Seven (7)

46.7K 4.9K 127
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



***

'Sungguh sangat membagongkan' itulah yang ada di pikiran Estrella. Setidaknya bolehkah ia membakar lelenya terlebih dahulu. Orang yang mehadangnya memang belum tau ya jika Estrella sedang lapar? Menangis juga butuh tenaga dude, kau harus tau itu.

'ya tuhan, kalo gitu gue milih jadi mermaid ajalah tadi biar kagak ketemu orang-orang macem hama tanaman yang kagak ada habisnya. Tadi ketemu bajing*an satu sekarang ketemu bajing*n dua. Udah lah gue Mao pulang aja.'

Lele yang hanya ada 5 ekor termasuk yang masih piyik diambil oleh Alden dan dia menyuruh pengawal untuk  membuangnya. Setelah itu Alden menatap tajam Estrella dengan mata birunya. Belum sempat melayangkan ucapannya mata Alden malah terbelalak mendapatkan adiknya yang sangat 'kekanakan?' mungkin kata itu yang terlintas di pikirannya.

Bagaimana tidak, saat ini Estrella sudah menangis tersedu-sedu ditanah dengan pakai kotor, badan yang bau amis dan seperti bocah TK yang jajan tapi saosnya muncrat kemana-mana.

"Lele ku, lele hiks jangan dibuang. Ibu, aku mau lele. Lele lele lele lele leleeeeeeeee hueeeeeeeeee lahan bisnis ku. Aku ingin lele ku kakak." Oke ini sedikit aneh, karena ternyata Estrella refleks mengucapkan kata kakak pada Alden. Selain itu ia juga berbicara non formal dengan menggunakan kata 'aku' Seketika menutup mulutnya.

Alden juga membeku, ternyata adiknya masih memanggilnya kakak, selain itu ia juga menyebut ibunya. Dan entah kenapa ia seperti merasa sakit saat Estrella mencoba menutup mulutnya sendiri seakan-akan jika ia salah bicara ia akan dihukum mati. Hukuman mati? Oh apakah itu akan terlaksana? Apakah jika Estrella di eksekusi ia tidak akan bisa melihat pemandangan seperti ini lagi? Pemandangan saat adiknya bermain layaknya anak kecil dan tidak bertingkah seperti preman yang terus menyakiti para maid atau membuat kerusuhan yang memalukan untuk keluarga.

"Hei berhentilah menangis bocah. Mengapa hanya karena ikan kecil kau menangis seperti itu. Kau putri bangsawan, kita mempunyai banyak uang, mengapa kau malah membuat dirimu bersusah payah? Sekarang kembalilah ke kamarmu dan bersihkan diri. Jangan berpikiran untuk kabur, karena jika kabur mungkin eksekusimu akan dipercepat."

Estrella semakin menangis, dia bahkan sampai cegukan. 'heleh kalo eksekusinya dipercepat malah bagus, gue disini mau makan lele sama mau hidup bebas aja susah amat. Berasa tinggal dalem bui aja.'

"Ka..cguk (suara cegukannya Estrella)..lau begitu, bolehkah kakak bilang kepada putra mahkota untuk....cguk... Mempercepat putusannya. Aku muak, aku lelah dan aku ingin makan lele itu hueeeeeeeeee.... Setidaknya izinkan Estrella untuk memakan ikan itu sebelum eksekusi."

"Aku ingin lele itu hiks, biarkan aku memakannya. Aku ingin hidup bebas, aku ingin bersama keluarga yang menyayangiku, aku juga ingin mempunyai banyak teman yang mendukung ku. Aku... Hiks... Aku..." Air mata Estrella sepertinya sudah sulit untuk mengalir. Bahkan matanya sangat bengkak dan berwarna merah karena terlalu banyak menangis.

"Aku ingin ibu, apakah dengan bertemu ibu, aku bisa membuat kakak dan davian senang. Kalau begitu lakukan sekarang, aku akan bertamu ibu detik ini juga. Aku ingin ibu... Aku ingin ibu... Ibu tidak akan mengatai ku sialan, brengsek dan juga tidak tau diri seperti kalian mengatai ku. Aku akan bertemu ibu saat ini dan membuat kalian puas." Estrella langsung mengambil pedang milik Alden yang kebetulan disarungkan pada samping celananya. Ia mengarahkan pedang itu pada pergelangan tangannya. Entah kenapa ia malah memikirkan ibu dari Estrella ini. Mungkin nanti akan ada saatnya ia bertemu dengan ibunya lewat mimpi. Ingat, ini dunia novel apapun bisa terjadi.

