Senin, 7 Juli
Liburan musim panas telah usai, anak-anak sekolah mulai kembali masuk dan mengikuti semester baru, tak terkecuali murid SMA Eno 48 Jakarta. Selama musim panas, banyak cerita yang terangkai; mulai dari cinta yang bersemi, cinta yang kandas, kebahagiaan, kesedihan, atau hanya berjalan biasa saja tanpa sesuatu yang menarik.
Semua itu tidak masalah, tidak perlu ada yang disesali atau terlalu dibesarkan. Kita hanya mati sekali dan menjalani hidup setiap hari, dan kehidupan pastilah ada yang naik, turun, atau standar biasa saja.
"Kalian udah siap kan?" tanya Mama Laura saat telah sampai di depan SMA Eno 48 Jakarta.
Vino dan Febi hanya mengangguk, karena memang mau tidak mau mereka harus siap.
"Mama ngerti pasti nanti banyak temen-temen atau bahkan mungkin guru kalian yang nanya-nanya soal Papa, apalagi kalian berdua ini kan ketua kelas. Kesel sih pasti dan bakal nambah kesedihan kalian, tapi mama minta kalian tetep sabar jawab pertanyaan mereka ya."
Lagi-lagi kedua anaknya itu hanya terdiam dan mengangguk.
"Kalo kalian udah mulai kesel dan gak mau jawab lagi soal Papa, bilang aja ke Dyo, Rachel, Nadila, Rifa, atau Dey. Semalem mama udah minta tolong mereka, pasti mereka ngerti dan mau bantu kalian.
"Iya ma." jawab Vino dan Febi hampir serentak.
"Yaudah sana kalian masuk. Eh iya nanti mama gak bisa jemput ya, mau ada urusan soalnya." ucap Mama Laura.
Setelah bersalaman kepada mama Laura, kedua kakak adik ini langsung turun dari mobil dan memasuki sekolah mereka. Langkah keduanya begitu berat, karena memang rasanya masih belum siap untuk menghadapi semua.
Ya beginilah, kadangkala keluarga yang ditinggalkan merasa berat bukan hanya karena telah ditinggalkan orang yang dicintai, tapi juga karena lelah menjawab pertanyaan orang-orang lain. Atas nama bersimpati, seringkali tanpa sadar orang-orang menanyakan kabar dan seputar kematian tersebut justru menambah sakit dan beban bagi keluarga yang ditinggalkan.
Okelah jika memang kita mau membantu untuk benar-benar melupakan kesedihan dan luka yang dialami, tapi jika itu hanya untuk sekedar kepo atau memenuhi kepuasan diri sendiri agar tahu segalanya, mending ditahan saja dibanding membuat keluarga korban lebih susah untuk move on.
Saat sudah sampai di depan kelasnya, Febi pun berdiam sejenak sambil mengambil nafas panjang untuk menguatkan mentalnya. Saat sudah merasa siap ia pun akhirnya masuk kelas, namun ternyata baru ada seorang murid lain saja yang ada di kelas.
"Febiiii, gimana kabar kamu?" ucap murid bernama Fiony itu yang langsung memeluk Febi.
"Udah agak lumayan kok." ucap Febi setenang mungkin.
"Chat aku gak pernah dibales, di grup juga kamu cuma bales seadanya."
"Emang lagi gak terlalu minat buka dan baca chat." ucap Febi jujur.
"Aku ngerti sih."
"Lo sendiri gimana? Udah jelas masalahnya sama...."
"JANGAN SEBUTIN NAMA DIA DI DEPAN AKU!" potong Fiony dengan sedikit berteriak.
Tentu hal ini membuat Febi kaget, karena ia tidak menyangka ternyata Fiony bisa seperti ini.
"Sorry." ucap Febi merasa tak enak atas ucapannya yang membuat Fiony seperti ini.
"Aku tau kalo kamu gak suka kalo banyak yang nanyain soal papa kamu, jadi kamu jangan nanyain soal orang itu ya ke aku." ucap Fiony. Tentu "dia" yang dimaksud ini bukan Papa Basuki, tapi mantan kekasih Fiony.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Remaja
RomanceNadila, seorang siswi SMA asal Bogor rela pindah ke Jakarta supaya lebih dekat untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang diplomat dan juga musisi. Di SMA Eno 48 Jakarta inilah kisah barunya dimulai, bertemu dengan orang-orang baru yang mengajarkan d...