"Siap?"
Suara berat menyapa Anna yang untuk sebentar melamun. Gadis itu lumayan terperanjat dengan hadirnya Gema yang sekarang sedang berjongkok di hadapannya, memberikan sebotol air mineral. Anna tak berkata apa-apa, hanya menerima pemberian pemuda itu lalu menghilangkan dahaganya. Tidak tahu juga ini perasaan apa, sudah berkali-kali ia ikut dalam operasi tapi sekarang sepertinya lain. Ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri. Mulai tak yakin bahwa ide Addri untuk ia lakukan bersama Gema di sini akan berhasil. Bukan bermaksud menyepelekan Addri, idenya cemerlang, Anna setuju. Namun menyetujuinya pun sama dengan setuju untuk mati. Dan lebih parah lagi, Gema yang dapat bagian itu. Andai saja dapat ditukar, agar Anna saja yang menggantikan bagian Gema, pasti tidak akan seperti ini perasaannya.
"Kamu akan berhasil kan, Gema?" tanya Anna kemudian. Pemuda yang tadi berjongkok kini sudah duduk menyebelahinya. Matanya menatap Gema lekat, seakan-akan menunjukkan ketakutan yang sangat.
Anna sendiri paham bahwa ia tak pernah setakut itu kehilangan seseorang, sebab kehilangan sudah termasuk bagian dalam hidup seorang manusia. Tidak ada yang akan bertahan selamanya. Teman dari seseorang tak lain hanyalah dirinya sendiri. Entah kematian yang datang, entah keadaan yang serba tak terkendali, entah kesalahpahaman, entah keegoisan, dan banyak faktor yang mendukung seseorang untuk sampai pada kehilangan. Kehilangan teman, sahabat, keluarga, kekasih, barang, harta, tahta, rasa, percaya. Ya, terlalu banyak yang bisa hilang dari seseorang. Anna, sekalipun masih punya ayah, tapi dia kehilangan itu bahkan di saat dia masih hidup. Satu-satunya laki-laki yang ia percaya setelahnya, hanya sang mantan yang dari kabar terakhir yang ia dengar, sedang menantikan buah hati dalam pernikahannya. Anna sudah melupakannya. Ia sudah ikhlas sekalipun rasa percaya sekali lagi pernah terenggut setelah laki-laki itu meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Ia tak memungkiri, bahwa yang dapat membuatnya merilis luka tersebut adalah seorang reserse tangguh yang sekarang ada di sampingnya. Gema. Maka bayangan ketakutan bahwa sesuatu akan terjadi pada Gema sangat mengganggunya sekarang. "Gema, kenapa kamu hanya diam? Aku tanya, kamu akan berhasil, kan?"
Gema tersenyum. "Aku akan berhasil. Justru aku yang was-was kalau kamu yang nggak berhasil."
"Jadi kamu masih nggak percaya denganku, ya?" suara Anna melemah. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, sambil memperbaiki posisi senapan yang terpasang dengan rompi anti-peluru miliknya. "Sepertinya kamu memang nggak akan pernah percaya lagi padaku."
Susah memang untuk percaya pada seorang Anna yang selama ini nggak pernah aku kenal. Tapi aku punya keyakinan pada gadis yang sekarang ada di sebelahku. Pada gadis luar biasa dengan keberanian tak terhingga yang pernah aku tahu. Gema membatin semua itu karena masih tidak mampu mengungkapkannya. Ia melakukan hal yang selama ini selalu ia suka dan masih tidak berubah: menatap Anna dari samping. Dia mungkin sekecewa itu dengan gadis ini. Dia semarah itu karena dibohongi. Tapi setelah semua dicermati lagi, bagaimana kalau ia memang tidak pernah mencintai pribadi selain Anna? Bagaimana kalau gadis yang ia tahu bernama Aina itu, merupakan sisi lain Anna yang disembunyikan jauh dalam dirinya dari semua orang? Bagaimana jika Aina tak lain dan tak bukan adalah kesempatan untuk memperlihatkan sisi lain dari Anna, dan membantunya menerima bahwa untuk jadi lemah itu bukan hal yang salah?
Rumah sederhana yang di dalamnya hanya terdapat dua orang saja itu memang tampak tenang-tenang saja. Tempat yang hangat untuk menjauhkan orang di dalamnya dari segala hiruk-pikuk kejahatan yang berlaku. Tempat pengecoh yang aman untuk perlindungan siapapun yang tinggal di bawah atapnya. Setelah mendapatkan komando, Anna dan Gema masuk dan menemukan seseorang yang mereka cari. Bukan, bukan Handoko. Melainkan darah dagingnya. Anak laki-laki Handoko yang sekiranya berusia sebelas tahun-an. Fakta tersebut telah ditemukan Gema dan Addri setelah kejadian di Bogor, ketika mereka berusaha mengupas tuntas sejarah seorang Handoko agar dapat sampai ke Alattas. Atas bantuan Rendi, mereka menemukan jejak digital pernikahan Handoko dan sampai pada fakta bahwa ia memiliki seorang putra. Itulah sebabnya para reserse itu untuk beberapa waktu seperti tak menjamah Darmawan Yusniar sama sekali. Mereka hanya mempercayakan pemberitahuan kabar apapun dari asisten rumah tangga orang itu, sembari mencari tahu keberadaan anak Handoko.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
ActionGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)