"Siapa kalian?"
Pertanyaan itu dilontarkan oleh seseorang yang saat kabur malam tadi langsung dihadang oleh Pak Jaka yang memang sudah memantau sejak awal hanya saja tempat persembunyian untuk menembak target — yang dalam kasus ini adalah Gema namun malah meleset mengenai Addri — nyaris tak terdeteksi karena berada dalam tempat yang gelap tanpa penerangan. Jika saja Pak Jaka tak datang dan menghajar Kemal tepat waktu saat itu, maka sudah pasti yang tertembak adalah bagian atas tubuh Addri, bisa kepala, leher, atau paling beruntung pundak. Sebab sedari awal, Kemal memang manarget kepala Gema langsung atas perintah Handoko. Tepat saat itu Kemal pun masih berhasil melarikan diri, sampai akhirnya Pak Jaka berhasil melumpuhkannya dengan menembak kaki, lantas di bawa kemari. Laki-laki yang masih belum tahu bahwa anak dan istrinya sedang berada di tempat yang sama itu, sepanjang jalan memohon agar tidak dibunuh.
Di ruang interogasi yang sekarang diisi tiga orang yaitu Kemal sendiri, Anna, dan Pak Jaka, dengan ruang sebelah yang dipantau oleh Delia dan Danu tanpa keduanya bisa dilihat oleh orang di ruang interogasi, tak ada percakapan sama sekali. Baik Anna maupun Pak Jaka secara kompak tak mengatakan apapun sekalipun untuk sekadar menjawab pertanyaan Kemal tentang siapa mereka. Hening. Yang berisik secara terus-menerus malah hanya Kemal. Bukti bahwa laki-laki itu ketakutan dan gugup berada di situ.
"Kenapa mereka cuma diam, nggak tanya apa-apa gitu?" heran Delia di ruang pantau. Lima belas menit lamanya ia kebingungan seperti orang bodoh karena tak tahu apa yang sedang ia saksikan sekarang. Lima belas menit memang sepertinya tidak lama, namun jika menyaksikan apa yang tidak dimengerti tentu akan sangat membosankan, bukan? Delia menyayangkan bahwa pagi harinya harus diisi dengan pemandangan di depannya sekarang.
"Lihat aja nanti," balas Danu tenang sambil menyeruput kopinya yang baru ia buat sebelum kemari dan sekarang sudah dingin. "Duduk lah, Del. Jangan tegang-tegang. Pak Zain menyuruh kamu ikut kemari karena ingin kamu mempelajari cara mainnya."
Delia yang pasrah pun hanya duduk. Batinnya, cara main macam apa yang harus terus menunggu berlama-lama tanpa mengatakan apapun. Mau dapat informasi dari mana kalau begitu caranya? Ya, itulah pemikiran orang-orang awam sepertinya yang sangat baru dalam hal ini. Delia sampai bersumpah lebih baik belajar coding saja dengan Danu selama tiga hari tiga malam penuh daripada pusing sendiri melihat Aina di sana yang cuma mondar-mandir dan Pak Jaka yang duduk tenang membaca koran. Apa? Membaca koran? Delia sampai geleng-geleng dibuatnya. Bagaimana bisa Pak Jaka bisa fokus membaca koran jika Kemal saja sibuk berisik bertanya ini-itu sejak tadi? Tapi tunggu, kalau dilihat-lihat, Kemal itu tampak ketakutan. Wajahnya saja sudah pucat pasi sekarang. Ia meronta dalam kursi yang bersatu dengannya akibat lilitan tali. Ia tampaknya sangat stress berada di dalam sana dengan Anna dan Pak Jaka yang tak menganggapnya ada. Ya bagaimana tidak stress? Aku pun kalau ada dalam situasi seperti dia juga stress sekali. Dikira enak apa bicara sendiri, memangnya aku hantu yang tidak tampak wujudnya?
Ah, ya! Sekarang Delia dapat poinnya. Ia akhirnya paham cara main yang dimaksudkan di sini. Dengan antusias ia menepuk lengan Danu sampai cangkir kopinya hampir jatuh. "Dan! Oke aku mengerti sekarang. Anna dan Pak Jaka sengaja kan begitu? Untuk membuat Kemal tertekan?"
Danu menoleh dengan lirikan sinis, namun Delia tampaknya tidak sadar. "Iya," ia hanya menjawab singkat kemudian mengecek jam tangannya. "Tunggu lima menit lagi."
Di situ Delia tak bertanya, karena mendadak pertunjukan di depannya menjadi seru, lebih seru dari tayangan geng motor di televisi yang sampai beribu episode tiada habisnya itu. Dan benar saja. Lima menit kemudian. Suara Anna menyahut. "Apa yang direncanakan Handoko? Kami dengar-dengar, dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari teror bom di Bogor kemarin?"
Sekarang, malah giliran Kemal yang diam. Di depannya, Pak Jaka beranjak mendekat padanya, membuatnya curiga bahwa ia akan dihajar atau semacamnya, namun justru beliau malah melepaskan tali di tubuhnya. Sekarang yang tersisa hanya borgol, yang memang sengaja tidak dibuka. Pada akhirnya, saat melihat Pak Jaka kembali duduk di kursi di hadapannya berseberang meja, Kemal dirundung penasaran. "Apa kalau aku tidak mengatakan apa-apa, kalian akan membunuhku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AksiGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)