LXIV. Khayalan

135 18 7
                                    

Selasa, 23 September

Febi sedang duduk di ruang tamunya, menyiapkan laptop dan juga beberapa cemilan di atas meja. Malam ini ia sudah berjanji dengan Rifa, nonton bareng pertunjukan idol grup favorit mereka berdua.

Ya memang tidak menonton secara langsung sih, tapi ini adalah sebuah show yang cukup langka dan mereka beruntung mendapatkan kiriman DVD langsung dari Jepang yang dikirimkan oleh Eri. Paket itu sendiri baru datang sore ini meski sudah ditunggu dari bulan lalu.

Saat mendengar bel rumahnya berbunyi, Febi langsung beranjak karena memang ini sudah waktu yang dijanjikan oleh dirinya dan juga Rifa.

"Eh Shani." ucap Febi saat mendapati yang ada di depan pintunya ternyata adalah Shani, pacar kakaknya.

"Haiii..." ucap Shani dengan senyumnya yang bak bidadari itu. "Kak Vino ada?"

"Tumbenan nih lo ke sini, biasanya dia yang jemput kan?"

"Iya soalnya ini mau ke rumah kak Rachel yang katanya deket dari sini, makanya aku minta Papa buat anter ke sini biar gak bolak balik."

"Oh pantes, tuh rumah kak Rachel di situ." ucap Febi sambil menunjuk ke arah rumah yang tak jauh dari rumahnya. "Yaudah gue panggilin abang, lo duduk aja dulu."

"Gak usah deh, aku nunggu di sini aja."

"Cewek cantik kayak lo nanti digigit nyamuk loh kalo di luar gini."

"Apaan deh Feb, bisa-bisanya ngegombal sih." ucap Shani sedikit tersipu. "Padahal kakak kamu jarang loh gombalin aku."

"Dia mah kek kanebo kering. Lo tau sendiri kan dia gimana, tanpa bantuan gue juga kalian gak bakalan jadian."

"Haha iya sih."

"Yakin nih lo gak mau nunggu di dalem aja?" tawar Febi sekali lagi.

"Gak usah, paling cuma bentar kan. Kak Vino pasti udah siap, jadi tinggal berangkat."

"Oke deh gue panggil dia dulu."

Febi kemudian masuk ke dalam rumahnya. Namun alih-alih ia naik ke lantai 2 dimana kamar kakaknya berada, Febi hanya teriak dari lantai bawah rumahnya ini.

"BAAAAANNGGGGG, SHANI UDAH NUNGGUIN LO NIH!" teriaknya.

Benar saja yang dikatakan Shani tadi, saat Febi teriak tadi ternyata Vino sedang menuruni tangga rumahnya. Ia mendengar bel rumahnya berbunyi dan sudah menduga bahwa itu adalah Shani.

"Lo itu cewek, kenapa teriak-teriak deh." tegur Vino saat ia sudah sampai bawah.

"Mager gue buat naik."

"Dasar." Vino menggelengkan kepalanya sejenak lalu berjalan ke arah Shani. "Hai sayang, gak lama kan kamu nunggunya?"

Vino kemudian bersimpuh di hadapan Shani, bertumpu pada 1 lututnya. Kemudian ia meraih tangan kanan Shani dan mencium punggung tangan kekasihnya itu.

"Ngapain sih lo?" tanya Febi keheranan melihat tingkah kakaknya.

"Ini namanya romantis!" ucap Vino.

"Kebanyakan nonton drama lu."

"Bawel banget, Shani aja suka tuh." ucap Vino. Memang benar kata Vino, Shani terlihat memerah mukanya karena kelakuan Vino barusan. Maklum saja, Vino jarang melakukan hal yang begini. "Bilang aja lo iri kan ya?"

"Mana ada, gue juga bisa wleeee."

"Iyadeh yang udah punya pacar. Yaudah deh kalo gitu gue sama Shani ke tempat Rachel dulu ya, lo mau ikut sekalian gak? Banyak temen-temen lo juga kok."

Cinta RemajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang