Walaupun semestinya orang kepercayaan Handoko yang membelot dan jadi mata-mata telah menyiapkan pesawat pribadi di mana di dalamnya terdapat para intel untuk menyergap Handoko, kali ini Addri merasa bahwa justru itulah kesempatan yang baik. Ia pun segera menyampaikan pendapatnya pada Pak Zain, Pak Jaka, serta Danu, dan ketiganya ditambah Firli, setuju akan ide cemerlang tersebut. Di situ, Danu yang menyadari bahwa Addri punya otak yang brilian, sekarang jadi mengerti mengapa Delia — si anak kemarin sore, menyukai reserse itu. Sebetulnya, Delia tidak dapat dikatakan sering juga dalam menceritakan Addri. Paling-paling ya hanya sekadar membicarakan tampangnya yang cool dan rupawan, dengan kepribadian yang humoris di mana selalu berhasil membawa atmosfer yang menyenangkan.
"Dilihat-lihat, aku nggak kalah ganteng sih," Danu bergumam di depan layar komputernya sambil memindai Addri yang berdiskusi dengan Pak Jaka di ujung ruangan, tepat di depan mading. "Tapi humorisnya itu ... nggak akan bisa aku saingi. Aku pribadi yang sangat datar. Berarti, aku nggak ada kesempatan dong, ya?"
Danu lupa meskipun ia mematikan alat komunikasi dari semua anggota tim rahasia, namun ada satu yang sudah di-setting untuk tetap terhubung bagaimanapun caranya karena keduanya sama-sama meng-handle urusan koneksi dan menghubungi bantuan serta logistik yang sewaktu-waktu dibutuhkan dalam operasi. Tak lain dan tak bukan adalah ... Delia. Ya, kini gadis itu yang bersiaga di safe-house, lumayan terperanjat dengan suara Danu. Entah siapa yang sedang pemuda itu maksud, tapi entah mengapa Delia masih tak ingin menyahuti karena tahu bahwa mungkin Danu sedang tidak sadar bahwa ada yang mendengarkannya. Kebosanan sekaligus kegugupan yang muncul dalam benak gadis itu karena kesepian tak ada yang bisa ia ajak bicara, mendadak penuh dengan rasa penasaran hanya karena ungkapan Danu. Ia menunggu, sampai suara pemuda itu kembali terdengar.
Di markas sana, Danu menghela yang terdengar berat di pendengaran Delia. "Delia ... Delia ... Dia masih bertahan menyukai Addri nggak ya kalau dia lihat bagaimana sikap manis Addri pada Firli?" Bukan tanpa alasan Danu berguman begitu. Pasalnya ia baru saja melihat Addri yang berjalan bersama Firli hendak ke ruang senjata dan luka di pinggangnya tersenggol meja, membuatnya terdiam di tempat mesti tanpa mengaduh dan itu membuat Firli cemas setengah mati. Selanjutnya, Addri malah curi-curi mencium kening Firli ketika gadis itu menunduk memeriksa luka pemuda itu.
Sementara di tempatnya sekarang, tepatnya di Bogor, Delia merasakan sesuatu yang tak seharusnya ia rasa di saat-saat seperti ini. Rasa sakit, yang sebetulnya tidak terlalu, hanya saja cukup mengganggu. Untuk sesaat Delia sempat mengira, ungkapan Danu yang kedua itu adalah sengaja ditujukan untuk menyindirnya. Padahal walaupun tidak disindir, ia sendiri sudah sadar diri untuk mundur sejak mendengar Addri mengigau nama Firli di ICU kala itu. Baru saja Delia hendak protes, setidaknya agar Danu berhenti berguman soal dua sejoli tadi. Ucapan gadis itu terpaksa melayang di udara sebelum sempat terucap satu suku kata.
"Andai aja Delia tahu, sekalipun aku ini datar dan suka bicara cepat sampai membuat dia nggak habis pikir, aku adalah orang yang siap membahagiakannya. Memberi semua yang aku bisa lakukan untuk ditukar dengan senyumannya. Dia nggak seharusnya menunggu Addri yang jelas perasaannya untuk orang lain," gumam Danu lagi, masih bicara sendiri, dengan satu tarikan napas. Delia ternganga mendengarkannya. "Harusnya Delia sadar ya, kalau dia dan Addri itu ... nggak seperti Anna dan Gema yang saling mencintai sekalipun mereka berdua sama-sama rumit. Dia dan Addri itu beda jalur. Nggak ada di angkot yang sama. Anak kemarin sore sih, makanya bodoh."
Delia membuka mulutnya makin lebar ketika mendengarkan kalimat Danu yang terakhir. Tapi ia tak bisa menahan senyumnya yang merekah. "Dan, anak kemarin sore ini, udah ikut operasi, lho. Dijadikan umpan dan diseret-seret sama orang jahat. Dia juga berani melawan anaknya pejabat sampai bentak-bentak. Kayak begitu masih dibilang bodoh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
ActionGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)