"Tapi ingat cara mainnya. Kamu harus bersikap sebiasa mungkin di depan siapapun. Dengar? Si-a-pa-pun. Jika sampai, kamu bertindak mencurigakan dan ada yang menyadari gerak-gerikmu ... aku akan langsung tahu. Jika kamu tidak bisa melakukan penyamaran ekspresi dengan baik, dan kemudian menyerah, lalu memberitahu siapapun itu, orangku akan menyeretmu kembali kemari dan aku sendiri yang akan mempersiapkan dua perempuan tersayangmu itu ke ruang eksekusi. Di situlah nanti ... kamu akan melihat dengan mata kepalamu sendiri, betapa mengenaskannya kematian mereka berdua."
Darmawan masih ingat dengan jelas setiap detail perkataan Handoko sebelum laki-laki tak punya hati itu memintanya melakukan hal besar di hari berikutnya setelah aksi teror di Bogor kala itu. Di sebuah penginapan di desa terpencil, dia meringkuk di sebelah tempat tidur, menangis. Merutuk segala yang ia lakukan dan ketidakberdayaannya. Ia benar-benar terjun secara langsung membantu teroris meskipun kalau ia hendak dituntut soal pendanaan sindikat teroris dari acara amal gadungan milik Handoko, ia masih bisa membuktikan bahwa ia berada di bawah tekanan. Namun, untuk yang dilakukannya hari itu, mau bagaimanapun keadaannya sebenarnya, perbuatannya tak akan pernah dapat dibenarkan. Hampir seminggu sudah dia meninggalkan Indonesia, menjauh dari keluarganya. Meminta sekretarisnya mengurusi semua hal dan menunda banyak rapat dengan alasan dia sakit dan berobat sehingga tak ada kecurigaan apapun di antara semua orang.
Namun, kemarin, ketika ia mengakses berita, terdapat beberapa artikel mengenai dirinya yang sakit dan meninggalkan pekerjaan untuk waktu yang belum bisa dipastikan. Sial. Itu justru membahayakan tak hanya nyawanya, namun nyawa anak dan istrinya juga. Semua jadi serba salah untuk Darmawan ketika berita-berita itu secara tak langsung menjadi penyampai pesan pada Handoko untuk segera mengakhirinya di manapun itu. Sekarang, Handoko yang pasti sudah tahu bahwa ia kabur, akan melakukan apapun untuk menemukannya. Kemudian membunuhnya sehingga nama Handoko tetap bersih sebab acara amalnya yang tidak diketahui oleh masyarakat luas dan tertutup media, tanpa ada dokumentasi apapun di dalamnya karena cara main orang itu yang terlalu halus.
Sementara itu, kembali lagi ke Indonesia, perdebatan masih terjadi di kediaman Darmawan di Bogor, antara tiga tamu tak diundang dengan anak dan istri Darmawan. Anna yang demi apapun sudah lelah bertanya di mana Darmawan tapi anak dan istri orang itu tak ada yang mau mengaku pun, menghela dalam, mencoba lebih rileks lagi untuk menghadapi mereka. Tatapannya dalam pada putri Darmawan. "Kalau ayahmu itu segalanya buatmu, dan kamu di sini mati-matian melindunginya, harusnya kamu sadar kalau itu justru makin memberatkan hukuman ayahmu nantinya."
Putri Darmawan itu menangis, lantas menoleh pada sang ibu yang sama menangis. Terlihat mereka ketakutan, dan di situ langsung terlintas dalam pikiran Anna bahwa telah terjadi sesuatu yang lebih serius di sini. "Selain terlibat dalam acara amal gadungan, apa lagi yang sudah ayahmu lakukan?" tanyanya hati-hati dengan penuh kecurigaan, dan itu makin membuat tangis dua perempuan di depannya itu pecah. Anna pun lempar tatapan dengan Gema, kemudian beralih lagi pada putrinya Darmawan. Ia mendekatinya sekali lagi. "Katakan, apa yang ayahmu lakukan? Dia nggak mungkin kabur cuma karena keikutsertaannya dalam acara amal itu aja, kan?"
Di belakangan Anna, Gema terpaku pada keadaan yang membuatnya segera mencari kesimpulan. Secercah ingatan muncul, meski hanya sekelebat, didukung dengan segala informasi yang selama ini dia ketahui, membuat matanya terbuka lebar. Ia mengingat satu hal penting yang terlewat dari ingatannya karena sudah tak ia anggap penting lagi karena melihat kenyataan, sepertinya Darmawan tidak perlu melakukan hal itu. Sejak ia tahu anak dan istri Darmawan diculik, ia telah menghubungi rekanannya di Bogor untuk membantu mencari mereka. Hanya dua orang saja yang ia percaya, karena tak bisa ia mengandalkan sektor yang lebih besar mengingat fakta bahwa Handoko telah menguasai Bogor. Dan, hasilnya nihil. Sampai kemudian ia dapat telepon dari pembantu rumah tangga di sini bahwa Darmawan telah kembali meski sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
ActionGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)