26 :: IDENTITAS

254 30 0
                                        

Seperti rencana sebelumnya bahwa Firli akan pergi ke catatan sipil, ia justru pergi ke sana bersama Gema. Bukan dengan Addri. Tak tahu juga kenapa Addri tiba-tiba meminta untuk ke rumah Rendi saja setelah Gema membawa sebuah undangan dari kontrakan Aina. Di situ, karena Firli mengetahui soal Addri yang menyimpan suatu informasi, ia makin merasa janggal soal Adrri yang tampaknya bermain-main dengan satu hal yang serius tanpa ia bisa simpulkan apa yang pemuda itu kejar. Firli masih terus memikirkannya bahkan sampai tak bisa tidur malam tadi karena kelakuan Addri yang makin tidak ia mengerti. Untuk mengatakan semua keresahannya pada Gema pun, ia tidak bisa. Selama semua itu belum jelas, Firli tidak mungkin melakukan hal yang justru dapat mengadu dua belah pihak. Mungkin sekarang ia harus bersabar, sampai pemuda yang telah tancap gas dengan mobilnya itu menjelaskan sendiri semuanya seperti yang dijanjikannya.

Sementara itu, Addri meninggalkan Firli dengan pikirannya sendiri. Tentu sekarang ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mempelajari lebih lanjut soal Aina. Untungnya juga, Firli memilih untuk mencari data anak pemilik Panti Asuhan Kinasih lewat catatan sipil langsung, secara resmi. Bukan melalui Rendi yang sebetulnya pun bisa mencari kalau mau. Mungkin karena yang sekarang dicari adalah data diri dari orang yang pasti, bukan seperti dua orang kemarin, si Burhan Kenan dan Kemal Graha yang seluk beluk kehidupannya sama sekali belum diketahui. Atau mungkin, alasan Firli tak meminta bantuan Rendi kali ini karena kemarin si hacker culun itu menyatakan perasaannya dan berani mengajak Firli pacaran, meskipun cuma lewat pesan teks. Apapun itu, intinya Addri bersyukur karena mendapat kesempatan ini. Dengan semangat ia menyetir menuju rumah orang yang sebetulnya tidak ia suka, sebab lagi-lagi, merupakan hal yang menusiawi untuk tidak menyukai rival sendiri.

Hampir satu jam lamanya menempuh perjalanan karena kemacetan, tapi Addri tidak keberatan sama sekali. Ia memarkirkan mobilnya di belakang mobil Rendi, bahkan sempat-sempatnya ia menendang asal mobil tak berdosa milik hacker itu hingga alarmnya berbunyi. Addri tersenyum dan menengadah, menatap jendela di lantai dua yang kemudian menyembul kepala seseorang dari sana, terkaget-kaget. Ya, itu Rendi. Addri pun terkekeh puas melihat ekspresi tersebut. Lagipula, berani-beraninya pemuda culun itu mengajak gadis yang ia cintai sejak lama pacaran, cari mati, batin Addri.

"Harus ya bertamu dengan cara begitu?!" kesal Rendi ketika keluar dari rumah dan mematikan alarm mobilnya.

Pintu rumah yang terbuka itu membuat Addri tak mau basa-basi dan main nyelonong masuk saja. Tuan rumah akhirnya menyusul dan mendapati tamu tak diundangnya sudah duduk manis di bangku sebelah singgasananya, menghadap ke laptop. "Jadi ada apa, Ad? Apa yang mau kamu suruh untuk aku lakuin?" tanyanya sinis.

Addri berdecak. "Apa kalau Gema yang datang, sambutanmu juga gitu, ha?"

Rendi tak menjawab, malah fokusnya tercuri pada sebuah undangan berwarna biru yang tengah dipegang Addri. Ia meraihnya, membaca sekilas nama tamu undangan yang tertera. Jujur ada rasa lega karena sesaat tadi jantungnya serasa mencelos, mengira itu undangan pernikahan Addri dan Firli. Ya bagaimanapun, se-nolep apapun dirinya ini, ia masih ingat jelas Addri ini rivalnya. Rival terberat malah, yang sepertinya tak akan bisa ia tandingi dan paling membuatnya pesimis. "Untuk apa ini?"

"Untuk kamu carikann nama mempelainya, dan mendapatkan jejak digitalnya," jawab Addri serius. Ekspresi yang tak biasa Rendi lihat. "Kita lihat siapa yang punya hubungan dengan Aina, dan kita lihat apa yang kamu dapat."

Rendi memperbaiki posisi kacamatanya, merasa ngeri dengan nyali menciut karena raut Addri tampak tak main-main. Ia jelas tahu kalau Aina itu gadis yang sedang dekat dengan Gema. Tapi kenapa tiba-tiba Addri datang dan seolah ingin tahu banyak soal gadis itu? Tiba-tiba Rendi merinding sendiri. "Ini Gema tahu nggak kalau kamu nyuruh aku ngelakuin ini?"

Giliran Addri yang terdiam. Bagaimanapun ia beralasan mau datang ke rumah Rendi untuk mencari-cari info tambahan lainnya soal panti asuhan. Dan saat Gema bertanya mengapa ia harus membawa undangan milik Aina segala, ia hanya menjawab singkat dengan menggoda Gema, "Memangnya apa kamu nggak pengen tahu siapa mempelai dalam undangan ini karena rumahnya di Jepara, Gem?". Meskipun sebetulnya Gema merasa bahwa tidak seharusnya masuk terlalu jauh ke dalam urusan pribadi Aina sampai harus lancang mencaritahu siapa orang yang mengundang gadis itu, nyatanya ia tak memungkiri kalau ingin tahu juga. Dan di situlah, akhirnya Gema mengizinkan Addri membawa undangan tersebut.

404 NOT FOUND [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang