XLV. Sasae (Dukungan)

133 22 7
                                    

Minggu, 29 Juni

Ia kembali memperhatikan layar televisi yang memberitakan pesawat di mana Papanya yang menjadi pilotnya tersebut ternyata telah jatuh di sebelah utara Kepulauan Seribu, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Menurut pengakuan saksi mata dari seorang nelayan menyebutkan jika ada sebuah pesawat yang terbang rendah dan terjatuh di Laut Jawa.

Badannya bergetar, merasa shock yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Ternyata segala kecerobohan dan kebodohan yang ia lakukan seharian ini bukan karena ia merasa grogi akan rencananya menyatakan perasaan cintanya ke Shani, tapi karena ini sebuah pertanda jika akan ada sesuatu yang menimpa Papanya.

Shani kembali memeluk Vino untuk menenangkannya. Namun itu percuma saja, justru sekarang Vino menangis di dalam pelukannya.

"Kakak tenang ya." ucap Shani yang masih terus memeluk Vino itu. "Lebih baik kakak telfon Febi atau Mama aja, sekarang mereka juga pasti lagi kebingungan. Terus sekarang juga kita ke Bandara buat cari informasi, biar aku minta Papa anterin kita."

Vino berusaha untuk bisa sekuat dan setegar mungkin. Kemudian ia mengangguk dan melakukan apa yang diusulkan Shani itu, dan tanpa perlu berlama-lama mereka pun bergegas untuk menuju Bandara.

Selama perjalanan menuju Bandara diantar oleh Papanya Shani, Vino berusaha untuk tetap tenang dan setegar mungkin. Ia menghubungi Febi dan Mamanya yang juga sedang dalam keadaan shock dan kebingungan. Mamanya sudah menerima kabar kecelakaan itu sebelum berita di televisi muncul, lalu kemudian Mama Laura sibuk menghubungi pihak maskapai dan pihak-pihak yang ia tahu bisa memberikan informasi kepadanya.

Selama perjalanan, Shani memandang khawatir kepada Vino dan berusaha sebisa mungkin untuk membuat Vino tetap merasa tenang. Untungnya keadaan jalanan di Minggu sore menjelang senja ini sangat lengang, membuat mereka bisa cepat sampai Bandara.

"Terimakasih om, sudah mengantarkan saya. Mohon maaf bukannya anter Shani pulang seperti biasa, saya malah ngerepotin begini." ucap Vino sambil sedikit membungkuk saat mereka sudah sampai di area Bandara.

"Gapapa nak, kebetulan memang hari ini om lagi mau jemput Shani aja."

"Sekali lagi terimakasih." Vino kembali sedikit menunduk.

Tanpa menghabiskan banyak waktu lagi, Vino langsung keluar dari mobil dan dengan sedikit berlari menuju ke area Bandara yang diinformasikan oleh Mamanya tadi.

"Pah, Cici boleh gak..."

"Boleh." ucap Papa Shani tanpa perlu tau pertanyaan lengkap dari anaknya itu.

"Papa belum denger pertanyaan Cici."

"Kamu mau nemenin dia kan? Udah sana buruan Cici kejar dia."

"Serius pah?"

"Iya cici..." ucap Papa sekali lagi. "Papa tau dia selama ini anak baik, dan papa suka dia deket sama Cici. Walaupun dia gak minta, tapi saat ini papa tau dia butuh Cici."

"Makasih ya Pah."

"Tapi nanti kalo Papa minta Cici pulang, Cici ikutin kata Papa ya."

"Siap pah!"

"Sana kamu susul dia, nanti papa susul setelah parkirin mobil."

Tanpa berlama-lama, Shani pun langsung menyusul ketempat Vino sementara Papanya mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya.

>><<

Melihat keberadaan kakaknya, Febi langsung berlari menujunya dan memeluk kakaknya itu. Di dalam pelukan kakaknya itu, Febi menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua emosinya. Sebagai seorang kakak, Vino berusaha untuk tetap tegar dan berusaha menenangkan adiknya yang masih saja terus menerus menangis di pelukannya.

Cinta RemajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang