
"Hehe iya, papa mau gak punya mantu kaya Naya?" Tanya gue sambil tertawa pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Selebgram Fall in Love
Roman pour AdolescentsArkana Dwi Alexander, seorang remaja SMA yang aktif dan energik. Selain aktif disekolah sebagai wakil ketua OSIS, ia juga aktif sebagai selebgram. Dia juga banyak melakukan endorse untuk beberapa produk. Arka belum pernah merasakan jatuh cinta, ia t...
