"Aina?" kaget Gema bukan main. Seingatnya tadi ia mengantarkan gadis itu ke kontrakannya, lalu sekarang bagaimana bisa sampai di sini? Meskipun sebetulnya masih masuk akal mengingat jarak kontrakan Aina ke panti ini jauh lebih dekat ketimbang jarak dari kantornya ke panti ini. Tapi itupun masih tak mengubah fakta bahwa hadirnya gadis itu kemari membuatnya bingung. "Kok kamu di sini?"
Aina tampak sama kagetnya. Tadi pun matanya membulat saat tahu bahwa Gema berada di tempat yang sama. "Aku yang harusnya tanya, kok kamu bisa di sini?"
"Kalian saling kenal, tho?" tanya ibu panti dengan aksen Jawa nya.
"Iya, Bu." Karena Gema hanya diam terpaku, Aina yang menjawab. Si ibu yang barusan agak takjub juga, kemudian melipir ketika mendengar dua anak bertengkar. Di situ, Aina mencoba membuka percakapan karena Gema masih sama, diam. "Aku sering ke sini, Gema. Rani yang mengajakku dan mengenalkan aku ke anak-anak di sini. Dulu, kami berdua selalu kemari setiap hari Minggu. Dan ya ... sekarang tinggal aku sendiri karena mau gimana lagi, udah jadi kebiasaan," terangnya sambil terkekeh miris di akhir.
Gema merasa lega mendengar penjelasan yang bahkan belum ia minta karena saking kagetnya itu. Sesaat lalu, pikiran buruk itu menghampirinya meski hatinya menolak bahwa tidak mungkin Aina adalah orangnya Handoko betulan. Apalagi, ketika menyebutkan Rani, gadis itu terlihat menahan kesedihannya. Kalau Rani yang mengajaknya ke sini, sebetulnya masuk akal karena bagaimanapun juga mendiang gadis itu punya hubungan dengan Handoko dan panti asuhan ini pun punya kaitan dengan orang itu. Kesadaran Gema telah kembali sepenuhnya dan ia pun akhirnya bicara. "Kamu kapan ke sininya sih, cepat banget?"
Aina tertawa. "Tadi sampai rumah, aku langsung keluar lagi. Karena aku baru ingat kalau hari ini hari Minggu."
Seorang anak kecil kemudian ikut nimbrung dan menarik begitu saja tangan Aina, mengajaknya bermain. Dengan menatap pamit ke Gema karena anak itu seperti tidak sabaran ingin dituruti, Aina pun mengikutinya. Ternyata, anak itu mengajaknya main boneka dinosaurus, alasannya tidak ada yang bisa ia ajak main karena teman perempuannya yang lain lebih suka main barbie. Aina terkekeh mendengar alasan masuk akal yang diucapkan dengan lucu itu, lantas mengacak pelan puncak kepala anak perempuan itu.
Gema masih berdiri di tempatnya. Bersidekap memandang ke arah dua orang yang sibuk saling adu dinosaurus, yang satu warna hijau, satunya lagi warna oranye. Ekspresi Aina saat ini sangat lucu untuknya, sebab jarang ia lihat Aina yang begitu. Lebih seringnya, hanya ekspresi sedih dan rapuhnya saja yang diperlihatkan. Gema juga melihat bagaimana anak lain yang melewati gadis yang saat ini ia pandang dengan kagum, menyapa bahkan sampai nyaman memeluknya. Terlihat sekali bahwa anak-anak di sini memang sudah akrab dengan Aina. Ya, sehari ini saja Gema sudah dibuat kembali pada perasaan dalamnya terhadap orang yang sama. Gadis cantik yang selalu berhasil memenangkan perhatian sekaligus memberinya banyak kejutan tak terduga.
"Dengar, ya. Sekarang, aku punya permainan untuk kita," kata Aina pada anak yang setia bersamanya, si anak perempuan berambut dikepang. Setelah semua anak masuk karena sudah hampir petang.
"Oh, ya? Apa, Kak?" tanya anak kecil itu antusias, matanya berbinar.
Gema mendengar secuplik percakapan itu dari belakang Aina, sebelum ibu panti memanggilnya untuk datang ke meja makan. Gadis yang mengajak anak kecil di depannya bicara itu jelas kaget saat panggilan dari ibu panti terdengar dengan arah wajah yang mengarah ke belakangnya. Di saat yang sama, Aina agak membulatkan mata, langsung skeptis. Ia menoleh ke belakang, mendapati Gema yang melempar senyum ketika melewatinya sambil mengelus puncak kepala anak kecil di depannya sekilas. Pemuda itu duduk di salah satu kursi ruang tengah, dekat dengan kursi utama di paling ujung yang merupakan tempat bapak panti. Aina menghela napas pelan, hampir saja ia teledor. Dia tidak sadar ada Gema di belakangnya. Bagaimana kalau Gema mendengarkan yang ia bilang tadi? Untung saja pemuda itu keburu dipanggil oleh ibu panti, kalau tidak?
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AksiGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)