LIV. Fajar Sang Idola

126 18 1
                                    

Senin, 14 Juli

Vino keluar dari ruang kepala sekolah dengan muka sedikit tertekuk. Hari ini sepulang sekolah ia diminta untuk menghadap kepala sekolah untuk membahas seputar kenapa ia 4 hari menghilang dari sekolah.

"Gimana?" tanya Rachel saat Vino sudah keluar dari Ruang Kepala Sekolah.

"Ya untung gue cuma dikasih peringatan doang sih. Nyokap gue udah duluan jelasin dan sekolah juga paham kondisi gue, mereka juga ngerasa gue dari SMP gak pernah macem-macem jadinya ya cuma dikasih peringatan doang."

"Lo gak kena skors atau posisi lo jadi Ketua OSIS dibatalkan kan?"

"Gak sih. Tasya sama Naomi udah diminta buat gantiin gue tapi mereka bilang kalo gue yang masih layak jabat posisi itu."

"Ya bagus deh. Tapi lo jangan aneh-aneh lagi jadi orang!"

"Iya iya bawel deh." ucap Vino menghela nafas. Ia kemudian menatap ke arah Nadila yang sedari tadi terdiam di samping Rachel. "Semangat Nad, gue yakin pasti kalian bisa kok."

"Eh, iya makasih Vin." ucap Nadila yang tersadar dari lamunannya.

Hari ini Nadila bersama Frans, Rona, Aurel, Ume, Vany, dan juga Keisya akan menghadap Kepala Sekolah serta Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan untuk membahas proposal mereka. Sepulang sekolah ini mereka akan mendengar keputusan pihak sekolah mengenai rencana untuk mengaktifkan kembali ekskul band setelah 3 tahun vakum.

Setelah mereka semua berkumpul kini mereka sudah berada di ruang kepala sekolah ditemani oleh Pak Tedy selaku pembina ekskul terdahulu. Mereka bertujuh memandang cemas pada Pak Fritz dan Bu Putri yang membalik-balik proposal yang berada di hadapan mereka, berharap mereka mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Sebenarnya mereka tidak perlu terlalu cemas seperti seseorang yang terkena masalah seperti sekarang, tapi entah kenapa atmosfer di Ruang Kepala Sekolah ini begitu berbeda. Namun memang begitulah keadaannya, mungkin atmosfer di Ruang Kepala Sekolah hanya kalah jika dibandingkan dipanggil ke Ruang BK, yang mana ini adalah level horor tertinggi di sekolah, bahkan lebih seram dari gudang angker sekalipun.

Keadaan ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara kertas yang dibalikkan oleh Pak Fritz dan Bu Putri. Namun entah mengapa di pikiran ketujuhnya suara balikan kertas yang pelan itu seperti suara yang memengangkan telinga.

"Sebenarnya dari kemarin saya sudah sempat baca-baca sekilas proposal kalian dan saya rasa tidak ada masalah sih. Untuk masalah kualitas kalian, walaupun saya belum sempat menonton video yang kalian kirim, tapi saya percaya sama Pak Tedy yang sudah berpengalaman jadi guru penanggungjawab ekskul band."

Ucapan Pak Fritz ini tentu membuat ketujuh murid itu terlihat lega dan gembira. Namun kemudian Pak Fritz menatap ke arah Bu Putri, yang membuat Nadila dan Frans mempunyai firasat yang buruk.

"Benar sekali apa kata Bapak Kepala Sekolah, kami semua tidak ada masalah dengan proposal kalian dan kami juga sangat mendukung dibukanya kembali ekskul band. Kalian tau kan sekolah ini sangat mendukung apapun bakat yang dimiliki muridnya?" ucap Bu Putri.

"Tapi...?" potong Frans yang sudah sering kali dikecewakan oleh pihak sekolah yang seakan pilih kasih dan tidak benar-benar mau mendukung bakat yang dimiliki muridnya.

"Tapi kami tidak bisa menyetujui pemberian dana untuk kalian." lanjut Bu Putri.

"Sudah kuduga." gumam Frans pelan. Ia memang satu-satunya murid cowok di Ruangan ini, tapi ia yang paling julid karna ya itu tadi sudah merasa lelah karna sering dikecewakan.

"Kalo memang proposal kami menjanjikan, kenapa pihak sekolah tidak mengabulkannya?" tanya Nadila yang juga kecewa sekaligus marah.

"Iya loh, ini demi kepentingan sekolah juga. Kalo kami semua berprestasi pasti nama sekolah juga yang ikut terangkat. Ini dana yang kami minta jauh lebih sedikit dari dana operasional Dance Project loh." ucap Aurel yang sangat paham karena dia juga anggota ekskul Dance Project.

Cinta RemajaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang