Kecemasan menjelma jadi keringat dingin yang memang selalu menjadi pelengkap keseharian Aina. Meski sudah tiga jam waktu ia habiskan sejak meninggalkan kontrakan, jangan dikira antara dirinya dan Gema banyak terdapat percakapan. Semua yang dibahas ya hanya sekadar basa-basi semata. Kadang karena dirasa sangat senyap, Aina membahas apa saja tentang Jogja untuk memperkuat perannya, karena kebetulan ia memang tahu banyak. Jogja adalah kota yang disukainya. Keramahtamahannya, tradisionalnya yang masih kental, kehangatannya, dan semua yang ada selalu membuatnya ingin kembali ke sana.
Ia benar-benar membahas apa saja mulai dari tukang becak di sana yang bisa berbahasa Inggris, sampai harga tas di Malioboro yang kelewat murah meskipun kaum ibu-ibu yang hendak membeli selalu mengusahakan penawaran agar harganya turun. Aina tahu, beberapa kali Gema memancingnya untuk membahas soal keluarga. Ia mengarang sebisanya dengan sangat meyakinkan, lalu segera mengalihkan perhatian reserse itu pada tukang kerak telor di keramaian malam hari itu, si bapak yang sudah tua namun masih berkeliling menjajakan dagangannya bermodalkan tenaga karena harus memikul beban di pundaknya menggunakan sebilah kayu. Juga pada pemulung yang sudah selarut itu masih mengais sampah-sampah karena kalau menunggu besok, maka kesempatannya diambil pemulung lain. Hidup memang seringkali adalah soal berlomba.
"Pak Polisi, apa benar Tuhan itu adil?"
"Katanya sih begitu."
"Kenapa kurasa jawaban Anda seperti nggak yakin?"
Gema mengawali duduk ketika matanya menangkap sebuah bangku yang jika ditarik garis lurus, tepat dengan Monumen Nasional di depan sana. Tanpa perlu ia suruh pun, tentu Aina menyusul. Pandangan gadis itu masih menunggu penuh harap agar Gema memberikan jawaban, dan dari situ pemuda itu makin tahu bahwa Aina ini terbilang rumit karena punya sejuta pertanyaan terhadap seisi dunia, yang meski semuanya terjawab, selalu menimbulkan pertanyaan lainnya. Sepertinya mulai saat ini, terhitung dari detik ini, ia harus membiasakan diri untuk itu kalau benar mau memberikan jalan untuk Aina memasuki kehidupannya, meski boleh dibilang bahwa hal tersebut adalah pemikiran yang entah dari mana datangnya.
"Karena sampai sekarang, ada yang belum bisa aku ikhlaskan, An. Jadi soal adil itu, aku belum mendapatkannya."
"Apa hidup Anda benar-benar seberat itu?"
Gema menoleh. "Kenapa? Apa aku terlihat sangat lemah di matamu setelah bilang gitu?"
Aina menggeleng dengan senyum yang tak berlebihan. "Berarti aku semakin yakin soal prestasi Anda yang akan makin cemerlang."
"Apa kaitannya?"
"Karena menurutku, sesuatu yang nggak pernah bisa diikhlaskan itu bukan melulu jadi definisi tidak terima dengan kenyataan, tapi sengaja dijaga agar tetap ada untuk jadi pegangan. Apa yang nggak bisa diikhlaskan itu selalu bisa jadi motivasi seseorang dalam setiap tindakan. Iya, kan? Itu yang terjadi sama Anda, kan?"
Ketika Aina sudah memalingkan wajah ke Monumen Nasional, Gema bahkan masih setia menatap wajah sayu gadis itu dari samping. Lantas tersenyum kecil. Ia kira tidak akan pernah ada orang di dunia ini yang memahami ambisinya, tapi gadis itu paham betul. Addri dan Firli saja yang bertahun-tahun mengenalnya dengan baik, pahamnya hanya sebatas mengerti luka dan traumanya. Tapi Aina? Aina memahami sampai ke titik duduk permasalahan meski tidak tahu sama sekali sesuatu yang tak dapat ia ikhlaskan itu apa.
"Selamat ulang tahun."
Gema masih menatap Aina, dan terus menatapnya. Barusan, ponsel di saku jaketnya bergetar, yang ia tahu bahwa itu bukan panggilan atau pesan dari siapapun karena ia sengaja menggunakan mode senyap, kecuali untuk pengingat waktu yang ia pasang untuk saat ini. Saat yang ia tunggu dengan mengulur waktu agar Aina tak cepat pulang ke kontrakannya. Mengajak gadis itu keluar sampai pergantian hari untuk ini. Ia pun memilih tempat yang sampai pagi pun tetap ramai lalu-lalang manusianya agar Aina tetap berada dalam perasaan aman mengingat sedang dibawa oleh seseorang yang baru dikenal seminggu lebih. Menyadari sepi yang menyapa setelah ia mengucapkan selamat ulang tahun sebagai orang pertama, Gema menoleh dan mendapati Aina hanya memandang lurus ke depan tanpa punya niatan membalasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
ActionGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)