"LIAT GUE!"
laki-laki yang tadinya gemetar itu mendadak beku, sementara kedua tangan teman perempuannya melekat erat dipipinya.
"lo sempet megang dia?"
laki-laki itu menggeleng.
"barang buktinya dimana?"
laki-laki itu menjawab pelan hampir berbisik.
"lo balik ke sekre ganti baju, bersih-bersih, di ransel gue ada tissu basah ada sanitizer juga, jangan lupa dipake, habis itu semuanya kumpulin disatu tempat. kalo udah selesai tunggu gue di sana jangan kemana-mana, pastiin gak ada yang liat. oke?"
Kino malas kalau udah begini, nungguin Kana adik kembarnya yang selalu bangun terlambat.
"LIMA MENIT LAGI GAK KELAR JUGA GUE TINGGAL" teriak Kino dari dapur
gak lama kemudian suara langkah menuruni tangga terdengar, terlihat Kana yang masih repot menguncir rambut.
"kebiasaan, udah ntar dikampus aja gue rapihin" ujar Kino lalu menarik kembarannya ke garasi.
Kana masuk ke dalam mobil, gilirannya untuk menyetir karna ruangan kelasnya agak jauh dari Kino hari ini.
"oya, ntar mobil gue anter ke elo soalnya gue mau nginep"
Kino kaget, secepat itu?
"hari ini banget?" tanya Kino, dan sebuah anggukan dia terima sebagai jawaban.
Kana kelihatan senang, senyumnya mengembang sempurna. Harusnya Kino ikut senang, enam bulan berlalu sejak kematian adik mereka yang sedikit banyak membuat Kana kehilangan semangat. Kematian yang sampai saat ini belum menemui titik terang soal siapa pelakunya.
"udah ada di belakang, tenang aja" kata Kana, seakan dia tau kalau Kino akan bertanya.
Perjalanan ke kampus dihiasi keheningan, tidak ada yang buka suara kecuali radio yang senang membacakan berita pembunuhan berantai yang belakangan meresahkan kota.
"lagi-lagi korbannya merupakan pria berusia 20 tahun, melihat dari cara pelaku menghabisi para korban polisi memperkirakan motiv pelaku adalah kebencian terhadap kaum pria..."
Tak terasa mobil Kino memasuki pelataran kampus, Kana berbelok ke kiri menuju fakultas hukum, lalu berhenti di depan gedung A.
"ntar sebelum kesini kabarin dulu" pesan Kino sebelum turun dari mobil.
Kana mengangguk, merentangkan tangannya lebar-lebar hingga Kino memeluknya erat.
"gue suka banget parfum lo"
Kino tertawa pelan "yaudah ntar gue kasih"
Pelukannya terlepas dan Kana menggeleng "gue sukanya kalo elo yang pake"
"jijay!" Kino malah memukul pelan kepala Kana lalu turun dari mobil "dah sana, hati-hati"
Tanpa membalas ucapan Kino, Kana melanjukan mobilnya menuju gedung mata kuliah umum karna pagi ini Kana ada kelas English Advance.
Begitu turun dari mobil, setiap orang akan menyapa Kana, memberi gadis itu senyum terbaik. Kenapa tidak? Dia itu Kanaya, cewek cantik berkepribadian menarik yang belakangan menghiasi majalah populer dan website fakultas hukum bersama kembarannya. Walaupun tidak sepintar Kino, tapi Kana berprestasi di bidang lain seperti debat juga figure skating yang dia tekuni sejak kecil.
"hei cantik"
Kana membalas sapaan Daren dengan senyuman, lalu memeluk lengan kekar laki-laki yang gencar mendekatinya sejak dua minggu lalu itu.
