Sepuluh menit sepeninggal Delia, teman gadis yang ternyata bernama asli Anna, seorang laki-laki bersetelan jas hitam datang ke Gema. Suara sepatunya seperti menggema di lorong dekat ICU yang memang sepi. Gema tak sadar bahwa ada yang datang akibat sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikiran yang kacau, yang kali ini bukan tentang keadilan, kegundahan, dan kesenjangan yang selama ini jadi pertanyaan patennya di kepala, melainkan tentang segala ambisi yang mendarah daging dalam dirinya. Menutup hatinya yang rapuh hingga bertransformasi menjadi sekeras batu. Apa benar dirinya ini egois? Apa benar bahwa ambisi telah membutakannya? Apa benar selama ini ia seperti mayat hidup yang merasa jadi orang paling menyedihkan di dunia? Meski benar saat ini ia sudah dewasa, sudah banyak yang berubah di dirinya, dalam pemikiran, prinsip, dan pilihan yang dijalaninya, tapi jauh dalam diri seorang reserse tersebut, ada anak kecil yang terluka. Ya, pada akhirnya, pemuda itu hanya seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang kehilangan ibunya.
Di situ, Firli yang tahu bahwa temannya tak kunjung menyadari kehadiran orang yang entah siapa itu, mendekati Gema dan menyadarkannya dari lamunan. Satu kali ia memanggil, namun tak ada sahutan. Firli menghela berat dan merutuk dalam hati, sebenarnya apa yang temannya bicarakan dengan Delia sampai sekarang ia jadi makin murung seperti ini? Berkali-kali ia sudah bertanya, namun Gema tak kunjung menjawab dan itu membuatnya membiarkan saja, toh pikirannya sendiri juga sedang difokuskan hanya pada Addri. Namun, sebagai seorang teman yang tentu ingin dapat memahami Gema, Firli jadi bingung sendiri. Panggilan yang ke dua kali ini, yang disertai hentakan di bahu, berhasil menyadarkan Gema. "Hei? Gem?"
"E-eh!" kaget Gema dan sesaat setelahnya ia langsung mendongak pada laki-laki yang entah sejak kapan berdiri di depannya. Firli pun terlihat main mata dengan Gema. Sebuah kode untuk bertanya siapa orang itu. Pemuda yang telah sepenuhnya sadar dan kini mengernyit bingung itu pun beranjak. "Maaf, Anda siapa ya?"
"Saya ditugaskan untuk mengajak Anda menemui atasan saya, Iptu Gema. Bapak sudah menunggu. Mari," jawab laki-laki itu.
Makin tak mengerti, Gema dan Firli pun saling tukar tatapan. Atasan? Atasan siapa? Orang di depan mereka tersebut tampak berwibawa dengan setelan jasnya. Diperhatikan seksama laki-laki itu, tampak tak ada yang perlu dikhawatirkan menurut Gema. Namun bagi Firli, ia masih was-was bahwa orang tersebut suruhan Handoko. Gadis itu meremas tangan Gema yang berada di sebelahnya. Berharap dari apa yang dilakukannya, Gema akan menoleh agar ia bisa mengodekan lewat tatapan mata untuk tak mengikuti orang tersebut. Bukan Gema, justru laki-laki itulah yang menyadari gelagat Firli.
"Tidak perlu berpikir macam-macam. Atasan saya dan Iptu Gema akan bertemu sebentar saja, dan saya bisa yakinkan bahwa Iptu Gema pun tidak akan keluar dari rumah sakit ini."
Tidak akan keluar? Oh, jadi sekarang berhak kah untuk Firli makin merasa khawatir? Sementara itu, laki-laki berjas tersebut malah kelihatan kebingungan setelah menyadari cara penyampaiannya keliru dan terkesan menakut-nakuti. Untung saja Gema bisa memahami dengan benar bahwa orang itu tidak bermaksud macam-macam. Ia pun menoleh dan melepaskan tangan Firli yang sejak tadi meremas tangannya. "Fir, udah. Jangan khawatir. Aku yakin dia bukan orang Handoko atau Akmal. Sepertinya dia orang dari instansi penting."
Gema pun, bersedia untuk mengikuti laki-laki tersebut yang berjalan menjauhi ICU. Dalam perjalanan, tak banyak percakapan. Malah bisa dibilang tak ada suara. Bukan bermaksud mawas sehingga tak mencoba mengakrabkan diri, tapi karena otak Gema telah memunculkan sinyal peringatan bahwa kepalanya sudah tidak mampu memuat pertanyaan lebih banyak lagi. Meski kata orang tidak semua pertanyaan punya jawaban, Gema termasuk orang yang yakin akan waktu. Bahwa waktu akan membawa jawabannya sendiri hingga semua jadi lebih jelas. Ya, semua hanya soal waktu. Jawaban akan datang menemui pertanyaannya, layaknya sungai yang selalu bertemu muara. Seperti saat perjalanan melewati bangsal demi bangsal di rumah sakit ini bersama seorang yang tidak ia kenal, ketika berhenti dan sampai nanti, ia akan dapat jawaban.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
ActionGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)