Siang ini, Gema termenung di depan TKP sebuah kasus pembunuhan. Jika tempo hari anak yang membunuh ibunya sendiri, maka sekarang seorang ibu yang membunuh anaknya sendiri dikarenakan anak yang belum ada seminggu dilahirkan itu adalah hasil dari hubungan satu malam yang tak diinginkan. Pemuda itu sejak keluar dari indekos kumuh tersebut terus menendangi batu kerikil di pinggir jalan, sambil memasukkan kedua tangannya ke saku. Setelah semalam mencermati bukti-bukti soal Handoko yang ada di Bogor, yang membuatnya tidak bisa tidur, mengakibatkan bertumpuknya emosi yang ia tahan saat ini.
"Gila, dia nangis-nangis bilang kalau terpeleset dan anaknya masuk ke bak mandi? Tapi ternyata dia sendiri yang menenggelamkan bayi nggak berdosa itu!" Firli datang sambil marah-marah.
"Fir, tahu nggak? Barusan aku berdoa sama Tuhan," sahut Addri yang sudah tiga hari ini berusaha mengajak Firli mengobrol karena gadis itu telah sepenuhnya berubah kaku dan seperti tak tergapai.
Reserse wanita itu menoleh dengan masih berkacak pinggang. Jaket jeans yang kini sedang dikenakannya membuatnya tampak makin garang. "Apapun itu doamu, aku nggak peduli," jawabnya ketus.
Meski begitu Addri tetap bicara, tak menyerah. "Aku bilang ke Tuhan, kalau nanti aku dapat pasangan hidup yang galak sekali, nggak masalah. Soalnya aku tahu satu orang yang galaknya minta ampun, tapi diam-diam dia baca buku tentang cinta di malam hari. Galak itu cuma luarnya aja."
Firli terpaku mendengarkan apa yang Addri katakan. Sepertinya memang tidak bisa baginya meyembunyikan apapun bahkan termasuk koleksi buku-bukunya yang padahal tertata rapi di bawah kasur tempat tidur. Dalam persahabatan yang terjalin antara dirinya, Gema, dan Addri, mereka masing-masing memiliki kelebihan, di mana bakatnya sendiri menonjol ke perencanaan misi; Gema sangat jeli soal perlogikaan masalah dan dugaan; sedangkan Addri andal dalam pembacaan gerak-gerik dan respons. Jelas dari kelebihannya itu Addri sampai tahu hal yang Firli sembunyikan karena malu.
Polisi wanita itu tak menanggapi apa-apa, lebih tepatnya tidak bisa, ia kehabisan kata-katanya. Dan untungnya sebuah panggilan menyelamatkannya. Ia dibutuhkan untuk ditanyai keputusan lebih lanjut mengenai selesainya reka ulang adegan pembunuhan bayi malang itu. Firli pun berlalu seraya mengatakan agar bayi yang kini sudah selesai diautopsi, segera dikembalikan ke pihak keluarga yang sudah dihubungi untuk diambil-alih perihal pemakamannya.
Gema yang sejak tadi mendengarkan seksama apa yang Addri katakan pada Firli sambil menahan senyum, menyenggol bahu Addri. "Jadi, ada rencana cari gadis lain?" ledeknya.
Addri melirik Firli dalam jarak beberapa meter di sana, kemudian menggeleng pada Gema. "Nggak ada gadis segalak dia sih, Gem. Jadi mauku dia aja. Biar ada tantangannya."
"Yang menantang justru lebih sering menggantungkan, Ad."
"Kayak Aina, ya?" goda Addri sambil menaikkan alisnya. Gema lagi-lagi menyikutnya, kali ini lebih keras hingga membuatnya mengaduh. "Aku lihat tadi kamu melamun. Apa yang kamu pikirin, Gem? Masih soal Handoko?"
"Menurutmu?" balas Gema lantas menghela pelan. Sekarang ia telah dipancing, dan rasanya akan tidak enak kalau tidak ia ungkapkan. "Persepsiku masih sama, Ad. Kalau memang dia benar ada di Bogor, kenapa baru sekarang buktinya ditunjukkan, ha? Kenapa nggak dari minggu lalu waktu kita tangkap dia? Dan kenapa di persidangan, pengacaranya sama sekali nggak membicarakan itu?" tanyanya berbondong-bondong.
Giliran Addri yang menghela pelan. Sejujurnya ini juga mengganggunya sejak semalam. "Alasannya memang nggak masuk akal juga. Mereka bilang kalau memang di acara itu nggak ada dokumentasi, jadi perlu waktu untuk menunjukkan bukti yang dibeberkan kemarin ke jaksa? Yang benar aja?" tampaknya Addri sekarang pun bergelut dengan emosinya sendiri.
"Ya memang nggak masuk akal!" sentak Gema.
"Tuan-Tuan ini, masih membahas soal Handoko?" tanya Firli saat sudah kembali, berkacak pinggang sambil memindai dua temannya. "Coba aja kalian bisa tenang sebentar. Kan udah aku bilang, dengan ketenangan, semua hal buntu akan menemukan jalan. Semalaman tadi aku udah bekerja keras untuk itu, dan kayaknya lebih daripada kalian karena kalian cuma sibuk mengumpat." Dari cara Firli bicara yang dihiasi tarikan salah satu sudut bibir di akhir kalimat, Gema dan Addri saling lirik merasakan bahwa ada sesuatu. Firli pun tersenyum dengan tak berlebihan, mempersiapkan diri. Yakin bahwa kejutan ini akan menyenangkan dua orang di hadapannya. "Darmawan Yusniar. Kalian tahu dia kan, pasti?"
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AçãoGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)