LV. Selamanya Pressure

110 19 4
                                    

Minggu, 27 Juli

Rachel dan Lidyo berada di sekolah pada hari Minggu seperti ini bukan karna mereka rajin, tapi karna mereka sudah ada janji untuk berkumpul di sini lebih dahulu. Namun mereka nampak kebingungan karna sosok yang katanya sudah ada di Sekolah ternyata tidak nampak batang hidungnya di tempat yang dijanjikan.

Rachel kemudian melihat ke arah ruang musik yang terlihat lampunya menyala, yang menandakan ada penguhuninya di dalam situ. Tanpa perlu berlama-lama pun ia langsung berjalan ke ruang tersebut karena ia yakin orang yang sudah janjian dengan dirinya ini ada di tempat itu. Lidyo yang melihat ke arah mana Rachel berjalan pun mengikutinya karna juga berpikiran hal yang sama.

"Nah kan bener." ucap Rachel saat membuka ruang musik. "Ditungguin juga daritadi, ternyata di sini."

Di dalam ruangan tersebut nampak ada 3 orang yang sedang fokus mendengarkan sebuah rekaman lagu.

"Eh Rachel, nungguin ya?" tanya Nadila yang tentunya tidak perlu dijawab.

"Astaga kalian masih aja mau review lagu kalian?" tanya Lidyo saat menyadari apa yang dilakukan oleh Nadila, Rona, dan juga Frans.

"Iya nih, mumpung masih belum dikirim dan ada waktu sebelum deadline."

"Percaya sama gue, hasil dari rekaman kalian udah bagus." lanjut Lidyo.

Iya, setelah mendapat pinjaman dana, Nadila dan juga Rona, Frans, serta Aurel langsung rekaman demo lagu yang nantinya mereka ikutsertakan dalam kompetisi band. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya lagu mereka sudah selesai direkam dan siap dikirimkan, namun keempatnya masih terus menerus me-review agar hasilnya sempurna.

"Ya gakpapa dong review terus. Lagian kami gak mau bikin kalian yang udah percaya dan kasih pinjem kami uang gak kecewa." jelas Nadila.

"Gak perlu sempurna, yang penting karya kalian udah jadi itu cukup kok. Gue juga udah dengerin dan suka." ucap Lidyo.

"Tapi..." Nadila yang memang selalu memikirkan semuanya dengan matang dan sebisa mungkin sempurna pun tentu tidak pernah merasa puas.

"Udah kalian jangan terlalu mikirin ini deh, mending kita semua langsung berangkat sebelum telat. Lagian kan ini Aurel yang mau kompetisi loh, gimana sih kalian ini malah sibuk sendiri!"

"Bener kata Dyo, hasilnya udah bagus kok dan gue yakin kalian bakal lolos seleksi. Sekarang mendingan kita nonton dan kasih semangat Aurel dan Dance Project aja."

Nadila, Rona, dan Frans pun saling berpandangan dan mereka setuju untuk segera ikut ke tempat Kompetisi Dance SMA tingkat Nasional.

Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk bisa sampai ke Stadion Gelora Bung Karno tempat kompetisi Dance itu dilaksanakan. Di tempat itu sudah dipenuhi penonton yang terlihat antusias, dan banyak juga yang berasal dari luar kota dan luar provinsi yang bisa didengar dari beragam logat saat mereka berbicara.

Maklum saja ini adalah salah satu kompetisi bergengsi yang ada di tingkat SMA, jadi semua nampak antusias mendukung kelompok favorit mereka atau sekadar melihat aksi yang menarik.

"Eh gue mau beli minum dulu deh sebelum masuk. Kalian ada yang nitip gak?" tanya Rachel.

"Kagak deh, gue langsung masuk aja. Melody udah nungguin daritadi, kasian dia jadi nyamuknya Vino, Shani, Frieska, sama Naomi." ucap Lidyo.

"Gue juga langsung masuk aja deh." ucap Rona.

"Gue juga kak, Gre bilang udah sama temen-temen di dalem." ucap Frans.

"Kalian duluan aja kalo gitu, aku nemenin Rachel beli minum dulu."

Lidyo, Rona, dan Frans mengangguk lalu masuk menuju tempat kompetisi.

Cinta RemajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang