Sabtu, 13 September
"Permisiiiiii."
Mendengar suara bel serta teriakan dari arah luar rumahnya, Febi langsung bangkit dan berjalan keluar.
"Benar ini rumah Ibu Laura?" ucap seseorang yang berpakaian seperti kurir itu.
"Bener bang."
"Ini paket pesanan Ibu Laura." kurir tersebut langsung memberikan paket tersebut kepada Febi. "Tanda tangan di sini juga sebagai tanda terima.
Febi membaca sebentar untuk memastikan bahwa itu memang benar paket untuk mamanya dan kemudian menandatangani tanda terima itu.
"Oke kalo begitu terima kasih sudah mempercayakan kepada kami. Permisi."
"Makasih juga bang."
Kurir tersebut lalu pergi meninggalkan rumah Febi dan Febi pun langsung kembali masuk kedalam rumahnya.
"Rip bentar ya, ada paket buat Mama nih. Lo kalo mau lanjut, ya lanjut aja nanti gue nyusul." ucap Febi kepada Rifa yang sedang ada di ruang tamu rumanhnya ini.
"Gak deh aku nungguin aja."
Febi pun mengangguk lalu naik ke atas menuju kamar mamanya.
"Ini ada paket buat Mama." ucap Febi sambil menyerahkan paket yang tadi ia terima.
"Kamu beli buat mama?" tanya Mama Laura.
"Loh bukannya Mama yang beli?" Febi malah heran dan tanya balik.
"Seinget mama sih enggak." ucap Mama Laura sambil melihat paket yang ada di tangannya itu. "Mungkin kakak kamu kali ya?"
"Tapi bukannya Mama yang sering beli di situ ya? Tadi juga yang nganter bukan kurir yang biasanya online shop gitu deh, itu dari kurir tokonya langsung. Mana mungkin kakak."
"Iya juga sih Mama sering beli di tempat ini."
Karena penasaran, Mama Laura pun lalu membuka paketan itu. Saat membuka dan mengecek isinya, Mama Laura pun kemudian sedikit melemas karena teringat akan sesuatu.
"Eh kenapa Ma?" tanya Febi yang kemudian duduk di samping mamanya karena khawatir.
"Ternyata memang mama yang beli, mama lupa." ucap Mama Laura sedikit pelan. "Mama udah pesen ini dari beberapa bulan yang lalu, buat hadiah ulangtahun Papa kamu minggu depan."
Febi mengerti perasaan mamanya. Mereka semua masih berusaha untuk bisa merelakan, tapi tidak semudah itu kawan. Perasaan kehilangan itu akan tetap sama besarnya sepanjang kita masih hidup, tapi kita saja yang nantinya akan bertumbuh jauh lebih besar serta kuat dan mulai terbiasa akan hal itu.
Namun ada kalanya rasa kehilangan itu kembali muncul karena suatu hal yang teramat simple dan natural, seperti mengingat suatu memori tentangnya atau dalam hal ini adalah barang atau hadiah yang mengingatkan kepada orang tersebut.
Lumayan lama Febi duduk di sebelah mamanya untuk saling menguatkan, dan setelah memastikan mamanya sudah membaik, Febi pun kembali menuju ke ruang tamu di mana Rifa masih menunggunya.
"Kok lama banget Ril?" tanya Rifa yang merasa cuma memberikan paket ke atas saja kenapa membutuhkan waktu lama.
"Ada masalah dikit." jelas Febi singkat.
Ia tidak mau ribet menjelaskan apa yang baru saja ia alami, karena ia juga mulai bosan untuk menceritakan hal yang sama berulang-ulang kali kepada Rifa ataupun yang lain. Biar saja perasaan ini ia pendam sendiri.
"Dah lah lanjut aja, sampe mana tadi?" ucap Febi sambil memposisikan dirinya duduk di samping Rifa.
Sedari tadi pagi mereka berdua memang menghabiskan waktu untuk menonton anime ataupun pertunjukan idol grup Jepang yang mereka gemari. Ya beginilah yang sering mereka lakukan berdua karena memang hobi mereka sama.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Remaja
RomanceNadila, seorang siswi SMA asal Bogor rela pindah ke Jakarta supaya lebih dekat untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang diplomat dan juga musisi. Di SMA Eno 48 Jakarta inilah kisah barunya dimulai, bertemu dengan orang-orang baru yang mengajarkan d...