10 :: KARTU

369 38 24
                                        

Pagi-pagi sekali, ketika Gema masih bersantai di taman kecil dalam rumahnya, tepatnya di bagian samping yang berbatasan langsung dengan tembok rumah tetangga, suara bel nyaring mengumandang ke seisi penjuru rumah minimalis yang terlihat kalau pemiliknya adalah orang yang sangat rapi itu. Ia meninggalkan kegiatan memberi makan tiga burung merpatinya. Ketika pintu terbuka, rupanya Addri yang bertamu. "Sepagi ini?" sambut Gema dengan pertanyaan herannya.

Addri nyengir tak berdosa, lalu mengangkat beberapa kantong kresek putih yang Gema duga adalah makanan. "Kalau aku bawa begini, masih mau ngomel?" balas Addri.

Gema pun mempersilakan masuk. Ia sebetulnya sudah siap berangkat kerja tapi karena masih jam setengah tujuh, jadi ia ingin bersantai dulu. Merilekskan pikirannya mengenai kejadian semalam. Ia tidak menghubungi Aina sama sekali, entahlah, rasanya antara malu dan tidak enak mengganggu. Selama ini ia tidak pernah mempermasalahkan kalau gadis itu tidak pernah menghubunginya duluan, sebab memang baginya seorang laki-laki lah yang harus maju lebih dulu. Namun yang sekarang, rasanya hampa sampai-sampai tidak dapat tidur nyenyak semalam. Reserse keras hati dan ambisius sepertinya, ternyata payah juga. Hilang keberaniannya, dan itu sangat mengganggu pikiran serta hatinya sendiri. Ia termenung, berpikir gadis itu sedang apa. Apakah gadis itu benar-benar akan menjauhinya kali ini setelah malam tadi? Apa gadis itu tidak akan pernah mencari jalan kepadanya lagi barang sebentar untuk sekadar meletakkan segelas jus jeruk dengan catatan di mejanya? Dan, hal berat apa yang gadis itu lalui selama ini sampai jadi seorang pengecut yang takut dicintai?

Di sebelahnya, Addri yang sedang menggigit roti selai kacang melambaikan satu tangannya ke depan wajah Gema seraya berjengit ke depan, menemukan wajah temannya yang diam menatap kosong tanpa menyentuh makanan yang ia bawa sama sekali. Addri pun menggaruk pipinya yang tak gatal, ia jadi tidak yakin untuk membicarakan suatu hal dengan Gema saat ini. Addri mencoba tak menggubris temannya dan menikmati menu ke dua yaitu bubur ayam. Memberikan waktu pada Gema untuk melamun dan menyelami dunianya sendiri. Tapi ya, namanya juga Addri. Mana tahan ia duduk tanpa ada obrolan sama sekali? Segera dihabiskan buburnya dengan cepat, setelahnya memperbaiki posisi duduk menjadi lebih condong ke arah Gema.

"Ada apa sebenarnya, Gem?" tanya Addri langsung dengan volume yang kuat, yang cukup untuk menyadarkan Gema dan membuatnya tersentak.

"Ha?" balas Gema linglung. "Kenapa?" usai menanyakan itu, Gema tak sengaja melirik meja. Addri sudah menghabiskan buburnya, jadi apa dia memang melamun selama itu, pikirnya. Buru-buru Gema mengambil bubur ayam miliknya, membukanya dan menuangkan kuah lalu menyantapnya, seakan ia lupa bahwa barusan Addri mengajaknya bicara. Lagipula, ia tidak mendengar dengan pasti bagaimana perkataannya.

"Gem?" panggil Addri lagi, kali ini sedikit menggeram sebab ia menyadari betul bahwa di hadapannya sekarang, bukan Gema yang selama ini dia kenal.

"Apa?" balas Gema.

"Kamu seperti ini karena Aina, kan?"

Tak ada jawaban. Gema membuang pandangan, menatap tak selera pada bubur ayam di depannya. Addri memang benar dan Addri dapat menebak dengan tepat sasaran. Sejujurnya, keadaan yang seperti ini membuatnya tidak habis pikir juga. Keadaan yang asing. Seperti ia tidak mengenal dirinya sendiri dan terbelenggu dalam sesuatu yang harusnya tidak begitu genting sampai harus ia prioritaskan di dalam pikiran. Gema mengerti bahwa temannya menunggu jawaban. Kepalanya mendongak, Addri memandang lekat. "Tadi malam aku mengakui perasaanku, Ad."

Yang didapat Gema justru raut Addri yang berubah. "Kamu bilang kalau kamu menyukainya? Yang benar?"

"Kenapa? Kamu taruhan dengan Firli juga soal ini?" seloroh Gema, dan karena agak kesal, selera makannya telah kembali. Ia menyendok bubur ayamnya. Tidak ingin mengatakan lebih banyak lagi soal topik ini. Tapi Addri malah terlihat antusias, tentu saja. Kapan lagi dia melihat seorang Gema begitu, kan?

404 NOT FOUND [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang