Siang ini Zira sedang menonton televisi di ruang keluarga. Entah kenapa hari ini tidak ada niatan untuk diri nya kemana-mana. Cuaca yang panas seakan menyuruh Zira untuk tidak keluar, karena akan membuat kulit nya terpapar sinar matahari. Lebih baik ia memakan beberapa camilan yang ada di hadapan nya.
Keadaan rumah sedang sepi, Kedua orang tua nya sedang pergi ke mall untuk berbelanja bulanan. Sedangkan Kakak nya berada di dalam kamar sedang menikmati tidur siang nya.
Tak lama, bunyi bel rumah menghentikan pergerakan Zira yang sedang memakan camilan yang ada di toples.
"Mbok!" Panggil Zira pada mbok Sisil. Beberapa detik menunggu, tidak ada jawaban hingga akhirnya bel rumah kembali berbunyi. "Iya sebentar."
Terpaksa Zira harus membuka pintu rumah sendiri.
"Mbok Sisil kemana sih." Gumam cewek itu.
"Siap-" saat pintu di buka, dari luar Reygan -ayah kandung Zira berdiri bersama seorang wanita paruh baya. Wanita itu Sabrina, istri baru dari ayah kandung nya. Wajah yang cantik awet muda, tapi hati nya yang busuk pada keluarga lama Reygan hingga mampu merubah sikap ayah nya menjadi seperti ini.
Raut wajah Zira sangat berbinar kala melihat ayah nya berkunjung ke rumah setelah belasan tahun lama nya.
"Ayah!" Seru Zira senang. Saat cewek itu ingin memeluk tubuh kekar Reygan, dengan cepat laki-laki itu menahan kedua lengan anak nya, seakan tak ingin di peluk.
"Gak usah peluk-peluk. Saya ke sini cuma mau bertemu dengan ayah baru kamu." Tubuh Zira tiba tiba mematung masih dengan tatapan parau. Sungguh tak menyangka ayah yang dulu pernah menjadikan diri nya tuan putri kini berubah drastis.
"S-saya?" Tanya Zira dengan terbata-bata. Ini kali pertama ayah nya berbicara asing seperti itu pada Zira. Ia seakan akan orang asing bagi ayah nya sekarang.
"Mana Romeo?" Reygan tak memperdulikan perkataan Zira. Laki-laki itu malah mengalihkan pembicaraan dan mata tajam nya menerawang ke dalam rumah besar itu.
"Masuk dulu yah, kita bicara di dalem." Tak mau terlihat sedih, Zira memilih untuk memberikan senyum terbaik nya. Ketika ingin meraih tangan kekar milik Reygan, laki-laki itu malah menyembunyikan tangan nya ke belakang punggung.
"Gak usah, kita kesini gak bisa lama-lama. Jika mereka tidak ada, lebih baik kita pulang."
"Ayah gak kangen sama tuan putri ayah?" Tanya Zira sembari menahan tangan Reygan yang sudah membalikkan tubuhnya. Laki-laki itu kembali membalikkan tubuhnya menatap lengan yang Zira tahan dan tatapan nya beralih menatap mata cewek itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ayah sangat merin-"
"Ayo Rey kita pulang." Sabrina memotong cepat ucapan Reygan sembari menarik lengan laki-laki itu untuk pergi dari sana. Lagi lagi, Sabrina berhasil merebut hati Ayah nya. Zira hanya bisa melihat kepergian Ayah nya dengan tatapan sayu.
"Ayah! Zira kangen sama ayah. Pulang yuk yah, sini..." Lirih Zira dengan air mata yang sebentar lagi akan terjatuh dari pelupuk matanya.
"Ra, dek kamu kenapa hey."
Zira tersentak kaget hingga lamunan nya buyar dengan suara yang berasal dari belakang tubuhnya. Cewek itu pun menoleh.
"Kakak?" Zira lagi-lagi harus berhalusinasi tentang ayah kandung nya.
"Kamu kenapa, Ra?" Ezra mengedarkan pandangannya ke depan rumah. Tidak ada siapa-siapa. "Kamu panggil-panggil ayah tadi."
"Aku gapapa kok kak."
★★★
Sore ini kedua orang tua Zira sudah berada di rumah beberapa jam yang lalu. Hentakan sepatu high heels terdengar hingga sampai ke indera pendengaran Zira yang sedang memainkan ponsel di ruang keluarga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Boby Boys [On Going]
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA SOBAT] Kalian orang2 baik💘 _____ Semesta yang misterius telah mendekatkanku dengan seseorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dan seharusnya aku bersyukur atas kejutan itu. Hanya dengan hadirnya kamu, aku mengerti...
![Boby Boys [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/266634751-64-k713154.jpg)