Masih di kontrakannya, Aina termenung. Aina tahu betul bagaimana cara Gema memandang padanya setelah celingak-celinguk. Rasa prihatin bisa hadir dalam diri seseorang, tentu karena hatinya tersentuh. Orang macam Gema yang kelewat ambisius, dirasa tidak biasa untuk memberikan tatapan seperti tadi pada seseorang. Masalahnya, tatapan itu lebih dari rasa kasihan—tentu saja jika Aina tidak salah membacanya. Tapi sebagai Anna, seorang agen intelijen yang sudah digembleng latihan ketat dan usaha habis-habisan, ia yakin ia tidak salah membaca Gema. Ada sesuatu yang seharusnya tidak terjadi di sini. Perasaan itu. Perasaan yang ditujukan padanya. Yang tidak lagi terkait dengan alasan pertemuan mereka.
Tadi, setelah mengatakan maksudnya datang, Gema bergegas pergi lagi karena masih ada pekerjaan. Kini di hadapan Aina dan Delia ada satu kantung plastik berisi makanan yang dipesankan oleh reserse satu itu. Ada sebuah catatan juga di atasnya, ditulis dalam kertas yang warnanya sama dengan catatan kecil yang diberikan Aina pada jus jeruk yang pernah ia kirim, seolah mencoba mengatakan bahwa yang ia lakukan adalah hal yang sangat manis. Delia dengan semangat membacakan isi pesannya. "Aku lihat sendiri bagaimana warna ayam yang gagal kamu makan itu. Jadi, rasa kemanusiaanku nggak bisa ditahan walaupun udah meninggalkan kontrakanmu. Semoga ayam goreng ini bisa mengobati kecewamu atas produk gagal yang tadi."
Aina mendengarkan saja namun tak sepenuhnya menggubris. Ia diam tanpa sepatah kata, kemudian menjauhkan makanan itu dari hadapannya. Nafsu makannya sudah hilang tanpa ia tahu perginya ke mana. Meski di sebelahnya, Delia terlihat asyik membuka makanan dan menyantapnya, ada sebuah perasaan tertahan yang ingin ia keluarkan. Namun sekali lagi ia memilih untuk menahannya walaupun tidak tahu akan sampai kapan ia sanggup melakukan itu. Aina hanya beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa. Meninggalkan Delia yang menatapnya bingung sambil berkali-kali memanggilnya, bertanya mengapa ia tidak jadi makan. Biarlah, Aina tidak peduli. Gadis itu menuju ke dapur dan menuangkan air putih ke sebuah gelas kaca, meneguknya sampai habis tanpa jeda. Dan ya, seperti yang ia kira, ia tidak bisa menghindar sebab Delia sudah menyusulnya.
"An, kamu kenapa diam aja dari tadi? Kamu marah ya ke aku?" Delia bertanya dengan was-was. Tak lagi menggunakan panggilan 'Aina' sebab hanya ada mereka berdua.
Aina dengan dada yang masih bergejolak, menelan salivanya kemudian memutar badan sembilan puluh derajat pada temannya itu. Tatapannya menghunus tajam seolah sangat geram. "Kapan kamu mau pergi dari sini, Del?" tanyanya dengan nada ketus.
"Kamu ... mengusirku, An?"
"Ya! Menurutmu?" tajam Aina. "Kamu nggak mikir ya, Del, betapa kaget dan cemasnya aku tadi waktu kamu teriak keras-keras? Aku kira ada sesuatu yang terjadi! Ini bukan Jepara, kampung halamanmu yang tenang! Semua bisa terjadi di sini!"
Di depan temannya yang marah luar biasa, Delia kehabisan kata-kata. "An, aku ... Aku minta maaf, An." Delia menatap Aina dengan nanar. "Aku bukan mau jadi beban kamu di sini, atau merecoki urusanmu di sini. Aku cuma mau memenuhi permintaan orang tuamu untuk memastikan kamu baik-baik aja. Mereka cuma mau kamu pulang, An. Pulanglah walau cuma sehari."
Mata Aina panas seketika dan ia benci itu. Ia benci tiap kali Delia membawa-bawa orang tuanya di sini. Ya, Aina mengerti Delia hanya ingin membantu sebab kenal baik dengan orang tuanya dan tahu betul bahwa Aina menciptakan jarak dengan keluarganya sendiri. Berkali-kali Delia mengusahakan agar Aina mau meluruhkan egonya sedikit dan menghubungi keluarganya meski di sisi lain Delia pun tahu bahwa di manapun itu Aina berada, tidak ada seorangpun yang boleh diberitahu bahkan termasuk keluarganya. Namun Delia juga tidak lelah meyakinkan bahwa memberi kabar tidak harus memberitahukan lokasi, melainkan hanya butuh saling mendengar suara satu sama lain dan bilang bahwa ia dalam keadaan baik. Tapi itulah Aina, ia tidak pernah peduli semua itu sebab ada kebencian yang tidak bisa ia bendung pada keluarganya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AçãoGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)