'gue kalo mati disini balik ke dunia gue apa ke akhirat ya? Masalahnya dosa gue banyak nih, kalo masuk neraka kagak lucu juga. Tapi kalo belum di coba mana tau kan ya?'

Alden tidak mencoba menghadang atau lebih tepatnya ia diam dan ingin melihat apakah Estrella melakukan gretakan yang sudah sering ia lakukan untuk mendapatkan perhatiannya.

Estrella sungguh melakukan itu, tangannya mulai berdarah dan mungkin kesadarannya akan menghilang. Tentunya Dinda pameswari tak akan berbicara omong kosong bukan seperti Estrella asli yang mungkin sekarang hanya main-main. Lagian ia sekarang kan sedang mencoba apakah ia kembali ke duniany atau ke akhirat. Daripada penasaran kan ya.

Alden membelalakkan matanya saat adiknya ternyata nekat hanya karena seekor ikan. Mungkin lebih tepatnya karena frustasi dengan hidupnya. Alden langsung saja merebut pedang itu, bahkan pengawal disekitar Alden meringis mendapati sang putri yang sangat mengenaskan saat ini.

Alden langsung saja menutup pergelangan tangan yang disayat oleh Estrella tadi dengan sapu tangannya.

"Apa kau gila. Berhenti menyakiti dirimu sendiri. Kalau kau ingin mati setidaknya tunggu putusan putra mahkota. Jangan bertindak menyebalkan seperti ini." Alden sebenarnya khawatir terjadi apa-apa dengan adiknyatapi mulutnya berkata lain. Sebagai kakak, ia tidak bisa begitu saja membenci adiknya. Ibunya meninggal karena takdir dan bukan karena adikknya. Tapi ia seakan tidak mampu untuk bersikap baik pada Estrella, seakan-akan jika Estrella tidak ada mungkin ibunya masih bersamanya saat ini.

Tapi itu sudah terjadi dan terlambat untuk di sesali. Jadi mengapa ia masih bersikap buruk pada adiknya? Itulah yang ada di pikirannya saat ini.

Didepannya Estrella sudah mulai kehilangan kesadarannya. Dan terdengar gumaman " selamat tinggal kakak."

Tidak, ini tidak boleh terjadi. Setidaknya bukan saat ini. Alden segera menggendong Estrella menuju istana dengan berlari.

"Panggilkan dokter istana. Cepat." Perintah Alden pada pengawalnya.

Saat sudah memasuki istana menuju kamar Estrella dengan berlari. Kebetulan ia bertemu Duke yang sedang berbicara dengan Joe.

Duke yang melihat anaknya berlari dengan menggendong putri bungsunya langsung saja menghampirinya.

"Kenapa dengan Estrella? Apa yang kau lakukan padanya?" Tanya Duke mengikuti arah Alden yang menggendong Estrella ke kamarnya.

"Ia mencoba bunuh diri. Dan terus berbicara tentang ibu. Aku tidak melakukan apapun padanya." Jawab singkat Alden. Alden ini memang tipe-tipe kakak pertama yang mulutnya berfungsi jika ada yang bertanya. Belum lagi sifatnya seperti beruang kutub.

'tidak melakukan apa-apa? Wah gue berasa ketemu phsycho.' Estrella masih bisa membatin, karena saat ini kesadarannya berada di 5%.

Duke melihat Estrella dari atas sampai bawah. Penampilannya kotor, matanya bengkak, dan pergelangan tangannya tersayat cukup dalam.

"Panggilkan dokter istana." Duke lalu memegang pergelangan tangan Estrella.

Apakah anaknya selama ini sangat menderita. Apakah sikapnya selama ini salah pada anaknya? Mengapa ia merasa sangat sakit saat melihat keadaanya Estrella yang mengenaskan saat ini.














Apakah ia harus berubah?










Apakah ia harus berubah?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
IMPRESSIVE TRANSMIGRATION (Fate : change the story line)  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang