Setengah jam saja sebelum Anna mendengarkan percakapan Akmal di telepon soal rencana jahatnya terhadap Gema—yang kemudian membuatnya mendadak butuh udara segar dan meninggalkan kantor polisi menuju ke sebuah kafe berkonsep outdoor tak jauh dari situ—Gema, Firli, dan Addri telah berada di kantor sekitar sepuluh menit sebelum atasan mereka tiba. Kemarin, mereka bertiga sama-sama tahu kenyataan yang membuat mereka makin geram dan bertekad kuat menghancurkan atasan mereka itu.
Kembali ke hari kemarin, ketika Gema tiba di kantor catatan sipil bersama Firli, menunjukkan identitas mereka sebagai polisi meski tanpa surat perintah karena ini penyelidikan rahasia. Firli yang lebih pandai bicara menjelaskan garis besar masalah dan berhasil membuat orang kantor situ mengerti. Ia dan Gema pun diantarkan ke bagian dalam kantor, naik ke tangga menuju lantai dua. Berharap tujuan mereka kemari tidak sia-sia. Gema yang paling antusias untuk mencari data-data tentang pemilik panti itu berdasarkan nama yang kemarin diberikan Rendi. Ya, hanya bermodalkan satu nama, dan mencocokkan beberapa informasi tambahan yang sesuai dengan lembar informasi yang berada di tangan Firli, keduanya berhasil mendapatkan data yang benar, di antara ratusan orang dengan nama sama persis. Ya, tahu sendiri lah nama orang jaman dulu memang sepertinya itu-itu saja, cenderung memilih nama yang simpel dan mudah dieja.
Gema masih jeli menatap layar komputer yang disediakan untuk ia pakai tersebut. Firli pun ikut menyimak dan mengingatkan tiap ada yang tak sesuai soal apapun itu karena jangan lupa manusia tempatnya salah, termasuk Gema. Barangkali akibat terlalu bersemangatnya, ia berkali-kali salah mengetik. Data-data yang dicarinya akan muncul beberapa saat lagi, dan kini ada sebuah gambar berputar di tengah-tengah layar, menandakan sesuatu yang kini akrab disebut loading. Baik Gema maupun Firli sama-sama agak gugup sekaligus tidak sabar. Mereka sempat saling lempar tatapan takut-takut dan atmosfer menegangkan itu nyata. TAK! Muncul apa yang mereka tunggu hampir tujuh menit lamanya sejak tanda loading terpampang karena sistem yang memindai banyak data.
Tapi tunggu, apa yang membuat mereka sama-sama susah bernapas saat itu? Apa nama yang tertera tersebut tidak salah?
"Selamat datang, Pak Akmal yang terhormat."
Gema sengaja menyambut atasannya dengan seringai tak biasa kali ini. Sejak sampai ia sudah standby menunggu Akmal datang seperti sekarang. Masih pagi, dan semangatnya masih utuh apalagi untuk saat-saat menyenangkan seperti sekarang. Reserse itu berdiri bersandar pada ambang pintu ruang kerja yang kebetulan selalu dilewati Akmal untuk menuju ruang atasannya itu. Addri yang berada di sebelahnya pun tak kalah menyeringai, malah kini bersidekap, menatap Akmal dengan satu sudut bibir tertarik, dimaksudkan untuk mengintimidasinya dan menampakkan dengan jelas ketidaksukaannya pada sang atasan. Orang seperti Akmal inilah contoh orang-orang yang merusak nama instansi besar seperti kepolisian. Orang yang tidak jujur dan mau disetir untuk kepentingan tertentu. Addri sangat membenci orang-orang yang demikian di luar masalah seputar per-rival-an yang terkait Firli. Sementara itu Akmal masih juga terpaku menahan dadanya yang bergejolak, sebab apa yang dilakukan dua orang di hadapannya terkesan angkuh dan tak sopan. Ia tidak boleh kelepasan emosi di sini yang menyebabkan semua orang akan memperhatikan.
"Sudah sarapan enak pagi ini, Pak? Kenyang?" tanya Gema lagi, dan kali ini dianggap kurang ajar oleh Akmal sebab diyakini bahwa caranya bicara bukanlah sebuah basa-basi yang beramah-tamah.
Di situ Addri terkekeh. "Untuk apa masih ditanya sih, Gem, Gem? Ya jelas lah kenyang. Hidupnya kan penuh kenyamanan sejak bergabung dengan orang-orang nggak benar," sahutnya. "Lagian yang dijanjikan pasti harta melimpah, jadi soal makanan, terlalu sepele untuk dipertanyakan."
Gema melirik dengan tersenyum miring, lantas menoleh ke Akmal lagi. Kali ini tak bersandar, pemuda itu maju dua langkah mendekat pada atasannya. Tampak bahwa tatapannya yang menghunus tajam seperti cukup menggertak laki-laki itu dan membuatnya tertegun diam. "Baiklah, Ad. Kalau pertanyaan soal makanan terlalu sepele seperti katamu, kita ubah pertanyaannya. Bagaimana kalau ... soal panti asuhan? Anda mewarisinya dari orang tua Anda kan, Pak? Malahan saya yakin panti asuhan itu dibeli dengan harga besar, karena nggak cukup dibayar kontan satu kali pakai uang. Tapi berkali-kali sampai hari ini. Pakai mobil mewah, rumah, perkebunan anggur, misalnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AçãoGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)