XXXVIII. How Come?

182 21 15
                                    

Rabu, 18 Juni

"Udah diapelin aja nih jam segini." ucap Vino saat menuruni tangga rumahnya dan mendapati adiknya, Febi, sedang bersama Rifa.

"Apaan enggak!" bantah Febi dengan mentah-mentah.

"Udah cocok sih kalian, ke mana-mana berdua mulu dan nyambung pula kan?!"

"Yang nyambung belum tentu saling suka kaliiii. Saling suka tuh diem-diem malu tapi mau, yang akhirnya bisa deket karna dibantu sama adeknya."

"Sialan!" Vino merasa tersindir karena memang itu yang terjadi padanya dengan Shani. "Eh Rifa kok daritadi diem aja sih? Sedih ya Febi nganggep kamu cuma temen, padahal sering berdua mulu?"

"Eh, enggak kok kak." Rifa terkaget. Ya sebenarnya memang dia dasarnya anak pendiam sih makanya diam saja sedari tadi. "Nanti juga kita ga berdua aja kok, ada Eri-chan juga abis dia selesai urus perjalanan balik dia ke Jepang."

"Wah gila jago juga adek gue, punya 2 gebetan dan diajak nge-date bareng dua-duanya. Ckckck gak bener." Vino menggelengkan kepalanya.

"Nah kan. Lu sih pake salah ngomong, dia makin jadi-jadi kan?!" gerutu Febi pada Rifa.

"Hahaha." Rifa malah tertawa. "Enggak kok kak Vino, aku gak suka sama Febi, dia aku anggap sahabat aku aja kok.... Sebenernya sih kalo boleh jujur, aku sukanya sama kakak."

Ya Rifa memang pendiam, tapi jika sudah berhubungan dengan Febi, dia bisa berubah jadi pribadi yang bertolak belakang dan menyebalkan. Ia tahu jika Febi tidak suka jika teman-teman dekatnya menyukai kakaknya yang memang sangat populer itu. Risih katanya melihat teman-temannya mendekati Vino karena suka terhadapnya.

Makanya ketika Febi tahu jika kakaknya dan juga Shani saling suka, ia langsung bergerak cepat, dengan harapan tidak ada teman-temannya yang mengganggunya lagi.

"Apaan lu, mau cari gara-gara ya sama gue?!" ancam Febi kepada Rifa.

"Hehehe." Rifa tertawa karena melihat Febi langsung tersulut akan pancingannya.

"Tuh kan, dia tuh maunya lo sama dia, gak boleh sama yang lain!" Vino kembali meledek adeknya.

"Apaan sih, engggaaaaakkk! Dibilang enggak ya enggak, ngeselin deh!"

Karena sedikit kesal dengan kakaknya, Febi langsung melempar bantal sofa ke arah kakaknya itu. Namun Vino cekatan dan bisa menangkisnya, tapi apesnya justru bantal tersebut melayang dan mengenai Mama Laura.

"Ini punya anak berdua beranteeeeem muluuuuu, bisa ancur nih rumah lama-lama." ucap Mama Laura. "Kakak jangan gitu ih sama adeknya. Kan udah Mama bilang, nanti juga dia sadar sendiri kok kalo suka."

"Ih mama sama aja kayak kakak, nyebelin!" gerutu Febi.

"Ya namanya juga Mama sama anak, maklum aja kalo sama. Emangnya lo, anak dari hadiah chiki!" Vino kembali melancarkan ledekannya, membuat Febi hanya memanyunkan bibirnya kecut.

"Jangan gitu, kalian berdua itu anak kesayangan Mama sama Papa. Kakak emangnya gak inget apa waktu Febi masih di dalem perut, siapa yang suka nyiumin perut Mama? Terus waktu dia lahir, siapa yang suka melukin dia?"

"Ih mama ngigo!" bantah Vino meski ia sendiri samar-samar ingat akan memori itu meski waktu itu umurnya baru 2 tahun.

"Ngomong-ngomong, anak Mama ini mau kemana sih? Udah rapi dan wangi aja."

"Vino selalu rapi dan wangi mah!" ucap Vino menyombongkan diri. "Lagian emang Mama lupa? Hari ini Vino mau jalan sama Shani sama temen-temennya, kan Vino udah bilang ke mama."

"Oh iya."

"Yeeee si Mama." Vino memutar matanya malas. "Yaudah kalo gitu Vino pamit duluan ya, mau jemput Shani dulu."

Cinta RemajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang