Sabtu, 18 Oktober
"Deeeek itu tolong pintunya buka dulu, mama masih siap-siap." teriak Mama Dey dari dalam kamar saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi.
"Iyaaaaaaa."
Dey yang memang sedang menunggu Mamanya bersiap untuk mengantarkannya pun akhirnya berjalan ke depan pintu dan membuka pintu tersebut. Namun sesaat kemudian ia memundurkan langkahnya selangkah karena terkaget melihat siapa sosok di balik pintu rumahnya.
"Ebi?!" ucapnya yang terkaget itu.
"Hai..." ucap Febi yang sedikit canggung.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Mau nganterin kamu ke dokter."
"Hah?! Tapi kan kita udah......"
"Iya aku tau kemarin kamu udah mutusin aku." potong Febi. "Tapi kamu belum batalin janji aku untuk nganterin kamu periksain lutut kamu. Kamu tau kan aku selalu menepati janji aku."
Dey sedikit ragu untuk memilah jawaban apa yang sebaiknya ia berikan kepada Febi saat ini. Tidak bisa dipungkiri dirinya masih ingin bersama Febi meski kemarin dirinya yang mengakhiri hubungan mereka, tapi ia juga sangat mengerti jika dirinya akan semakin sakit jika hubungan ini dilanjutkan.
"Mata kamu bengkak banget, nangis semaleman?" tanya Febi yang memperhatikan Dey ketika sosok di depannya itu nampak bengong.
"Eh hmmm.... Kamu juga sama aja."
Setelah Dey lebih memperhatikan lagi, ternyata kondisi Febi sepertinya sama menyedihkannya seperti dirinya saat ini. Hal ini membuatnya semakin mempertanyakan apakah keputusannya kemarin untuk mengakhiri hubungan mereka berdua adalah hal yang tepat. Apakah sebenarnya Febi benar-benar menyayangi dirinya sebegitu dalamnya?
"Gimana, kamu masih perlu dan mau aku anterin gak? Kalo kamu memang gak mau, aku pulang sekarang." tanya Febi kembali karena dirinya belum menjawab jawaban.
Namun belum sempat Dey menjawab karena masih banyak hal yang ia pertimbangkan, Mamanya sudah menyusul ke luar.
"Loh nak Febi?" tanya mama Dey yang juga sedikit terkaget. "Bukannya kata dedek, kamu sama dia udah......"
"Iya tante, Febi sama Dey udah putus." ucap Febi.
"Terus ke sini mau ngajak balikan gitu? Bagus deh, anak tante ini semaleman nangis mulu sampe gak mau makan."
"Mama ih!" protes Dey.
"Ya kan memang, semalem kan dedek nangis semaleman di kamar sampe gak mau makan." cerita Mama Dey. "Coba bayangin nak Febi, sejak kapan si Dey ini nolak makanan?"
Febi yang mendengar cerita Mama Dey ditambah melihat ekspresi bete Dey saat ini hanya bisa tersenyum. Ingin rasanya mengejek Dey dengan mengucapkan siapa yang mutusin tapi siapa yang sedih, tapi ia urungkan.
"Enggak Tante, saya datang ke sini mau nganterin Dey ke Rumah Sakit karena waktu itu sudah janji dan kemarin janji ini belum dibatalkan."
"Oh gitu, kirain kan."
"Ya itu tapi tergantung Dey juga sih mau apa enggak."
"Mau apa nih? Mau dianterin apa mau diajak balikan?" goda Mamanya Dey.
"Ih mama ih, nyebelin!" gerutu Dey.
"Ya siapa tau kan."
"Bodo amat." ucap Dey yang sudah makin kesal. "Yaudah Bi karna kamu sudah repot-repot ke sini, ya sekalian aja deh kamu anterin aku."
Mendengar hal tersebut membuat ada senyum bahagia tersirat dari wajah Febi dan kemudian ia mengangguk senang.
"Oke kalo gitu Mama anterin kalian sampai RS aja ya, terus mama lanjut berangkat kerja dan gak jadi izin."

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Remaja
RomanceNadila, seorang siswi SMA asal Bogor rela pindah ke Jakarta supaya lebih dekat untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang diplomat dan juga musisi. Di SMA Eno 48 Jakarta inilah kisah barunya dimulai, bertemu dengan orang-orang baru yang mengajarkan d...