XXVIII. Musim Panas yang Kacau

179 27 8
                                    

Minggu, 25 Mei

"Eh kak Vino." sapa Karen saat membuka pintu rumahnya.

"Kakak lo ada?" tanya Vino tanpa basa-basi.

"Ada tuh di dalem kamar."

"Lagi sakit dia? 2 hari ini gak ada kabar, bahkan chat aja kagak bales."

"Tauk..." Karen mengangkat kedua bahunya. "Semenjak habis jalan sama kak Ivan, dia ngurung diri di dalam kamar mulu."

"Loh, dia jalan sama Ivan?! Kapan?" tanya Vino terkaget mendengar informasi yang baru saja ia dengar.

"Kak Vino gak tau?" tanya Karen dan dijawab gelengan kepala oleh Vino. "Pantes aja dia aneh. Hari Jumat kak Ivan ke sini jemput kakak mau ke Pekan Raya, aku kira bareng kak Vino sama kak Dyo."

"Hmmm kalo gitu gue boleh masuk gak? Biar gue ngomong sama kakak lu."

"Ya masuk aja kak." Karen mempersilahkan Vino untuk masuk. "Tapi gak janji ya dia mau buka pintu. 2 hari ini dia cuma keluar kamar kalo gak mau makan ya mau ke kamar mandi doang."

"Iya gue ngerti, biar gue coba dulu."

Vino kemudian berjalan ke kamar Rachel yang berada di lantai 2 rumah ini. Vino sebenarnya memang sudah sering main ke sini, karena memang rumahnya hanya berjarak 5 rumah dari sini.

Sesampainya ia di depan kamar Rachel, Vino langsung mengetuk pintu kamar itu.

"Hel... ini gue Vino. Lo 2 hari ini kenapa? Gue sama Dyo khawatir karna lo gak bales chat dari kita berdua."

Namun tak ada jawaban dari dalam.

"Ayo Hel, kalo ada apa-apa cerita aja ke gue. Kata adek lo, kemaren lusa lo jalan ya sama Ivan?"

Vino terdiam sejenak, menunggu reaksi dari dalam kamar, namun masih nihil. Saat ia mau kembali mengetuk pintu kamar tersebut, pintu itu telah terbuka terlebih dahulu.

"Astaga lo kenapa?" Vino terkaget melihat keadaan Rachel yang terlihat kusut dan payah.

"Masuk dulu, gue bakal cerita."

Vino kemudian masuk ke dalam kamar dan duduk di lantai.

"Gila lo kenapa sih?" tanya Vino khawatir.

"Ya yang kayak lo bilang tadi...."

"Lo diapain Ivan sampe jadi gini?! Kurang ajar bener dia, kudu dikasih pelajaran!!" Vino terlihat emosi.

"Dia gak salah kok."

"Udah Hel, lo gak usah ngebelain dia! Kalo emang dia udah nyakitin lo sampe begini, berarti emang udah bener kalian berdua putus dari dulu!! Kurang ajar emang sok-sokan pengen ngajak balikan segala pula!!!"

"Enggak Vin, ini emang salah gue. Justru gue yang udah nyakitin dia."

"Maksud lo gimana?"

"Lo inget kan waktu kita rame-rame di kafe terus gue tiba-tiba pulang? Karena dengerin omongan kalian yang rencana ke Pekan Raya, akhirnya gue mutusin buat ngajak Ivan ke sana."

Kemudian Rachel menceritakan secara detil kepada Vino bagaimana ia merasa bahagia bisa berkencan bersama Ivan di Pekan Raya itu. Rachel pun menjelaskan kepada Vino jika pada momen itu, ia berpikiran dan sangat ingin kembali menjalin hubungan dengan Ivan, sebelum kemudian Nadila datang dan Rachel justru menghancurkan semuanya.

>><<

"Jadi lo udah bikin dia kecewa karna lo lebih milih Nadila dibanding dia, tapi dia tetep nawarin buat nganterin lo pulang?" tanya Lidyo keheranan. Sehabis mendengar cerita dari Rachel, Vino langsung meminta Lidyo untuk menyusul dan dia juga mendengar cerita soal kejadian 2 hari yang lalu.

Cinta RemajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang