An, kamu suka Gema, ya?
Pertanyaan tersebut membuat Aina sampai tersedak ketika menikmati keroprak bersama Delia sepulang mereka dari kantor polisi lima hari yang lalu. Pertanyaan yang membuatnya mangkir dari pertanyaan-pertanyaan serupa sampai hari ini. Sudah lima hari kawan sejak kecilnya tersebut ada di Jakarta, tapi di hari ini ia tidak bisa seleluasa kemarin-kemarin untuk mengajak jalan-jalan. Hidupnya di Jakarta terus berlanjut dan laporan perhitungan anggaran biaya proyek di kantor menumpuk, belum ia selesaikan. Ia tidak bisa pergi begitu saja dari tempat kerjanya alias resign tanpa menuntaskan apa yang ia mulai. Belum lagi setumpuk laporan mengenai perkembangan pekerjaan sungguhannya yang harus rutin disetor setiap hari untuk monitoring. Diakui atau tidak, ia jadi lebih repot dengan ketiadaan Rani sebagai target sekaligus kuncinya.
Kembali ke kantor setelah satu bulan lamanya cuti yang disetujui bosnya karena mengerti bahwa Aina pasti terpuruk saat Rani meninggal dengan cara yang demikian, membuat rasa hampa itu kembali. Adalah tiap menengok ke sisi kanan di mana dalam jarak lima meter, terdapat bangku kosong dengan komputer yang mati sebab pemiliknya sudah tak ada lagi. "Rani, sekarang aku nggak punya teman lagi di sini. Tahu sendiri, kan, yang menerimaku di sini cuma kamu."
Memang benar yang ia gumamkan barusan. Empat rekan kerjanya yang lain di kantor ini sangat tidak menyukainya. Mereka selalu iri karena bos memperlakukan dirinya dengan berbeda. Tahu sendiri lah ya, dia bekerja di kantor tersebut hanya sebagai kedok dalam penyamaran. Jadi penjilat sudah wajib hukumnya untuk dia lakoni. Pekerjaan beres jauh lebih cepat dari deadline; suap-suap sepele seperti membelikan makan siang dan tanaman hias kesukaan si bos; juga kedip-kedip nakal untuk meluluhkan hati bosnya agar ia diberikan kelonggaran jam kerja pun ia lakukan. Tak heran jika seringkali ia tiba-tiba menghilang dari kantor dan pergi ke antah-berantah untuk menjadi ninja yang melompat dari satu atap ke atap lain dan mengumpulkan informasi. Itu sebabnya, empat gadis yang saat ini ada di tempat yang sama dengannya, terang-terangan menyindir dengan mengeluhkan pedasnya cabai dari makanan yang mereka makan saat itu, tentu saja dengan artian lain.
Tak mempedulikan, Aina beranjak dan menuju ke meja kerja Rani, yang di sana terdapat sebuah bingkai foto. Ada sejumlah foto kecil-kecil di dalamnya. Foto Rani bersama orang tua dan adiknya, foto Rani bersama kucing kesayangannya yang diberi nama Roni. Juga foto Rani bersama Aina, ketika mereka melipir ke Semarang di penghujung tahun lebih dari sebulan lalu. Selisih seminggu saja dengan terbunuhnya Rani. Ia sadar sekarang sudah masuk bulan Februari. Bulan di mana karakter yang ia perankan saat ini berulang tahun. Tapi cukup sampai di situ, ia tak melanjutkan apa yang terlintas di kepalanya dan kembali lagi ke bangkunya untuk mengerjakan laporan yang terhimpun dari angka-angka sialan yang sangat dibenci oleh mata dan otaknya, tapi kalau dijadikan uang ia akan sangat senang. Sebuah hal yang manusiawi untuk menyukai uang. Ya, uang. Sesuatu yang kalau dipunyai, maka tak akan membebani pikiran. Karena rumusnya, untuk tidak memikirkan uang, maka harus punya uang. Setidaknya itu pemikiran pendalaman peran sebagai seorang Aina.
Kalau Anna? Ah, rasa bangga adalah segalanya. Mungkin lain kali saja penjelasan soal ini dibahas.
"Heh, Bos minta laporannya siap besok." Satu suara ketus menyapa Aina.
"Iya, ini juga tinggal dikit kok, hehehe." Senyuman manis sengaja ia berikan agar gadis ketus tadi makin jengkel sendiri.
Dan tak ada balasan lagi. Rekan satu kantornya yang barusan langsung berlalu tanpa mendengarkannya. Bergabung dengan tiga yang lain, bersiap pergi keluar untuk cari minuman dingin setelah makan siang mereka. Tanpa Aina. Mengajak saja tidak. Sungguh, kalau ada lomba tim mana yang paling suka menghambur-hamburkan uang, para gadis itulah yang menang.
Demikianlah, pemirsa. Tidak ada yang pasti hidup di dunia ini. Pohon yang ratusan tahun hidup sampai akar-akarnya dinilai kuat menopang meski diguncang gempa pun, bisa roboh melalui cara lain, misalnya tersambar petir. Seperti sebuah pertemanan juga, sekalipun pertemanan yang dimaksudkan di sini bukanlah pertemanan sungguhan, tapi kenyataanlah yang akan menyeleksi apakah seseorang cocok dengan orang lain atau tidak. Namanya manusia, tidak akan bisa menempatkan diri sepenuhnya untuk mengerti orang lain kalau mereka tidak benar-benar ada di tempat yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AcciónGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)