"Keadilan macam apa yang cuma melatih anak panti yang laki-laki, tapi nggak membekali kemampuan melindungi diri juga untuk yang perempuan?" tanya Anna, lebih mirip orang mencibir.
"Karena kami punya tugas sendiri-sendiri. Ada porsinya masing-masing," jawab orang yang diajak bicara. "Siapa kamu ini sebenarnya? Kenapa harus menculik aku dan anakku? Anakku masih kecil, dia nggak sepatutnya terlibat dalam semua ini!"
"Seharusnya kamu pikirin itu sebelum kamu milih untuk melakukan tugasmu. Mengawasi pergerakan orang-orang sekitar lewat warteg, kan?" tukas Anna. "Kamu apa nggak sadar kalau kamu ini diperalat? Hidupmu nggak bebas karena tugas-tugas yang harus kamu lakukan atas perintah bosmu itu. Kamu harusnya punya kesempatan untuk memilih hidupmu mau kamu arahkan ke mana setelah kamu beranjak dewasa, tapi kamu nggak menggunakannya."
"Bicara aja gampang. Kamu nggak mengalami apa yang aku alami!" sentak wanita itu lalu memeluk anak laki-lakinya dengan erat.
Dalam mobil yang menuju ke Jakarta, Anna duduk berhadapan dengan wanita pemilik warteg tadi. Wanita itu kepalanya ditutup kain, begitupun anaknya yang ada di sebelahnya. Karena tidak ada waktu untuk berlama-lama di warteg itu, Anna memilih untuk membawa mereka saja. Ia tahu wanita itu lemah dan akan dengan mudah dimanipulasi untuk mau menjelaskan semuanya. Berkali-kali wanita itu bertanya untuk apa ia dibawadibawa; ke mana ia dibawa; dan mengapa harus ditutup segala. Jelas Anna tak menjawab sama sekali, karena itu semua demi keamanan operasinya. Ia menelepon atasannya sejenak, untuk mengabarkan bahwa sudah dekat markas. Lima menit kemudian, mobil berhenti dan tampak Danu, Pak Jaka, dan yang lain menyambut di depan rumah si pak tua, lantas membawa dua tamu mereka yang adalah ibu dan anak itu untuk masuk ke lift, menuju ke bawah. Ke tempat yang tidak akan ditemukan oleh siapa-siapa.
Anak kecil yang digendong dan diberi permen lolipop agar takutnya berkurang. "Nanti waktu penutupnya dibuka, kita kasih kejutan lebih banyak permen lagi. Oke?" kata Pak Jaka.
Pemandangan yang paling mengejutkan Anna adalah adanya seseorang yang sangat ia kenali. Berada di markas itu. Delia. Anna mengerjapkan matanya sebentar, berpikir bahwa mungkin ia salah lihat, tapi nyatanya itu benar Delia. Seketika saja Delia berlari dan memeluknya dengan tumbukan keras yang mengakibatkannya sedikit mundur ke belakang. "Akhirnya aku bisa lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu baik-baik aja, An."
Anna yang masih bingung pun balas memeluk setelah beberapa saat. Danu dan Pak Jaka telah kembali dari kamar yang digunakan untuk tempat ibu dan anak tadi beristirahat. Ya, mereka tidak memperlakukan tamu yang kali ini sebagai kriminal dengan menahan di ruang interogasi. Itu dimaksudkan untuk meluruhkan ego si wanita itu agar mau bekerjasama dan menyadari betapa pernyataannya sangat penting bukan untuk orang-orang di sini saja namun untuk negara. Anna memainkan matanya, mengodekan tanda tanya besar pada Danu dan Pak Jaka soal kenapa Delia bisa sampai di sini. Ia juga melirik ke ruangan atasannya. Pak Zain tidak ada di sana, mungkin ada urusan di luar mengingat bahwa pekerjaan orang penting seperti beliau tidak hanya dalam operasi penting ini saja.
Sementara itu, ketika Delia baru saja melepaskan pelukan, Anna buru-buru bertanya. "Del, kamu sedang apa di sini, ha? Gimana kamu bisa tahu markas ini dan ada di sini?"
"Ceritanya panjang. Ngomong-ngomong, An, aku lihat kamu berkelahi di warteg itu dan wow, kamu keren banget! Serius aku nggak pernah nyangka kamu bisa terbang, lompat, sampai jungkir balik begitu!" balas Delia berapi-api. Ia tahu karena ikut menyimak layar komputer Danu yang memperlihatkan kamera yang terpasang di pakaian Anna untuk menampakkan keadaan sekitar gadis itu saat beroperasi.
"Ha?" Anna hanya tercengang tak bisa bersuara. Ia melirik rekan-rekannya yang tak jauh dari tempatnya. Danu dan Pak Jaka terkekeh akibat bisa mendengarkan juga perkataan Delia. Tangan Anna menggaruk-garuk lehernya yang tak gatal, masih tak habis pikir. Sedetik kemudian, ia pun menggandeng Delia untuk diajak duduk di sofa santai dekat dapur. Delia menurut saja sambil memasang muka lempengnya, beda dengan temannya yang kebingungan. "Kamu gimana bisa di sini, Del? Cepat ceritain."
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AçãoGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)