Pukul berapa sekarang, Gema tidak tahu. Jika menuruti perkiraannya dengan melihat cahaya semi jingga yang menembus ventilasi kecil di situ, sepertinya antara pukul empat sampai lima sore. Pemuda itu hanya tinggal sendirian di ruangan yang sama. Sebetulnya ia pun sudah menduga bahwa ia tak akan dihabisi dengan buru-buru. Orang-orang di sini pasti akan memanfaatnya untuk menghancurkan tim rahasia Pak Zain. Hadirnya Handoko dan Akmal pun, ia yakin bukan hanya karena ada dirinya di sini, namun terdapat sesuatu yang lebih besar dari itu dan ada rapat besar di sini. Di tempatnya, di bangku di mana digunakannya duduk manis dan tenang, Gema masih menunggu sesuatu. Sekiranya lima menit kemudian, suara sirine ambulance yang nyaring menyita fokusnya. Itu sinyal untuk menandakan bahwa tahap tiga operasi dimulai sekarang.
Semangat Gema makin menggebu. Ambulance itu dibawa oleh Anna dan Delia untuk menyampaikan pesan padanya. Jika ia sudah tahu siapa pemimpin sindikat ini maka ia harus segera beraksi, dan jika belum maka ia harus segera pergi dari situ dalam waktu kurang dari satu jam dengan Anna dan Delia menunggunya di satu titik. Jika dalam satu jam Gema belum datang, maka ada dua opsi: satu, Gema mati; dua, Gema tertangkap saat beraksi. Dan jika yang terjadi adalah opsi dua, tugas Anna untuk menyelinap masuk dan menyelidiki, untuk kemudian membantu Gema meloloskan diri dan mereka dijemput oleh Delia yang menunggu di mobil. Kali ini tentu bukan mobil yang awalnya mereka pakai sampai ke Pemalang, bukan juga mobil ambulance, karena ada bagian tersendiri yang mengurusi kendaraan dan keperluan-keperluan operasi sehingga mudah untuk berganti mobil.
"Ya Tuhan, bantu aku." Gema bergumam pelan sambil memejam sebentar, kemudian lidahnya bergerak-gerak untuk mengambil sesuatu yang ia sembunyikan. Mengingat bahwa tadi ia sempat pingsan, maka suatu hal yang amat baik bahwa kunci dimulutnya tidak tertelan.
Tangan Gema dengan cekatan meraih kunci di ujung bibir. Jari-jemarinya sibuk berkutat dengan kunci dan lolos dari borgol adalah hal yang mudah. Orang-orang itu pasti melupakan fakta bahwa orang yang mereka tahan ini adalah polisi. Tanpa mengulur waktu, Gema beranjak dan melangkah tanpa suara. Ia mengintip ke depan pintu, terdapat dua orang berjaga yang kemudian salah satunya dengan cepat ia tarik dan bungkam mulutnya, sampai akhirnya kepala orang itu ia putar dan terkulai lemah. Yang satu baru sadar bahwa temannya hilang kemudian dikejutkan dengan munculnya Gema secara tiba-tiba yang langsung disambut reserse itu dengan tinjuan kuat ditambah pukulan-pukulan lain sehingga menyusul temannya yang juga dikalahkan Gema tadi. Tujuan pemuda itu cuma dapur, dikarenakan atas bantuan Kemal yang kenal dengan penyuplai bahan-bahan makanan di markas ini, dibawakan juga pistol beserta silencer-nya, juga sebuah jarum suntik yang sudah diisi cairan khusus, yang harus segera diambilnya saat ini.
Gema berjalan hati-hati, melewati lorong demi lorong dengan tenang karena CCTV di sana sudah diamankan oleh Delia yang dikomando Danu langsung dari markas rahasia. Sebelum ke dapur, tentu perlu untuk membungkam orang yang berjaga di CCTV sehingga Gema mencari ruangan monitor itu. Tempat yang ia lalui tadi tampak sepi. Gema pikir memang sedikit yang tinggal di sini, namun saat usai melewati sebuah lorong, ia dikejutkan dengan empat orang yang juga sama terkejut ketika ada dirinya. Sekilas ada percakapan yang Gema dengar soal mereka yang hendak mengecek sekitaran akibat CCTV yang mendadak mati. Jadi, bisa disimpulkan, ruang CCTV tak jauh dari situ. Perlawanan pun dimulai dan Gema menghabisi mereka semua dengan gerakan lincah dan pukulan mautnya, sebelum sempat mereka menembaknya.
Langkah Gema tegas menuju satu ruangan di pojokan yang ketika ia buka pintunya, seseorang kaget dan hampir meraih pistol namun ia tangkis duluan tangannya. Dalam beberapa detik saja, orang itu alias penjaga CCTV sudah tak sadarkan diri dengan hidung yang mengeluarkan darah akibat pukulan telaknya. Tidak ada belas kasihan bagi teroris, sebab mereka adalah musuh negara yang nyata. Selesai dengan CCTV, sama seperti tiap orang yang ia kalahkan sebelumnya, Gema pun mengamankan empat orang itu masuk ke dalam ruang CCTV agar keadaan tampak bersih dan normal. Langkahnya terus ditujukan hanya pada dapur kali ini. Ke sana, kemari, melewati pintu demi pintu, lorong, dan ruangan, pada akhirnya sebuah aroma kopi menyapa indera penciuman Gema. Ia menoleh pada sumber, dan melihat satu pintu dengan asap yang mengepul tipis-tipis keluar dari sana. Karena pintunya pun terbuka, ia bisa melihat bahan-bahan makanan yang tertata di atas meja, cabai merah, tomat, dan semacamnya. Ya, akhirnya dia menemukan dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AksiyonGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)