Usai mendapatkan soal apa yang dilakukan Pak Zain melalui Danu, Anna lebih senyap hari ini. Ia hanya melakukan tugas-tugasnya, menghadap layar komputer, memasak menggantikan Delia, kemudian bergabung sesekali dengan Pak Jaka di depan mading besarnya. Banyak foto tertempel di sana. Kemal dan anak istrinya, Darmawan Yusniar dan anak istrinya juga, Akmal, Handoko, dan mata Anna terfokus pada satu tempat yang digaris merah berbentuk segi empat, yang menandakan kekosongan dengan tanda tanya menggunakan tinta spidol merah juga di tengah-tengahnya. Gadis itu bersidekap, pikirannya melanglangbuana. Sekiranya, bagaimana cara ia dapat satu nama itu jika orang-orang yang ia tahan di sini tunduk dan seperti bersumpah mati demi melindungi orang tersebut?
"Mikir apa, An?" Pak Jaka tiba usai sejenak mengambil kopi. Beliau berdiri di sebelah Anna, mengikuti pandangan mata gadis itu ke arah mana. "Ah, ya. Memikirkan strategi untuk memancing mereka bicara? Sebenarnya, kalau menurut saya, istrinya Kemal lah yang paling rapuh dan bisa dimanipulasi. Tinggal dibelok-belokkan pertanyaan kita, maka, dia akan terperangkap dan mengatakannya sendiri."
Anna masih tak bergeming, hanya meringis singkat untuk menertawakan argumen Pak Jaka kali ini. Pasalnya, bagi Anna, wanita itu kebalikannya dari yang Pak Jaka katakan. "Nggak, Pak. Saya yakin dia wanita yang punya pendirian. Dia berpegang teguh pada pilihannya. Lihat saja, selama ini dia hanya memberitahu poin-poin sepele yang sebenarnya memang berarti, seperti lokasi markas, rencana besar sindikat itu. Anda nggak paham ya, kalau dia melakukan semuanya, semata-mata hanya untuk melindungi suaminya, Kemal? Dia itu pintar. Tahu kapan ia harus bicara, dan kapan ia harus tetap diam. Tahu kapan harus memperlihatkan sisi lemahnya, dan kapan harus sekeras batu hatinya!" ungkap Anna panjang lebar dan di kalimat terakhir, tepatnya pada tiga kata terakhir kalimatnya, sedikit ia tekankan yang berakhir membuatnya sekilas mengingat Gema.
Sementara itu, Pak Jaka melirik dan melihat tatapan kosong rekan lintas usianya tersebut. "Bagaimana kamu bisa menilai semua itu, An?"
Anna menoleh. "Pak, saya juga perempuan. Walaupun oleh seluruh dunia, perempuan dipandang lebih rendah dari laki-laki, kenyataannya, pernyataan tersebut udah banyak terbantahkan. Perempuan-perempuan mulai turun langsung ke dalam bidang yang di luar kiprahnya. Perempuan jadi pemimpin negara, dan pemimpin-pemimpin di bawahnya. Perempuan banyak muncul sebagai pemenang dalam hal apapun bahkan penelitian-penelitian udah membuktikan secara sains dan menempatkan perempuan lebih unggul dari laki-laki dari segi pengaturan pikiran dan dampak dari emosi serta perasaan mereka. Bukti bahwa laki-laki bisa mereka buat tunduk di depan mereka. Jadi Anda jangan meremehkan kami para perempuan dengan menganggap kami ini rapuh, Pak." Usai berkata panjang lebar, Anna lantas mengambil spidol merah di atas meja di depannya. Sekejab melirik ke Pak Jaka, lalu menarik garis dari tempat kosong bertanda tanya itu, dengan Kemal.
"Apa maksudnya itu?" bingung Pak Zain, mengernyit. Beliau meletakkan cangkirnya di meja dan mendadak berpikir.
"Saya bisa buktikan penjelasan saya tadi, Pak. Lihat saja," balas Anna sambil tersenyum penuh arti.
"Caranya?"
"Saya akan bicara dengan Kemal sekali lagi."
Masih dalam keadaan bingung dan menebak-nebak tentang apa strategi Anna kali ini, Pak Jaka merasa tertantang untuk membuktikan sendiri. Beliau pun menyetujui untuk memberikan kesempatan memulai interogasi lagi meskipun pagi tadi itu sudah dilakukan dan tidak membuahkan hasil. Bahkan Pak Jaka dengan santainya bilang untuk membiarkan Anna bicara berdua, sementara beliau memantau percakapan dari ruang pantau. Tanpa dua orang itu tahu, bahwa dua orang baru saja masuk ke markas dan melangkah mendekat. Tempat Anna dan Pak Jaka memang bisa dibilang berada di ujung ruangan, sementara di sebelahnya, ada dapur dan tempat makan. Barulah di depan dapur, komputer dengan meja kerja masing-masing berjejer rapi yang bila ditarik lurus, langsung mengarah ke pintu masuk karena ruangan Pak Zain selaku atasan, kamar-kamar, dan ruang senjata, semuanya ada di sisi sebelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AcciónGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)