Gema sedang membatin sekaligus berpikir. Banyak hal telah ia lewati sejauh ini sepanjang usianya. Hal yang cukup membuatnya tidak habis pikir pada kenyataan adalah keserakahan orang-orang yang punya kuasa. Seperti contoh adalah apa yang menimpa ibunya. Meskipun sudah tujuh belas tahun lamanya kasus itu tak mendapatkan titik terang, baik Gema maupun ayahnya meyakini bahwa hal tersebut dikarenakan pabrik di mana sang ibu bekerja di sana sebagai manager keuangan, melakukan eksploitasi buruh dengan memotong tanpa kasihan gaji mereka, alasan ibunya dihabisi adalah karena terlalu gencar menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap hal tersebut. Gema selalu ingin mencaritahu sendiri semua itu, namun ayahnya selalu melarang dengan alasan bahwa tidak ada lagi yang perlu untuk dipermasalahkan sekarang. Gema sudah terbebas dari tanggung jawab meneruskan usaha tekstil keluarganya dengan memilih jalan sendiri menjadi polisi, lalu apa lagi yang ia mau? Ayahnya tidak ingin membuka lagi luka lama tersebut. Biarlah apa yang terjadi di masa lalu tersimpan di sana, masa depan jangan diusik, begitu kata ayahnya. Ayahnya tidak tahu saja, bahwa masa lalu itu tidak pernah tersimpan di tempatnya seperti apa yang dikatakan, namun tersimpan dalam diri Gema. Dalam pribadinya. Dalam hatinya.
Gema yang hanya diam itu tentu menarik fokus Addri, namun sebelum ia melempari pertanyaan, Gema sudah tersadar duluan dari lamunan. Ia justru malah mengajak untuk membahas tentang pekerjaan yang mana makin jelas saja di sini bahwa Aina memang tidak terlibat. Ada rasa bersalah di hati pemuda yang dengan tega menyuruh gadis tersebut tidur di sel semalaman, tapi andai Aina tahu kalau ia hanya melakukan apa yang menurutnya perlu. Ia hanya tidak mau mengambil resiko mengenai semuanya, terlebih saat bukti keterlibatan Handoko belum cukup kuat untuk dibawa ke pengadilan.
Meja ruang tengah rumah Gema dipenuhi banyak map dan berlembar-lembar laporan. Di sela-sela mengecek dokumen dari map yang dibawanya pulang sekembalinya menemui rekan dari IT yang belum lama tadi mengabari kalau telah berhasil melacak lokasi ponsel terakhir Rani, ponsel Gema berdering. Ia melirik, melihat bahwa bukan rekan dari IT tadi yang menelepon untuk memberikan informasi lanjutan yang dijanjikan melainkan salah satu anggota timnya yang ada di kantor.
"Lapor, Bang. Ada yang nggak beres di sini, sebaiknya Abang segera ke sini," kata suara di seberang telepon.
"Di mana? Kamu di kantor, kan?" balas Gema mengernyit.
"Iya, Bang."
Segera Gema mengajak Addri bahkan tak memberitahu alasan mengapa dirinya harus cepat kembali ke kantor malam-malam, sebab ia sendiri juga tidak mengerti. Rupanya, di kantor, tepatnya di ruang kerja mereka, Firli yang kebetulan masih di sana karena lembur, sudah menunggu sembari menggigit ujung jarinya menandakan bahwa ia sedang gelisah. Addri langsung mendekat ke teman perempuan yang suka sekali ia isengi itu. Yang sekarang dibaca dari keadaan, ini bukan waktu yang tepat untuk menggodanya. "Kenapa, Fir?"
Bukan bertanya seperti Addri, Gema yang begitu masuk ruangan langsung menoleh ke meja kerjanya, sudah tahu dengan sendirinya mengapa ia harus segera kembali. Pemuda itu mengambil sebuah kertas putih yang dirobek asal. Sebuah surat yang ditulis dengan tinta merah yang langsung dimengerti alasannya dengan baik oleh Gema, bahwa itu merupakan sebuah ancaman. Tangannya yang lain mengepal kuat ketika ia membaca surat itu dalam hati. Sepertinya, melihat semua yang terjadi beberapa hari ini di mana hanya Handoko dan atasannya yang berurusan dengannya—lebih tepatnya urusan yang tidak berarti sesuatu yang baik—maka bisa dipastikan ini ulah salah satu dari mereka. Tapi tunggu, kenapa ia harus mencurigai salah satunya saja jika selama ini usahanya mengusut tuntas pembunuhan Rani selalu dihalang-halangi oleh atasannya?
Jangan lupa bahwa Handoko orang yang berpengaruh di masyarakat, dan atasannya, selain berusaha merebut hati Firli, tidak mempedulikan apapun selain uang, Gema tahu itu. Mata pemuda itu menyorot tajam ketika bertatapan dengan Firli dan Addri. Gema yakin dua teman dekatnya tersebut memikirkan persis seperti yang ia pikirkan saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
ActionGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)