Datang ke kantor seperti biasanya, Gema harus menghadapi wajah menyebalkan satu orang itu pagi-pagi yang sudah berkacak pinggang di ruangannya. Begitu datang, dirinya dan dua temannya menuju ke ruangan Akmal memenuhi panggilan. Berbeda dengan caranya menyambut satu-satunya perempuan dari tiga orang yang dipanggilnya, raut Akmal yang sempat tersenyum pada Firli, mendadak berubah jadi penuh emosi pada Gema dan Addri. Jika Firli pun balas tersenyum meski terpaksa untuk sekadar menghargai atasannya, lain halnya dengan Addri yang dalam hatinya mengata-ngatai pak tua tidak tahu diri itu. Bahkan sudah jelas tujuan orang itu adalah ingin memarahi mereka bertiga, tapi bisa-bisanya masih tebar pesona.
"Langsung saja, ke mana kalian kemarin?" tanya Akmal.
"Pak, kami-"
"Apa?! Mau bilang apa kalian? Mau membela diri?!" sambar Akmal sebelum Addri menyelesaikan kalimat.
"Anda bertanya, Pak, dan Addri mau menjawab. Tapi Anda justru tidak memberinya kesempatan," sahut Gema. Setidaksukanya dia dengan atasannya, bicara formal masih wajib hukumnya sebagai tanggung jawabnya.
"Kamu diam, ya! Ini semua pasti ide kamu kan, soal menghilangnya kalian kemarin?" sentak Akmal kini sambil menunjuk Gema.
Gema hanya bisa menghela pelan, dengan kedua alis yang sedetik naik lalu turun lagi. Ia kali ini menunduk namun bukan karena tak enak, melainkan karena bingung. Bukan juga bingung soal alibi yang akan diberikannya kali ini, namun bingung harus menahan tawa atau melepaskannya saja. Ya, menurutnya Akmal sangat pantas ditertawai. Laki-laki itu bertanya, hampir diberi jawaban malah menyela. Ditegur sedikit oleh Gema juga malah marah-marah. Kalau tidak ingat Akmal itu atasannya meskipun ia tahu laki-laki tersebut adalah orang yang sangat tidak jujur, ia pasti akan dengan berani menjawabnya lagi. Masih di tempat yang sama, Firli melirik pada Gema yang juga meliriknya sekilas. Dari situ ia dapat instruksi untuk segera mengambil alih penjelasan. Tak lupa juga gadis itu mengode Addri yang tepat di sebelahnya dengan tatapan mata agar pemuda itu diam saja dulu tanpa perlu menganggunya saat sedang bicara. Addri mengangguk.
"Pak, mohon maaf. Tapi apa kita bisa bicara berdua saja?"
Sontak Gema dan Addri menoleh sembilan puluh derajat dengan kompak. Di situ Addri menatap tak percaya, tentu saja. Ia tahu sejak awal memang menjelaskan adalah bagiannya Firli karena hanya gadis itu yang akan didengarkan Akmal, tapi ia tak mengira akan sampai begitu. Sedangkan Gema? Pemuda itu justru mengatupkan bibirnya rapat akibat menyadari betapa lihainya Firli sampai bisa membuat atasan mereka berbinar matanya. Ditambah, Gema malah menahan senyum mati-matian ketika melirik ke Addri yang wajahnya merah padam namun berusaha ditutupi dan diredam.
"Wajahnya langsung mupeng, Gem. Kalau dia bukan atasanku udah kusikat," bisik Addri dengan meminimalisir suara serta gerakan bibirnya saat berucap.
Firli kembali buka suara. "Mungkin sambil makan siang nanti, Pak? Karena waktu kami bertiga mau menuju ke sini, rekan setim kami mengabarkan terjadinya penemuan mayat di pemukiman dekat pantai." Mendengar itu Addri hanya menatap lurus ke dinding ruangan itu tak percaya.
Suara telepon mendahului jawaban Akmal, ia menepi dengan ekspresi tak biasa berikut gerak-geriknya. Tak lama setelah itu ia kembali. "Saya mau sekali, Fir. Tapi sayangnya hari ini saya ada urusan, jadi bagaimana kalau besok?"
"Besok ya, Pak?" Firli meringis menahan malas.
"Lebih baik biar saya jelaskan sekarang saja, Pak, daripada menunggu besok," sahut Addri menahan geram.
"Saya nggak ada waktu! Sudah, pergi urusi kerjaanmu!" sentak Akmal. "Urusan saya dengan kalian belum selesai ya, ingat," ketusnya pada Gema dan Addri kemudian segera mengambil tasnya dan pergi.
Berbeda dengan Gema yang makin puas melihat muka Addri yang kesal setengah mati, Addri sendiri justru masih mengumpat. Firli sempat mendengarnya namun tak begitu menggubris karena baginya, mendengarkan omelan pemuda itu jika menyangkut Akmal memang sudah hal yang biasa dalam kesehariannya. Lucunya, Firli justru merasa aneh jika sehari saja Addri tidak mengutuk orang itu. Tapi di atas semuanya, ada yang terasa tidak lengkap jika sehari saja ia tidak bertengkar dengan Addri. Sayangnya, hari ini ada yang lain dengan perasaannya sendiri. Sejak kemarin, sejak ia melihat sepasang mata Addri menatap dalam padanya di depan lokasi pengeboman dan mengatakan sesuatu yang teramat tulus, sekali lagi hatinya merasa hangat. Sangat hangat. Yang lama-lama makin ia sadar bahwa cuma Addri yang bisa membuatnya merasa begitu.
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
ActionGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)