30 :: JEBAKAN

223 24 0
                                        

Sejak kemarin Gema mulai menampakkan seringai kebencian yang nyata pada atasannya dan menghadang jalannya, pemuda itu terus menaruh mata pada orang tersebut hingga hari ini. Bukan sekali dua kali ia memergoki Akmal bicara dengan marah-marah ke setiap orang yang jadi sasaran emosinya. Ya, Gema makin puas akibat ia tahu bahwa Akmal mulai ketakutan sendiri. Tinggal menunggu waktu untuk atasannya itu lengah, lalu melakukan kesalahan dalam tindakannya. Malam ini Gema dapat kabar dari Pak Muh yang kebetulan sedang shift malam. Katanya, Akmal masih ada di kantor, di ruangannya. Kabar itu membuat Gema mengernyit berpikir, merasa aneh sebab orang mata duitan seperti Akmal hampir tidak mungkin terlihat batang hidungnya untuk lembur selama ini. Kalau ada apa-apa selalu Firli yang dihubungi, diperintahkan membereskan apapun yang akhirnya Addri dan dirinya pun akan termasuk ke dalam perintah tersebut.

"Kok aneh ya, Pak? Baik, Pak, terima kasih informasinya. Saya akan ke sana sekarang juga," kata Gema pada Pak Muh yang di seberang telepon. Pak Muh memang termasuk orang yang akrab dengannya di kantor. Beliau pun tahu soal Gema dan Akmal yang punya jarak tersendiri untuk tak saling berurusan di luar urusan pekerjaan. Jadi tiap ada yang Pak Muh tahu yang sekiranya perlu Gema tahu, beliau pasti akan melaporkan.

Telepon pun ditutup. Tak sampai setengah jam pemuda itu telah sampai di kantor sebab kebetulan ia tadi belum pulang tapi mampir ke minimarket dulu untuk membeli beberapa keperluan di rumahnya. Sebetulnya sekaligus mau membelikan gado-gado untuk Aina karena gadis itu pernah bilang bahwa makanan itu adalah kesukaannya. Gema ingin mengecek karena siapa tahu gadis itu sudah di kontrakan lagi. Tapi sepertinya niat itu harus diundur dulu. Tak tahu kenapa malam ini rasanya akan panjang bagi Gema. Begitu menginjakkan kaki di depan pintu masuk, beberapa petugas yang kebagian piket malam menyapanya, membuat Gema mesti berhenti untuk sekadar berbasa-basi dan beralasan hendak mengambil beberapa berkas yang tertinggal di ruangannya ketika ditanyai apa urusannya datang malam-malam.

Tanpa Gema tahu, dua orang yang berjaga itu adalah suruhan Akmal yang sebetulnya bukan hari ini jadwal mereka piket malam. Itu dimaksudkan agar ketika kabar buruk datang, mereka bisa segera meluncur dan mengamankan banyak hal yang sekiranya bisa mengarah pada ditemukannya fakta tentang siapa yang membunuh Gema malam ini. Sementara itu, reserse tadi berjalan pelan menuju ke ruangan Akmal. Ia melirik sedikit dari ambang pintu yang setengah terbuka. Akmal ada di dalam, duduk di kursi dan menghadap beberapa lembar kerja di meja. Gema menautkan alis, merasa aneh karena orang itu tampak sedang serius-seriusnya. Sampai kemudian sekilas Akmal bergumam bahwa ia haus, dan beranjak hendak memesankan minuman ke Pak Muh.

Gema pun cukup terperanjat sambil berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Ia pun berdiri di sebelah vas bunga besar yang diperuntukkan sebagai pajangan interior di kantor tersebut. Dan Akmal melewatinya begitu saja. Merasa sudah aman, Gema pun segera menelepon Rendi yang sejak sebelum sampai di sini, terlebih dahulu mendatangi hacker itu untuk dimintai bantuan. Gema butuh Rendi untuk meretas ponsel Akmal yang nasib mujur malam ini, kini ditinggalkan di meja kerja begitu saja. Pemuda itu mengeluarkan kabel data yang dua ujungnya memiliki ukuran sama — bukan besar dan kecil pada umumnya — namun sesama ukuran ponsel. Bertujuan untuk menghubungkan ponsel Akmal dengan Gema yang tadi entah diapakan oleh Rendi karena yang Gema lihat hanya ponselnya diutak-atik. Di tempat lain alias di rumahnya sendiri, Rendi sudah siap dengan tugas yang akan ia garap dari Gema tersebut. "Ren, ini aku tinggal menghunungkan aja, kan?"

"Iya, Gem. Nah, ini udah terkoneksi, tenang aja. Prosesnya udah jalan," balas Rendi yang membuat Gema lega namun tak sepenuhnya lega akibat Akmal yang bisa datang kapan saja.

"Berapa lama?" tanyanya.

"Dua menit lagi, Gem."

Gema berdecak. "Dua menit itu lama sekali," tukasnya tidak sabar, namun Rendi tidak menanggapi. Sedangkan Gema yang masih ada di ruangan Akmal, menajamkan indera-inderanya baik pendengaran sampai penglihatan, juga sistem motoriknya agar dapat diajak cekatan untuk bersembunyi ketika Akmal tiba-tiba masuk. Ia sudah mengincar toilet ruangan tersebut. Gila saja kalau Akmal mau di sini sampai pagi, pikirnya. Kalaupun diperlukan, Gema akan keluar kamar mandi lewat lubang angin yang mengarah ke dapur, toh yang berjaga di sana juga Pak Muh, jadi menurutnya aman.

404 NOT FOUND [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang