"Zira!"
Romeo dan mbok Sisil menoleh ke arah pintu rumah bersamaan. Pria itu terkejut saat melihat Tarisa dan Ezra berada di sana. Sementara mbok Sisil merasa lega karena tuan rumah yang sebenarnya pulang di waktu yang tepat.
"Mama? Ezra?" Gumam Romeo kemudian menjatuhkan obat-obatan yang sempat di pegang sejak tadi secara diam-diam dan langsung menghampiri Zira yang terkapar tak sadarkan diri di lantai. "Zira, bangun nak."
Semoga mereka tidak melihat kejahatan yang telah aku lakukan pada Zira. Batin Romeo.
Mbok Sisil kebingungan melihat tingkah Romeo yang terlihat sangat terkejut dan panik. Itu pasti hanya sandiwara.
Tarisa dan Ezra segera menghampiri Zira yang sudah tidak sadarkan diri.
"Zira ya allah, sayang..." Tarisa menepuk-nepuk pipi Zira dengan pilu. Rasa panik pun mulai menguasai diri Tarisa. Beliau menatap Romeo dengan derai air mata. "Zira kenapa kok bisa gini mas?"
Tarisa sama Ezra gak marah? Berarti mereka gak lihat apa yang sudah aku lakukan sebelumnya. Syukur lah. Batin Romeo sembari menghembuskan nafas pelan.
"Aku gak tau ma, tadi aku kesini, Zira malah tiba-tiba pingsan." Balas Romeo dengan wajah cemas.
"Ya udah mas cepetan bawa Zira ke rumah sakit," perintah Tarisa pada Romeo, lalu beliau menatap ke arah Ezra yang sedang berdiri. "Ezra, bantu ayah angkat Zira ke mobil."
"Iya, ma." Saat Ezra ingin ikut mengangkat Zira, Romoe lebih dulu menggendong nya sendiri lebih dulu.
"Biar ayah aja, kamu nanti bukain pintu mobil." Ucap Romeo pada Ezra.
"Siap yah," Ezra berjalan lebih dulu keluar rumah.
Saat Romeo ingin mengikuti Ezra, beliau menatap ke arah mbok Sisil dengan tatapan mata yang mengisyaratkan bahwa mbok Sisil tidak boleh mengatakan apa yang telah terjadi. Mbok Sisil hanya bisa menunduk takut mendapati tatapan dari Romeo. Kemudian, Romeo berjalan cepat keluar rumah dengan Zira di gendongan nya.
"Mbok, beneran Zira tiba-tiba pingsan gitu aja?" Tanya Tarisa menatap mbok Sisil dengan penuh kecemasan.
"B-bener nyonya, tadi saya juga kaget waktu datang dari halaman belakang rumah, non Zira tiba-tiba pingsan." Bohong mbok Sisil.
"Ya udah mbok, saya ke rumah sakit dulu ya. Titip rumah."
"Siap nyonya." Balas mbok Sisil dengan cepat.
Baru saja ingin melangkah pergi, Tarisa terdiam saat melihat obat-obatan di lantai. Mbok Sisil melebarkan mata ketika melihat Tarisa mengambil obat-obat tersebut.
"Mbok, ini... Obat Zira?" Tanya Tarisa.
"Iya nyonya, tapi saya gak tau itu hanya obat pereda pusing atau yang lain nya." Jawab mbok Sisil. Kali ini beliau tidak berbohong.
"Pereda pusing? Zira sering pusing mbok?" Tarisa terus saja bertanya.
"Betul nyonya. Tapi setiap saya tanya kenapa, non Zira selalu jawab 'gapapa, nanti juga pusing nya ilang' begitu nyonya."
"Ya ampun." Tarisa menutup mulutnya karena tidak menyangka hal ini dialami oleh Zira tanpa ia tahu. "Saya terlalu sibuk kerja, sampai anak sendiri sakit pun saya gak tau mbok."
"Nyonya jangan khawatir, saya yakin non Zira tidak akan kenapa-kenapa. Kita serahkan semua nya sama tuhan ya nyonya." Mbok Sisil memegang pundak Tarisa untuk menguatkan.
"Makasih mbok." Tarisa tersenyum. Kini, perasaan nya sedikit lebih tenang.
"Mama! Ayok kita berangkat!" Teriak Ezra dari luar rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Boby Boys [On Going]
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA SOBAT] Kalian orang2 baik💘 _____ Semesta yang misterius telah mendekatkanku dengan seseorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dan seharusnya aku bersyukur atas kejutan itu. Hanya dengan hadirnya kamu, aku mengerti...
![Boby Boys [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/266634751-64-k713154.jpg)