Sejak malam tadi, Firli dan Gema tak kemana-mana. Hari ini pun rekan tim mereka banyak membantu sehingga keduanya bisa tetap ada di rumah sakit, menunggui Addri yang belum dapat dijenguk karena berada di ruang ICU. Sebetulnya bukan karena tempatnya, namun karena kondisi Addri dinilai belum memungkinkan oleh dokter untuk dapat dibesuk. Di kursi tunggu, Firli meletakkan jaket milik Gema yang entah kapan dipasangkan di badannya guna menyelimutinya. Ia menengok kiri-kanan, mencari Gema dan temannya tersebut sedang berdiri menumpukan satu tangannya di depan pintu ICU sambil menunduk lemah. Sepertinya pemuda itu tidak tidur semalaman. Ya, wajar. Firli saja juga sekiranya hanya tidur tak ada tiga jam, itu pun akibat tak sengaja tertidur. Huh, Firli menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Merilekskan pikirannya yang kalut dan kedua matanya yang terasa aneh karena banyak menangis. Belum sampai ia benar-benar mendapat ketenangan, seseorang tiba. Berhenti tepat di depannya.
Delia. Dia telah sampai di rumah sakit. Tak ada Pak Zain bersamanya karena memang mereka berpisah jalan di parkiran. Entah atasannya yang baru itu mau ke mana. Pak Zain selalu berhasil membuatnya sungkan dan segan untuk menanyakan apapun selain menunggu beliau saja yang memulai percakapan. Untuk pertama kali, berbasa-basi akrab jadi hal yang tampak tak sopan bagi seorang Delia. Di sepanjang perjalanan tadi, Pak Zain sudah menjelaskan alasan mengapa dirinya sekarang diajak kemari, ke rumah sakit. Adalah untuk melakukan apa yang beliau suruh. Mengajak bicara Gema. Bingung? Ya jelas, jangan ditanya. Pak Zain hanya menjelaskan sampai situ saja tanpa ada lanjutan. Entah sengaja main tebak-tebakan dengan Delia atau memang memaksanya mempergunakan otak dengan benar.
Tanpa Delia tahu, bahwa sebetulnya Pak Zain sangat tahu bahwa kabar tertembaknya Addri sangat membuat gadis itu resah. Ya, seperti kata Anna. Pak Zain selalu tahu apapun itu sekalipun semua rekan tim menyembunyikannya.
"Delia?" panggil Firli yang sebetulnya kelewat kaget mengapa tiba-tiba gadis itu ada di sini sekarang. Suara Firli berhasil membuat fokus Gema berpindah, menoleh.
Langsung saja Delia membeku di tempat ketika mendapati Gema menyorotnya teramat tajam hingga rasanya seolah leher gadis itu tercekik. Kemarahan itu, ia dapat melihatnya dengan jelas. "Aku... Aku datang ingin tahu-"
"Ingin tahu apa?!" sambar Gema. "Sedang apa kamu di sini?!"
Firli merasakan atmosfer di sekitarnya berubah memburuk. Ia beranjak dan menjauhkan Gema dari Delia. Sial, keadaan macam apa ini? Di saat Addri masih berada di dalam sana, belum siuman usai melewati masa kritisnya, sekarang emosi temannya akan membludak di sini? "Gem, tolong tenang. Ingat ini rumah sakit. Kita di depan ICU pula. Tolong," bisik Firli memohon dengan sangat namun tatapan Gema masih sebegitu tajamnya pada Delia tanpa berpaling sedikitpun. "Gem. Aku mohon. Ini bukan saatnya!"
Pada akhirnya Gema melirik ke teman perempuannya yang tampak begitu memohon padanya. Pemuda itu mengusap wajahnya dan berbalik. Berkacak pinggang dengan menunduk. Ia menyayangkan sekali mengapa sekarang ia jadi seperti anak kecil yang tak teratur. Biasanya tak pernah ada yang membuatnya sesesak sekarang selain ketika kehilangan ibunya. Mungkin akan kedengaran berlebihan namun kali ini, menurut Gema, yang dirasakannya sama persis dengan tujuh belas tahun lalu. Rasa kehilangan yang mirip. Kekecewaan dan kemarahan yang nyata. Semua itu terasa menyesakkan hingga ia seperti tak dapat bernapas. Tak bisa tidur. Tak tenang sama sekali. Ya, barangkali ia memang tak layak dapat kategori sebagai teman yang terbaik karena lihatlah di saat Addri sedang berjuang bertahan di dalam sana, dirinya malah sibuk dengan perasaan yang menenggelamkannya. Dan ya, kalau terjadi apa-apa pada Addri - kalau terjadi, meski tak ada yang mau demikian - Gema tak tahu akan jadi apa dirinya.
Sekarang, reserse itu sudah dapat mengembalikan kesadaran dan ketenangannya. Sebentar saja memikirkan Addri, ia dapat tamparan keras untuk waras kembali. Kini Gema berbalik lagi, mengusap bahu Firli sebentar untuk mendekat ke Delia walaupun Firli sudah menahan tangannya. Gema menyakinkan pada teman perempuannya untuk tenang. "Aku bisa atasi diriku sendiri, Fir. Jadi, biar kita sama-sama tahu apa mau dia ke sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AcciónGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)