Alvaro Ravendra, lelaki badboy yang memiliki paras tampan dan harta melimpah. Ia di pertemukan oleh seorang gadis unik yang cenderung menyendiri dan cuek terhadap sekitarnya. Zia Agatha Zemora, ialah gadis tersebut.
Mereka sama-sama memiliki masa l...
Yuk sambil dengerin lagu di atas biar kerasa feelnya🎶
>ZIA<
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zia duduk di teras rumah dengan secangkir teh hangat di tangannya. Suasana malam ini sangat dingin, namun Zia masih tetap berada di teras—merasakan angin malam sembari melihat jalanan penuh dengan kendaraan berlalu lalang dari atas sana. Pikirannya selalu teringat dengan Alvaro. Kenangan-kenangan malam ketika mereka berdua di teras kembali terbenak di pikirannya.
"I love you too, Zizi. Love you so much!"
"Mau peluk."
"Sayang Zizi banyak-banyak!!"
"B-boleh ci-um pipi?"
"Zizii!!"
"Kan manjanya sama kamu doang."
"Zizi, promise jangan ninggalin aku?"
Kini ia tertawa kecil. Dia yang mengatakan jangan pernah meninggalkannya, namun kini dia lah yang pergi meninggalkan dirinya. Lucu bukan?
Semakin ia ingin berhenti memikirkan Alvaro, malah bayang-bayangan akan lelaki itu semakin menghantui pikirannya. Memang tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya masih sayang dengan Alvaro.
Hal yang paling menyedihkan di dunia adalah mencintai seseorang yang berhenti mencintai kita. Kadang dirinya berharap bisa bangun dan tidak ingat apa-apa tentangnya lagi. Sungguh, rasanya sangat sakit jika mengingat itu lagi.
Secara tidak sadar air mata sudah jatuh membasahi pipinya. Ia sangat merindukan lelaki itu. Manjanya, rengekannya, omelannya.
Rintikan hujan mulai turun membasahi tubuh Zia. Ia semakin mengencangkan tangisannya. Hujan mengingatkannya akan pelukan hangat Alvaro yang sudah tak bisa ia rasakan kembali.
"Cel," panggil seseorang dari arah belakang dirinya.
Zia sangat mengenali suara itu. Ia membalikan badan menatap Anantha yang sudah berdiri di depan pintu teras dengan payung di tangannya. Lelaki tersebut berjalan menghampirinya.
"An, gue cape. Apa gunanya gue hidup, hiks?" lirih Zia.
"Cel, sedih itu wajar. Tapi jangan sampai lo putus asa gini. Lo boleh nangis, tapi lo jangan lupa untuk bangkit lagi. Gue tau ini ga mudah buat lo. Tapi tuhan punya rencana sendiri, Cel. Tuhan pasti punya sebab atas ini semua. Udah, lah, masa Boncel gue jadi lemah gini." Anantha mengelus pelan bahu Zia. Tangan satunya ia pakai untuk memegang payung agar mereka berdua tidak terkena derasnya hujan.
Alexa menghampiri kedua remaja tersebut dengan tatapan sendu. Tangan satunya ia pakai untuk memegang payung. Awalnya dirinya berniat ingin memberikan payung itu kepada Zia, namun di urungkan ketika Anantha lebih dulu menghampiri gadis itu.
"Zia, boleh gue ngasi saran?"
Mendengar suara itu, lantas mereka berdua sama-sama spontan menoleh ke arah belakang—menatap gadis yang sudah menatap sendu ke arah Zia. Alexa berjalan mendekati adiknya—Zia.
"Zi, cowo ga cuma Alvaro. Lo pantes dapet yang lebih baik dari dia. Jangan cuma karena cowo lo jadi lemah gini. Tunjukin ke dia kalau lo mampu menghadapi ini semua. Salah satu balas dendam yang terbaik buat mantan itu dengan menunjukan sisi bahagia lo,"
"Come on, Zi. Gue juga sakit ngeliat adik gue yang rapuh kayak gini. Lupain masa lalu, lihat ke depan. Masih banyak hal yang harus lo capai." Alexa menarik Zia ke dalam dekapannya.
Air mata turun membasahi pipi mulus Zia. Ia membalas pelukan Alexa tak kalah erat. Tubuhnya juga sudah bergetar hebat.
"Semangat, Zia," ucap Devan, Reyhan dan Zidan serempak.
Kini ketiga lelaki tersebut sudah menatap ke arah Zia dengan senyum tipis mereka. Awalnya mereka kemari hanya untuk ingin menghibur Zia atas suruhan dari Alvaro. Namun melihat gadis itu yang sudah terlihat rapuh, mereka menjadi kasian dengannya. Andai ia tau alasan Alvaro memutuskannya karena apa.
Mereka bertiga menghampiri Zia tanpa payung sehingga tubuh mereka kini menjadi basah. Devan menarik paksa payung Alexa, lalu membuangnya ke sembarang arah.
"Ga usah pake payung segala. Mending main hujan-hujanan," ujarnya.
"Heh, nanti kalau gue sakit gimana?!" ucap tak terima Alexa.
"Halah, gue tau muka lo hello kitty tapi badan lo kayak lakik! Ga usah lebay, deh!"
Anantha memberikan payungnya kepada Zia, kemudian ia ikut menyusul teman-temannya yang berdiri di bawah rintikan hujan. "Ayo main hujan-hujanan!" serunya.
"Nah, kalau Anantha gue ragu. Masalahnya badan dia lakik tapi jiwanya hello kitty. Gue takut besoknya lo sakit, An," ujar Devan.
Anantha menoyor kepala lelaki tersebut dengan kasar. "Ga usah ngomong hoax lo!"
"Pegangan tangan semua!" perintah Alexa.
Mereka kecuali Zia berpegangan tangan satu sama lain sesuai dengan perintah gadis itu.
"Yuk puterin, Zia!" serunya.
Satu persatu diantara mereka mulai mengelilingi Zia membentuk lingkaran dengan tangan yang sudah berpegangan satu sama lain.
Di tempat lain, Ayah dan Bunda menatap terharu ke arah mereka dari kaca jendela rumah. Ayah melirik Bunda dengan senyum tipis. "Beruntung ya anak kita punya sahabat kayak mereka."
"Mereka baik banget. Semoga persahabatan mereka langgeng sampai Nenek Kakek," ujar Bunda.
"Udah yuk, Bun. Enakan di kamar hujan-hujan gini."
Sementara di tempat lain, Zia menatap sendu ke arah teman-temannya yang sudah mengelilingi dirinya. Ia sangat bersyukur bertemu dan di perkenalkan oleh orang-orang baik seperti mereka.
"Gue juga mau ikut main hujan-hujanan," pinta Zia dengan wajah antusias.
"Yuk, sini!" seru Reyhan.
Zia menaruh payung yang di berikan Anantha ke bawah. Kemudian ia ikut memegang tangan Alexa dan Zidan dengan senyum cerianya. Mereka kembali berputar-putar seraya mengeluarkan tawaan satu sama lain.
>Dikit banget ya😔? Sorry hihi. Pikiran author ngeblank. Besok Author up part selanjutnya pagi-pagi deh biar cepet endnya<