Jumat, 11 Juli
"Mama hari ini gak bisa jemput kalian lagi ya, Mama ada urusan sampe malem." ucap Mama Laura saat mengantarkan Vino dan Febi ke sekolah.
"Iya ma." jawab Vino sedikit datar dan langsung keluar dari mobil.
Setelah Febi keluar dari mobil itu juga, Mama Laura pun kemudian mengendarai mobil itu menjauh dari sekolah kedua anaknya. Setelah yakin mobil yang dikendarai Mama Laura sudah tidak kelihatan lagi, Vino pun berjalan namun bukan masuk menuju sekolahnya.
"Kak, kakak sekolah aja ya." ucap Febi menarik tangan kakaknya, mencegah kakaknya itu untuk kabur.
"Enggak Bi, kakak gak bisa." ucap Vino.
"Kakak emang selama ini kemana sih?"
"Kamu gak perlu tau, tapi yang jelas kakak ngelakuin ini demi kamu."
"Tapi kenapa kakak harus berhenti sekolah gini? Emang Mama udah gak mampu ngebiayain kita?"
"Kakak gak tau, tapi kakak harus siap-siap Bi. Kakak satu-satunya cowok yang tersisa di keluarga kita, kakak yang paling punya tanggungjawab sama keluarga."
"Tapi Ebi gak suka kakak begini. Ebi capek harus nutupin ini semua dari kak Rachel, kak Nadila, sama kak Dyo. Ebi capek pura-pura gak ada di rumah waktu mereka cariin kakak, Ebi juga gak mau terus-terusan bohong ke Mama."
"Kamu harus ngertiin kakak ya, kakak ngelakuin ini demi kamu juga."
"Tapi Ebi gak suka! Semenjak gak ada Papa, semua berubah! Mama jadi jarang ada di rumah, dan kakak jadi gak jelas gini! JANGAN BILANG INI DEMI EBI, KARNA EBI LEBIH BUTUH ADA KALIAN NEMENIN EBI DIBANDING APA YANG KALIAN SEMBUNYIIN INI!!!!"
Febi yang kesal pun langsung berlari masuk menuju ke sekolahnya. Vino terhenyak mendengar keluhan adiknya itu, namun ia tetap pada pendiriannya jika ia harus melakukan hal ini. Ia pun kemudian pergi meninggalkan area sekolahnya, sesuatu yang ia lakukan 4 hari ini.
Sementara itu 10 menit kemudian di kelas XI-III, Lidyo yang baru saja masuk kelas langsung membuat keributan.
"Si kampret belum masuk juga?!" teriak Lidyo saat melihat bangku Vino masih saja kosong.
"Tadi sih aku lihat dia lagi ngobrol di depan sekolah sama Febi gitu, tapi kayaknya mereka berantem atau gimana gitu." ucap Nadila.
"Terus kenapa dia gak masuk?"
"Gak tau, dia pake seragam sih tadi tapi waktu aku panggil dia malah langsung kabur gitu."
"Hhhhhh kenapa sih itu bocah, semester baru malah baru masuk sehari doang! Mana harusnya dia kan mulai ngejabat jadi ketua OSIS!" gerutu Lidyo. "Hel lo kan tetangganya, lo tau gak dia kenapa?"
"Gue gak mau ikut campur urusan orang." ucap Rachel yang memang punya sifat tidak enakan ini. "Gue cuma ke rumah dia sama lu berdua kemaren itu."
"Ya kan kita semua sahabat dia, bahkan lo sahabat dia dari kecil!" ucap Lidyo sewot.
"Ya justru karna gue sahabat dia dari kecil makanya gue tau dia. Kalo emang dia ada apa-apa dan pengen kita tau, dia pasti cerita ke kita!"
"Lo emang gak bisa diharepin Hel, udah lah gue tanya langsung ke Febi aja!"
Lidyo hendak keluar kelas sebelum Nadila mencegahnya.
"Jangan, Dyo." ucap Nadila.
"Kenapa sih?!" ucap Lidyo kesal. "Gue cuma pengen tau keadaan sahabat gue."
"Aku tau, tapi gak gini. Ya seenggaknya jangan di sekolah deh, nanti kalo misal emang ada masalah sama keluarga Vino dan ada yang gak sengaja denger, kan nama keluarga dia bisa rusak di mata semua warga sekolah."

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Remaja
RomanceNadila, seorang siswi SMA asal Bogor rela pindah ke Jakarta supaya lebih dekat untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang diplomat dan juga musisi. Di SMA Eno 48 Jakarta inilah kisah barunya dimulai, bertemu dengan orang-orang baru yang mengajarkan d...