Suasana mendadak menegang untuk beberapa saat suara detik hidung mundur itu terdengar jelas. Anak Handoko langsung direngkuh oleh salah seorang aparat, dimaksudkan agar tak melihat ayahnya yang sudah tidak waras itu. Senjatanya dan senjata Anna telah disingkirkan dari keduanya, namun keadaan membuat Gema harus menentukan langkah dalam hitungan detik. Pemuda itu pun membungkuk cepat. Ia menyimpan pistol yang diselipkan pada kaus kakinya, tertutup celana dan luput dari pemeriksaan orang-orang Handoko yang untungnya kurang teliti. Sedetik kemudian, sebuah peluru telah menembus kening Handoko hingga membuatnya terpental dan hampir terbanting ke lantai jika saja Gema kurang sigap barusan. Sekarang diambil alih lagi oleh Anna, namun entah apa yang membuatnya tidak segera mengawali keluar dan alhasil aparat pun menjalankan inisiatif sendiri dengan segera meninggalkan lokasi. Menembak matinya merupakan hal yang harus dilakukan ketimbang hitung mundur itu tak berguna lagi ketika Handoko langsung menekan tombol merah yang bisa meluluh-lantakkan semuanya dalam sedetik.
"Aaaa!!" Pengasuh anak Handoko memekik histeris melihat pemandangan itu namun belum sempat mencerna lagi kejadian yang secepat itu terjadi, ia beserta anak majikannya dibawa keluar dengan segera oleh aparat untuk diamankan.
"Anna, pergi!" sentak Gema yang sudah membopong Handoko untuk ia bawa ke pekarangan belakang. Setelah itu, tinggal mengusahakan mematikan bomnya, atau jika terlambat, ia tak akan sempat mencari jarak aman. Gadis yang diajak bicara masih diam di tempatnya. Membuat Gema terpaksa menabraknya kasar. "Pergi sekarang juga!"
Anna membuang napas kasar. Ia tidak mendengarkan Gema, malah menatap nanar akan kepergian pemuda itu yang punggungnya makin menjauh darinya. Seorang aparat mengembalikan kesadaran Anna ketika hendak mengajaknya untuk segera pergi dari tempat itu, namun tubuh Anna tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Ia mendorong aparat tersebut dan segera berlari ke belakang rumah. Sepertinya bukan tanpa alasan pekarangannya dibuat begitu luas. Gerasak-gerusuk di earpeace tak gadis itu hiraukan. Ia membiarkan siapa saja bicara di sana tanpa punya niatan untuk menjawab mereka. Ya, layaknya Handoko, Anna juga kehilangan kewarasannya sekarang. Ia merasa harus membantu Gema, kalau perlu mengambil alih bagiannya. Ia tidak bisa hanya diam begitu saja menunggu Gema menyusulnya atau mendengarkan ledakan besar.
"An, kamu di mana, An? Aku masih menunggumu di mobil. Ayo cepat kemari!" Terdengar suara cemas Delia yang gemetar.
Itu tentu membuat Pak Zain yang ada di markas rahasia pun terhenyak. "A-apa? Apa ini maksudnya? Delia? Anna di mana?"
"Semua sudah keluar dari rumah itu, tapi Anna belum, Pak."
Semua orang memanggil dirinya, tapi itu tak menghentikan langkah Anna. Akhirnya ia sampai di pekarangan belakang, tepat di belakang Gema yang sedang fokus mengecek kabel demi kabel di atas jasad Handoko. Kedatangan Anna tentu saja mengejutkannya, dan pemuda itu langsung naik pitam. "KENAPA KAMU KE SINI?! PERGI! PERGI SEKARANG JUGA!"
"AKU NGGAK AKAN KE MANA-MANA!" balas Anna membentak.
Ingin sekali Gema memaki dan merutuk sedemikian rupa, tapi ia juga sadar bahwa hitung mundur tinggal dua menit lagi. Pemuda itu sudah tak mempedulikan Anna dan segera memindai lagi kabel mana yang harus ia potong agar instalasinya rusak. Anna pun tidak berkata apa-apa lagi dan berjongkok, ikut menyimak yang Gema lakukan. Dengan masih menatap intens pada bom itu, Gema angkat suara. "Bukan aku yang nggak percaya denganmu. Justru kamu lah yang tidak mempercayaiku," ujarnya dingin dan penuh kesedihan.
Hitung mundur seketika berhenti. Tentu saja setelah Gema memilih kabel yang tepat. Sudah, segitu saja. Ketegangan yang ada justru bukan karena ia harus buru-buru sekaligus teliti, tapi karena kehadiran gadis yang ia cintai yang sama sekali tak memiliki keyakinan terhadapnya dan malah membahayakan dirinya sendiri. Gema menekan earpeace-nya lalu mengabarkan ke semua anggota. "Gema masuk. Bom di tubuh Handoko telah berhasil saya matikan. Semua aman."
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AksiyonGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)