"Mereka diculik, kan?"
"Tidak! Mereka tidak diculik!" bantah Darmawan. "Mereka ... mereka di Mexico! Kalian ini sok tahu sekali, ya!"
"Kalau begitu kenapa Anda melihat ke foto mereka?" tanya Gema dengan nada mengintimidasi.
Addri menyahut, "Dengan pandangan yang sedih."
Tangan Gema menumpu pada meja kerja sembari mendekatkan wajahnya ke depan Darmawan yang tertahan dalam posisi duduk karena Addri yang dibelakangnya tengah menekan kedua bahunya sekarang. "Jawab saya. Apa hubungan Anda dengan Handoko? Katakan apa bisnis kotor yang kalian rencanakan tentang acara amal yang bahkan tidak diliput media! Katakan, dan kami akan membantu Anda mendapatkan istri dan anak Anda kembali. Handoko mengancam Anda menggunakan mereka, kan?"
Mendengar itu Darmawan menangis lirih. Otaknya sudah macet karena hanya dipenuhi soal istri dan anak perempuannya. Perasaannya melunak dan di depan orang asing pun ia sampai tak kuasa menyembunyikan kelemahannya. Pikirannya sudah kalut. Ia sudah lelah berpura-pura baik selama dua bulan ini. Emosi yang bercampur marah karena ia tidak bisa apa-apa, menguasai dirinya sekarang. Mungkin tampaknya akan terlihat sangat mudah untuk bicara dan membuka kedoknya sendiri yang terlibat dalam konspirasi besar, menempatkan jabatannya sebagai petinggi daerah terancam. Namun bagi seorang ayah yang kehilangan putrinya dan seorang suami yang kehilangan istrinya, logika Darmawan telah dikalahkan oleh perasaan. Ia menyerah. Ia telah merelakan semua image yang ia bangun sebagai petinggi yang mengedepankan kejujuran sirna begitu saja dan masyarakat akan mencaci makinya, meludah di depannya, bahkan mengutuknya agar selalu hidup dalam kekhawatiran. Ia sudah tidak peduli. Saat ini, petinggi itu sudah tiada. Yang tersisa hanyalah seorang ayah dan suami yang bersedih serta terluka. Tak lebih dari seorang laki-laki yang putus asa.
"Tidak. Handoko tidak mengancam saya. Dia justru menjanjikan kepada saya untuk menemukan istri dan anak saya yang diculik entah oleh siapa," jawab Darmawan lemah.
Addri yang masih juga berada di belakang laki-laki itu pun terkekeh. Sambil mengintip ke depan wajah Darmawan, ia mengejek pemikiran lugu dan bodoh seorang petinggi seperti Darmawan ini. "Dan Anda percaya dengan bualannya? Apa sedikitpun Anda tidak punya kecurigaan kalau justru Handoko sendirilah yang menculik istri dan anak Anda?"
Gema sama ingin tertawanya, meski hanya kekehan singkat yang ia berikan dan Darmawan yang melihat itu mendadak mematung dengan pikirannya sendiri. Apa yang barusan ia dengar merupakan suatu hal yang masuk akal. Pertanyaan yang tiba-tiba terputar di kepalanya berulang kali kini jadi fokusnya sendiri. Apa jangan-jangan yang para polisi ini katakan adalah benar? Bahwa semua ini adalah kelicikan Handoko? Darmawan pun mulai merutuki dirinya sendiri.
"Lalu, dia meminta imbalan apa setelah menjanjikan itu pada Anda?" tanya Gema kemudian.
Jantung Darmawan seperti berhenti berdetak beberapa saat. Dengan menoleh lemah, ia memutuskan untuk mengaku. "Dia mau membantu menemukan istri dan anak saya, asal saya menuruti apa yang diinginkannya."
"Yaitu?" balas Addri.
"Melindungi para pelaku bom gereja hari ini untuk bersembunyi di rumah ini, dan mengamankan mereka melalui Bandara Soekarno-Hatta untuk meloloskan diri ke Afganistan bersama dengan senjata-senjata selundupan."
Mendengar kata 'senjata selundupan' kembali mengingatkan Gema akan apa yang ia temukan di panti asuhan. Tanpa perlu ia katakan pun Addri yang tangannya tak lagi menekan pundak Darmawan karena tiba-tiba hilang tenaga, sama-sama paham duduk permasalahan sekarang. Soal siapa Handoko dan bisnis apa yang dilakukannya. Soal apa yang bisa orang itu lakukan hingga berhasil membuat petinggi macam Darmawan tak mampu melakukan apa-apa. Dan di saat yang sama, Gema kembali menyadari dengan benar seberapa berkuasa laki-laki bernama Handoko itu. Seberapa kuat perlindungan yang dipunyai hingga lolos dari terdakwa pembunuhan pun bisa semudah membalikkan telapak tangan. Kini ia tahu siapa yang ia hadapi. Seorang yang jelas punya relasi luas, sangat luas. Sebab sudah jadi rahasia umum bahwa sindikat teroris seolah tak pernah surut, selalu bercabang, selalu punya akar.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
حركة (أكشن)GENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)