Masih di tempat yang sama, Anna menggeledah perempuan yang jadi manager gadungan itu. Baik dirinya maupun Gema sebetulnya tahu, niat wanita itu bukan untuk menyamar. Dia hanya masuk kemari untuk membuat manager bungkam. Semua itu bisa diketahui dari gerak-gerik sejak dia keluar dari ruangan ini tadi dengan buru-buru, serta lamanya mencari data pegawai di komputer karena harus mencari-cari dahulu. Sekilas ia ingat temannya yang kali ini tertinggal, Delia. Coba saja Delia ikut ke sini, akan seperti apa perasaannya melihat seseorang dikeluarkan dari lemari dalam keadaan tak bernyawa? Terkadang, apa yang digambarkan di film-film action memang tak berlebihan, karena semua itu sudah banyak Anna saksikan di depan matanya. Anna tak menemukan kuncinya, ia lalu mendapati Gema mengode padanya dengan menunjuk kamar mandi. Ya, ke mana lagi kunci akan dibuang kalau tidak ke kloset.
"Oke, kita lihat apa yang kita punya." Gema telah melepaskan wanita yang semula ia pegangi karena sedang digeledah Anna. Ia meraih pencongkel khusus yang sekarang terpaksa ia gunakan walaupun sedikit repot.
Sementara itu, Anna memperbaiki posisi earpeace-nya. "Anna masuk. Pak Zain, kami sudah mengikat empat orang di sini. Ada satu korban jiwa yang harus segera dievakuasi. Kami akan urus," katanya sambil sedikit menggigit tali yang kepanjangan untuk dipotong olehnya. Tiba-tiba, ketukan empat kali di pintu dilanjutkan suara khas pintu terbuka, mengagetkan Anna dan Gema. Keduanya sudah siaga, namun melihat bahwa yang masuk langsung menutup mulutnya dengan tangan karena syok akibat melihat keadaan ruangan yang berantakan itu, membuat mereka kembali tenang. Itu mungkin sekretaris manager atau yang lainnya, yang datang untuk mengirimkan beberapa laporan terlihat dari map-map yang dijatuhkannya. "Pak, nanti saya melapor lagi. Ada urusan tambahan di sini."
"Anna, tidak! Dengarkan saya dulu!" balas Pak Zain tegas yang membuat Anna seketika mengernyit. Namun perempuan yang sepertinya berusia seumuran dengannya itu hampir berteriak, dan ketika baru menyebutkan kata 'secu', ia membungkamnya. "Nggak, nggak, nggak! Jangan teriak! Jangan sampai ada kehebohan di sini! Ini operasi rahasia! Kami akan jelaskan!"
"Anna, tidak ada waktu untuk menjelaskan apapun, kamu dan Gema harus segera pergi dari sana karena ada—"
"Pak, mohon maaf menyela. Kami akan segera membereskan yang di sini, se-ce-pat-nya. Sebentar. Managernya masih di dalam lemari," sergah Anna sambil masih membungkam perempuan yang masuk di saat yang tidak tepat itu. "Gema, seberapa lama lagi? Aku bahkan bisa mengakali kunci cuma dalam hitungan detik!" lanjutnya mencerca pada Gema.
Gema tak banyak bicara bahkan untuk sekadar menanggapi. Ia pada akhirnya membuka pintu lemari dengan sebentar menatap pada Anna sebelum mengayunkannya ke depan pelan-pelan. Dan, bruk! Tubuh seorang wanita ambruk dari dalam lemari namun Gema tidak bisa menyangganya agar tak membentur lantai karena akan ada kerumitan untuknya sendiri nanti jika terdapat sidik jarinya di tubuh wanita itu. Di dekat pintu ruangan, Anna pun harus membungkam perempuan dalam rengkuhannya lebih kuat lagi karena hampir berteriak. "Lihat, dia dikunci di lemari dan kami mengeluarkannya. Tenang, bantuan dari kepolisian akan datang."
"Anna, kamu tidak mendengarkan saya! Kalian harus segera pergi karena para teroris itu sudah datang ke Indonesia. Bukan hanya di Bogor, bukan hanya di Jakarta, tapi di banyak bandara di Pulau Jawa. Kondisi genting! Saya ulangi, kondisi genting!"
Anna dan Gema yang sama-sama mendengarkan penyataan Pak Zain, saling lempar tatapan tak percaya. "Apa?" ujar keduanya serempak dengan suara yang nyaris habis. Jadi inilah alasan dari rapat besar yang terjadi di markas utama sindikat teroris itu. Mereka harusnya datang di waktu yang sudah tentu tidak bersamaan jika sesuai yang Pak Zain katakan bahwa mereka menyebar ke seluruh Pulau Jawa. Harusnya sejak identitas palsu pertama sampai, mereka bisa mendeteksinya. Dan ungkapan Danu kali ini menjawab pertanyaan tak terucap Anna dan Gema. "Mereka berani main terang-terangan, An, Gem. Nggak ada dari mereka yang menggunakan identitas palsu. Kami sendiri baru dapat mendeteksinya setelah sadar bahwa banyak orang dari Afganistan datang dengan jumlah besar mulai kemarin sampai hari ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
404 NOT FOUND [Complete]
AçãoGENRE: ACTION - ROMANCE [TAHAP REVISI, JADI SERING-SERING LAH DI-REFRESH UNTUK PEMBARUAN BAB] SELURUH ADEGAN TERORISME DALAM CERITA INI TIDAK BERMAKSUD MENYANGKUT-PAUTKAN PIHAK MANAPUN DAN MERUPAKAN FIKTIF BELAKA. LOKASI DAN ORANG-ORANG TERKAIT MERU...
![404 NOT FOUND [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/256321537-64-k372240.jpg)