29 :: KETERBUKAAN

208 25 1
                                        

Jam kantor sudah usai, dan umumnya jalanan Jakarta macet sekali. Itu membuat Anna harus bersabar lebih ketika menunggu Addri di sebuah kafe sepi di daerah pinggiran. Ia langsung tahu mengapa Addri memilih tempat yang seperti ini untuk mereka bicara karena akan aman dari orang-orang. Ya, ketika tadi siang ia pamit dari kantor polisi setelah menunggu tanpa kepastian berjam-jam karena tak tahu kapan Gema kembali ke sana, Addri sempat membisikinya untuk bertemu di kafe ini, sore ini. Berkali-kali Delia dari markas sudah menelepon, bertanya banyak hal namun ia tidak bisa menjawab sekaligus dalam telepon karena pikirannya sedang tidak nyaman. Anna hanya mengatakan bahwa akan menceritakan semuanya saat kembali ke markas saja. Ia cukup jengah dengan panggilan demi panggilan yang tetap dilakukan Delia, sehingga terpaksa mematikan ponselnya.

Hampir satu jam sudah ia tiba di sini. Matcha dalam cangkir putih di hadapannya juga sudah ludes dan membuatnya memesan untuk yang kedua kali. Ia pikir cokelat panas akan merilekskannya. Lima menit setelah cangkir kedua disajikan, langkah kaki mendekat membuat gadis itu menoleh. Siapa lagi kalau bukan Addri. Kini mereka duduk berhadapan, dibatasi meja kayu yang punya ukiran di tiap sudutnya. Cahaya lampu di tempat tersebut remang-remang entah sengaja dibuat begitu agar kafe memiliki unsur keunikan dan estetika, atau kebetulan lampunya memang hampir mati. Di depannya, seorang reserse rupawan yang sebelas dua belas dari Gema, masih menatap dingin. Belum ada percakapan sampai kopi hitam pahit yang dipesan Addri tiba.

"Kamu nggak tanya kenapa aku pengen kita ketemu di sini?" tanya Addri, usai menyeruput satu kali minumannya.

"Menurutku, aku nggak perlu menanyakan apa yang aku udah tahu, Ad."

Addri terkekeh sinis. Suasana hatinya makin memburuk setelah membicarakan semuanya dengan Firli siang tadi. Tapi sekarang, ia kesampingkan itu. Ia prioritaskan apa yang ingin ia ketahui. "Jadi kamu udah tahu kalau aku yang berusaha cari tahu tentang kamu? Ya, ya, ya. Apa kata orang-orang itu benar ya ternyata?"

Anna beringsut. "Tergantung. Apa dulu yang orang-orang katakan?" balasnya masuk akal.

"Aku tahu kamu intel, Aina-Oh maaf, atau mungkin itu bukan namamu yang sebenarnya? Mungkin juga, kamu bukan intel tapi informan musuh, ya? Kamu membuat usaha penyidikan yang Gema lakukan selama ini jadi buram. Kamu orangnya Handoko? " tanya Addri memicing. Tapi dilihatnya raut gadis di depannya sama sekali tak terlihat bermasalah, malah tenang-tenang saja, meskipun senyap. Addri menghela pelan. Mencoba untuk tidak marah sebab ia tahu kemarahan hanya membuat segalanya makin pelik dan tak terselesaikan. Sekarang ia menatap Aina lamat-lamat. Hampir ia buka suara namun kata awal yang ia ucap terpaksa harus menggantung di udara karena Aina telah lebih dulu menyahut.

"Jangan memperlakukan aku seolah-olah aku adalah musuh, Ad. Di mana pikiranmu? Kalau aku orangnya Handoko, apa mungkin aku biarin Gema tahu rahasia panti asuhan itu? Membuat usaha penyelidikan buram katamu? Justru tanpa aku, kalian cuma berjalan tanpa arah." Anna merasakan seluruh hal yang tertahan tentang kebohongannya. Sekarang akan ia bagi pada orang yang justru tak pernah ia bayangkan akan membuatnya mengatakannya. "Kita sama. Musuh kita sama. Apa yang kita kejar juga sama. Kamu nggak seharusnya sebenci ini sama aku."

"Kamu membohongi sahabatku, Aina. Kamu mempermainkan Gema. Apa menurutmu sekarang aku nggak berhak marah? Aku nggak berhak benci?" Addri memicing sekali lagi. Ia masih menahan dirinya agar dapat bicara baik-baik dengan gadis itu. Pembelaan tadi meski diucapkan secara angkuh, sangat masuk akal baginya. "Apa yang kamu lakuin sebenarnya, ha? Sekalipun musuh kita sama dan yang kita kejar memang sama, apa perlu kamu masuk ke dalam hidup Gema sejauh itu? Haruskah kamu menjadi orang lain untuk punya tempat di hatinya?"

Kali ini ucapan Addri membuat Anna terkekeh geli, sungguh ia hampir tidak percaya bahwa pemuda itu akan mengatakan semua itu barusan. "Ad, kamu lupa ya kalau semua itu terjadi karena kamu!" ketusnya dengan nada yang mulai meninggi. Berhasil membuat Addri terkesiap. "Siapa yang pertama kali menyebutkan nama Ainastiti Aksara ke Gema? Siapa yang mencaritahu tentang aku dan memberikan semua biodataku ke Gema? Siapa juga yang mengirimkan orang ke Jogja untuk mencari aku, ha? Siapa yang buat surat panggilan untukku? Siapa, aku tanya?! Semua kebohongan ini, semua topeng ini, nggak akan terjadi kalau kamu nggak memulainya, Ad."

404 NOT FOUND [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang