Thirty (30)

26.2K 2.7K 358
                                        

Halooo alohaa mochi comeback gaes

Jangan lupa ibadah sama protokol kesehatan oke

Tugas lagi banyak amat, kagak bisa keitung dah... Jadi up nya agak2 telat...

Btw mochi up itu biasanya tengah malem ya, biasa ngalong wkwkwk

Yaudah happy reading ❤️


****

"Hey kak kita harusnya belok kiri." Davian menyerukan pandangannya pada Alden.

"Tidak, kita kekanan. Firasat ku mengatakan kita harus belok ke kanan." Kekeuh Alden menentang pandangan davian.

"Yang benar lurus nak. Karena lurus itu jalan yang benar." Duke langsung saja memotong pembicaraan keduanya.

Memang sekarang duke, Alden, davian, Sean beserta 200 pasukan sedang menuju ke kerajaan region. Tapi di persimpangan jalan mereka kebingungan dan malah berdebat mengenai jalan yang dipilih.

"Kanan ayah. Ayah harus percaya padaku." Percaya diri davian kali ini mulai merajalela.

"Kakak bilang kiri davian. Firasatku tidak pernah salah." Sombong Alden.

"Lurus anak-anak. Kalian harus percaya pada yang lebih tua." Ucap Duke dengan wajah dingin pada anaknya.

"Iya, tua. Tua Bangka." Cicit davian. Sedangkan Alden hanya melotot pertanda kaget dengan apa yang diucapkan sang adik.

"Davian?" Panggil Duke pada davian dengan mencurigakan.

Suara sirine rasanya mulai muncul di kepala davian.

'oh tidak, gorila mengamuk.' batin davian berteriak ketakutan.

Saat Duke mulai memanggil anaknya dengan nada bertanya, itu artinya siaga satu. Sekali lagi ucapan mereka salah, mungkin mereka akan diterkam oleh peliharaannya.

"A-aku bilang tadi ayah tampan berkarisma kok. I-iya kan kak?" Mata davian mengkode Alden Agara mengiyakan alasan bohongnya. Tapi sepertinya Alden tidak ingin membelanya hari ini.

"Tidak, tadi davian bilang ayah tua Bangka." Smirk Alden terbit di bibirnya. Oh semenyenangkan ini melihat adiknya melotot dan memampangkan wajah memelas? Mungkin lain kali iya akan sering menggoda davian.

"Ka-kauuu...." Davian hanya bisa pasrah saat sang ayah sudah ada pada mode gaharnya.

"Kau. Akan. Menerima. Hukumanmu. Bersama Joe. Setelah. Kita. Pulang." Duke mengatakan setiap patah kata dengan penekanan dan intimidasi pada sang anak. Habisnya dia masih terlihat seperti abege imut-imut kenapa dikatai tua Bangka. Sialan sekali bukan punya anak seperti itu?

"Ta-tapi yah, ak....... Baik kuterima. Ayah memang menyebalkan." Davian bersidakep sambil melirik sebal sang ayah. Lagi-lagi ia jadi korban kegabutan Duke.

Beralih pada tiga orang yang bercakap-cakap, dibelakang merek sang putra mahkota memasang raut wajah sebal dan jengah melihat dan mendengarkan percakapan yang sungguh setitikpun tidak ada faedahnya. Sedangkan bocah kecil di samping Duke dari tadi ingin rasanya memukul orang-orang itu karena membuang-buang waktunya.

"Ehm... Sampai kapan kalian akan berdebat? Tugasku bahkan sudah menumpuk di ruang kerja. Kita harus bergegas." Ucap Sean dengan nada yang agak menusuk.

"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya yang mulia putra mahkota. Anak saya otaknya tertinggal di rumah jadi seperti ini. Kalau begitu mari kita mengambil arah lurus yang mulia." Ucap Duke dengan tangan yang menunjukkan arah lurus.

"Izin menyela yang mulia putra mahkota, sebaiknya kita ambil kiri saja." Alden masih berpegang pada firasatnya.

"Jangan yang mulia, mereka sesat. Lebih baik ke kanan." Davian menyerukan pendapatnya Tidak mau kalah dengan sang ayah dan sang kakak.

IMPRESSIVE TRANSMIGRATION (Fate : change the story line)  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang