Prakk!! Aina membanting piring di meja seperti tak peduli kalaupun piring itu pecah. Gadis itu menggaruk-garuk hidungnya yang gatal karena aroma bumbu masakan yang Delia buat di dapur teramat mengganggunya. Alhasil, ia pun bersin-bersin. Kegiatannya mengelap meja untuk nanti digunakan makan bersama tiga reserse itu jadi terhenti. Aina lagi-lagi membanting, kali ini serbet tak berdosa yang jadi objeknya. Ia sedikit kesal dengan Delia karena temannya itu tampak sangat antusias dengan acara sialan ini. Katanya, bagaimanapun juga tiga orang itu adalah tamu dan mereka harus menjamunya. Tak peduli berapa kali Aina sudah katakan bahwa baik dirinya maupun Delia tidak pernah sekalipun meminta mereka untuk datang, jadi tidak ada keharusan untuk beramah-tamah, apalagi tadi Firli juga menelepon kalau akan membawakan makanan dari luar saja agar tidak merepotkannya.
Namun ya, Delia tetaplah Delia yang tak kalah keras kepalanya dengan dirinya, mengatakan bahwa setidaknya harus ada yang disajikan di meja oleh tuan rumah. Alasan yang tak dapat Aina bantah juga adalah, hal yang dilakukan Delia itu perlu untuk meminimalisir kecurigaan dan agar mereka tampak senormal mungkin.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam lewat tiga menit, selisih lima menit dengan jam tangan yang Aina lirik barusan. Sebuah lampu menyorot masuk sampai ke ruang tengah yang tirainya sengaja dibuka agar tidak tampak pengap. Cahaya tersebut berasal dari mobil yang kini terparkir di depan kontrakan. Aina menatap skeptis pada Delia yang baru saja keluar dari dapur untuk meletakkan telur balado yang ia buat di meja. "Ingat semua yang udah aku ajari kan, Del? Pokoknya aku nggak mau lihat ada kesalahan. Dan yang paling penting, tiap kali kamu ditanya, jangan sedikitpun gugup!"
"Iya, iya, An. Aku ingat." Delia membalas tegas.
"Satu lagi!" Aina menyambar. "Jangan panggil aku dengan An! Panggil aja secara lengkap, Aina. Karena kamu, Gema jadi ikut-ikutan manggil gitu, tahu nggak?"
Delia ingin menjawab sekaligus meminta maaf soal itu yang sebetulnya diiringi dengan sedikit kaget karena Aina baru menceritakannya. Namun, ketukan pintu membuatnya berpaling arah pandang. Seorang wanita berwajah oriental dengan perawakan tinggi serta tubuh yang proporsional melemparkan senyum manis yang berpadu dengan kulit sawo matangnya. Satu kata yang menggambarkan Firli: eksotis. Di belakangnya ada Gema kemudian satu pemuda lagi menyusul sebab memang keluar paling belakang dari mobil. Karena di luar gerimis, pemuda itu sampai di depan pintu sembari mengusap-usap lengan jaketnya yang agak basah terkena rintik air. Sesaat kemudian, pemuda itu menatap lurus dan bertemu langsung dengan mata Delia yang juga sedang tertegun pada arah yang sama. Pemuda itu kemudian masuk dan di situlah Delia kembali menangkap beberapa suara yang sempat tak terdengar. Ketika menoleh, ia mendapati Firli dan Gema sudah di sebelahnya bersama Aina. Entah kapan masuknya, dan bagaimana percakapan ketika Aina mempersilakan mereka, Delia tidak tahu.
"Wah, Aina ... kan udah aku bilang, kamu nggak perlu repot-repot masak. Kan jadi merepotkan," seru Firli mengambil duduk di sebelah Addri.
"Nggak apa, bukan aku juga yang buat, tapi Delia."
Firli lantas sadar bahwa ia belum pernah berkenalan secara resmi dengan gadis bernama Delia itu. Ia pun mengulurkan jabatan tangannya, hanya saja belum sempat Delia menjabat, justru tangan Addri lah yang menyambar. "Addri, temannya Gema," katanya memperkenalkan diri. Bukan apa-apa, Addri hanya bermaksud mengisengi Firli. Lirikannya berhasil membuat polisi wanita itu paham dan berdecak kesal.
Sementara itu, apa yang dilakukan Addri ternyata berimbas besar bagi Delia. Untuk beberapa detik lidahnya terasa kelu, sampai ia harus berusaha memaksa dirinya untuk bicara. "Delia. Temannya Aina dari Je--" Di sebelahnya, Aina langsung menelan ludah, mematung. Untung saja Delia cepat sadar dan membelokkan kata-katanya, "Jogja."
"Gimana ya rasanya punya teman dari kecil?" balas Addri terkekeh seraya melepas jabatan tangan. "Teman masa kecilku, udah nggak tahu pada ke mana," lanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AcciónGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)