XXXVII. Maafkan, Summer

161 24 6
                                    

Senin, 16 Juni

"Lah anjiiirrr, lihat nih Rachel upload di Instagram lagi main bareng-bareng Vino sama Lidyo dan yang lain, ada si cewek itu juga!" gerutu Sakti.

"Yaelah itu udah dari kemaren kaliii. Mereka kan mainnya dari hari Sabtu." celoteh Sonia.

"Ya gue kan jarang buka Instagram, kecuali kalo ada notif dari Cania." ucap Sakti sambil mengeluarkan ekspresi yang... well, entahlah.

"Dasar, ngagetin doang bisanya." sindir Sonia.

"Tauk nih." tambah Ivan.

"Yeee lu kenapa sante banget sih!" Sakti kemudian menoyor kepala Ivan.

"Ya terus gue kudu gimana? Nangis sambil guling-guling?" ucap Ivan dengan nada sarkas. "Lagian apa hak gue, Rachel kan bukan siapa-siapa gue?"

"Lu tuh ye, udah disakitin macam begitu kenapa sante aja sik?! Gue aja yang cuma dengerin cerita doang, keselnya minta ampun gini." gerutu Sakti. Sepertinya mood dia hari ini sedang kacau, atau memang dia suka cari ribut saja sih sebenernya.

"Ya emang gue gak perlu marah kan?" ucap Ivan santai.

"Pale lu gak perlu marah!" Sakti kembali menoyor Ivan, kali ini lebih kencang dibanding yang pertama. "Dia udah nyakitin lo bego! Gak usah sok bilang lo gapapa, kelihatan banget lo sakit ati Van!"

"Siapa bilang gue gak sakit hati? Jelas banget gue kecewa dan patah hati." ucap Ivan.

"Nah terus kenapa lo kelihatan santai banget? Marah kek, atau apa kek gitu!" Sakti kembali menggerutu.

"Sabar sih Sak, cowok kok suka ngomel sih lu!" sindir Sonia.

"Abisnya gue kesel banget sama temen kita yang satu ini."

"Iya gue emang jadi korban di kejadian itu, tapi pelaku utama di kejadian itu bukan cuma Rachel, ada 2 orang yang bertanggungjawab atas sakitnya hati gue."

"Nah ya udah, lo sekalian aja labrak tuh cewek yang udah ngerebut Rachel dari lo!" sekali lagi Sakti menjadi kompor.

Ivan menggeleng pelan. "Bukan, dia gak termasuk hitungan. Yang gue maksud itu Rachel dan gue sendiri."

"Mak..." namun sebelum Sakti menyelesaikan kalimatnya, Ivan memotongnya lebih dahulu.

"Waktu itu gue juga salah." ucap Ivan lirih sambil menghembuskan nafasnya pelan. "Sedari awal gue udah tau kan kalo Rachel lagi suka sama Nadila ini, tapi waktu Rachel ngajakin gue jalan, gue sama sekali ga tanya gimana hubungan dia sama Nadila."

"Gue terlalu bodoh, gue terlalu excited karna penantian gue selama 2 tahun akhirnya terbayar, sampe gue terlalu naif udah mikir kalo gak ada orang lain yang ada di hati Rachel." Ivan tertawa kecil, mentertawakan kebodohannya sendiri. "Semua itu gue lakuin supaya gue bisa kembali nyebut dia milik gue, sama seperti waktu dulu."

Sakti dan Sonia terdiam, merasa iba mendengar pengakuan teman meraka itu,

"Gue gak bisa marah sama Rachel bukan karna gue santai dan masa bodoh, tapi karna gue lebih marah sama diri gue sendiri.... dan tentunya karna gimanapun juga gue masih cinta Rachel." lanjut Ivan.

"Dih orang gila!" Sakti kembali pada mode sewot.

"Van gini ya..... Gue dukung lo buat balik sama Rachel, dan gue juga seneng sama Rachel karna dia sahabat kita juga. Tapi setelah apa yang dia lakuin ke lo, kenapa sih lo masih aja suka sama dia? Apalagi lo ngebela dia banget gini!" Sonia kini ikut terpancing.

"Ya yang kayak gue jelasin tadi, itu semua bukan sal...."

"Iya iya iya, itu bukan kesalahan dia. Gue heran kenapa masih aja lo ngebelain dia!" gerutu Sonia. "Lo tuh cakep Van, gw yakin banget banyak manusia di luar sana yang bakal cocok sama lo, bukan cuma Rachel doang. Inget kata pepatah, masih banyak ikan di laut!"

Cinta RemajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang