"Gue kangen lo yang cerewet."
★★★
Selesai mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai, Zira kini sedang sibuk memindahkan beberapa pakaian nya ke sebuah kamar tamu. Saat berkutik di kamar Meisya, Zira tidak menyadari keberadaan Gaby sedang berdiri di depan kamar dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Heh anak kampung," panggil Gaby membuat Zira menoleh.
"Tante? Sejak kapan berdiri disitu?" Tanya Zira sembari berjalan mendekat ke arah Gaby. Ia meraih tangan Gaby berniat untuk menciumnya, namun Gaby langsung menjauhkan lengan nya.
"Ih, gak usah sentuh-sentuh saya, tangan kamu kotor."
"Iya maaf tan, Zira cuman mau salim doang kok."
Gaby manggut-manggut sembari memperhatikan Zira dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan Zira hanya menunduk bingung.
"Kamu udah mau pulang?" Tanya Gaby. "Ya bagus sih kalau kamu udah mau keluar dari rumah saya. Biar Reygan gak usah ngurusin kamu lagi."
"Enggak tante, Zira beresin baju-baju karena mau pindah kamar aja, bukan mau keluar dari rumah ini kok." Balas Zira dengan tersenyum membuat Gaby kesal.
"Oh, bagus lah. Akhirnya kamu sadar kalau kamar anak saya ini gak layak kamu tempatin. Bagus-bagus, lanjutkan." Ucap Gaby sembari berjalan menjauh dari kamar itu menuju kamarnya.
Saat Gaby sudah hilang dari pandangan, Zira melanjutkan kegiatan nya yang sempat tertunda. Kurang lebih lima menit, ia telah selesai memindahkan barang-barang nya ke kamar tamu. Namun tiba-tiba Zira menepuk jidatnya saat mengingat sesuatu.
"Ya ampun gue lupa," Zira mulai mencari-cari dimana letak barang yang sempat ia lupakan. Berawal dari tas sekolahnya, tas selempang dan di tas baju-baju nya. Namun hasilnya nihil. Ia tidak menemukannya sama sekali.
"Nyari ini?"
Zira menoleh pada Gaby yang sedang berdiri di depan kamar sembari mengangkat beberapa plastik obat nya. Zira menghampiri nya dengan wajah senang.
"Iya tan-"
"Ettt," Gaby langsung menjauhkan obat-obat itu dari jangkauan Zira. "Mau obat ini?"
"Mau banget tan," balas Zira dengan penuh harap. "Tolong kasih ke Zira ya tan, soalnya obat itu penting banget buat Zira."
"Kita liat sepenting apa sih kamu soal obat ini." Gaby menjatuhkan obat-obat tersebut ke lantai dengan sengaja.
"Tante!" pekik Zira sembari menahan Gaby yang ingin menginjak obat-obatan yang ada di bawah kaki nya. "Aku mohon tan, jangan di injak obatnya."
"Saya gak perduli soal obat ini." Gaby akhirnya tetap menginjak obat-obat Zira dengan senyuman jahatnya. Bukan hanya sekedar di injak, bahkan hingga hancur.
Zira langsung berjongkok lalu menyingkirkan kaki Gaby dengan air mata yang hampir jatuh di pelupuk matanya. Sementara Gaby tersenyum senang melihat Zira yang sedang memungut obat-obatan itu meski sudah hancur.
"Ups, Sorry ya tante sengaja." Gaby menutup mulutnya dengan ekspresi berpura-pura kaget.
Zira sedikit terisak dengan tangan yang menggenggam obat-obatan yang telah hancur dan memikirkan betapa kejam nya Gaby. Tapi Zira dengan cepat menghapus air mata itu, kemudian berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Boby Boys [On Going]
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA SOBAT] Kalian orang2 baik💘 _____ Semesta yang misterius telah mendekatkanku dengan seseorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dan seharusnya aku bersyukur atas kejutan itu. Hanya dengan hadirnya kamu, aku mengerti...
![Boby Boys [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/266634751-64-k713154.jpg)