"Orang yang kau anggap baik-baik saja, bisa jadi menyimpan luka yang teramat sangat dalam."
★★★
Setelah teman-teman nya keluar dari ruangan, Boby menghempaskan tubuhnya ke sofa ruangan nenek nya di rawat. Tidak melakukan hal yang berat tapi entah kenapa rasa nya sungguh melelahkan. Dari atas brankar, nek Yola tersenyum sembari memperhatikan cucu nya.
"Boby," panggil beliau. Boby yang semula sedang bersandar cepat-cepat menegakkan tubuhnya.
"Kenapa nek? Nenek butuh sesuatu?" Boby bangkit dari menghampiri nenek nya dengan gesit.
"Nenek gak butuh apa-apa." Balas nek Yola dengan nada lembut dan senyuman yang sedari tadi di hilang. "Nenek cuma mau bicara sama kamu."
Boby mengambil duduk di sisi brankar yang sudah tersedia kursi.
"Bicara apa nek?" Boby menunduk saat nenek Yola memegang tangan nya yang berada di atas brankar.
"Kamu jangan cuek-cuek sama Zira, dia itu tulus sama kamu, Boby. Nenek bisa liat, kalau dia orang yang baik dan periang." Ucap nek Yola pada akhirnya.
"Nek, tapi Boby gak suka-"
"Kamu bukan gak suka, tapi belum bisa buka hati buat Zira aja." Potong nenek Yola. "Coba buka mata hati kamu, dan liat gimana sabar dan cinta nya dia sama kamu."
"Boby gak pernah nyuruh dia buat suka sama Boby, nek. Tapi Boby akan coba buat buka hati sama cewek."
Nenek Yola mengangguk seraya mengelus lembut puncak kepala Boby.
Di sisi lain, Zira baru saja sampai di rumah nya setelah di antar oleh Zidan barusan. Zira mengerutkan kening ketika rumah tidak lagi terdapat bau-bau yang tidak mengenakkan. Syukurlah, mungkin ayah tiri nya sudah tobat.
Sangat Zira ingin menaiki anak tangga, tiba-tiba ada yang menarik nya dari belakang dengan sangat kencang hingga cewek itu terjatuh ke lantai.
"Aww!" Zira memekik kesakitan karena pantat nya terlalu menghantam lantai sangat keras. Sesekali, ringisan keluar dari mulutnya.
"Anak sialan!" Bentak seseorang. "Siapa yang memerintah kamu agar membuang semua botol minuman saya?!"
Zira mendongak menatap Romeo yang sedang menatap nya tajam. Zira sudah menduga hal ini akan terjadi padanya. Karena pagi tadi saat Romeo masih tertidur, Zira sengaja membuang semua botol-botol minuman keras nya Romeo.
"Non, Zira!" Dari arah dapur, mbok Sisil membantu Zira berdiri.
"Zira gapapa, mbok ke kebelakang aja." Pinta Zira dengan suara lemah lembut. Tapi mbok Sisil menggeleng dengan raut wajah khawatir.
"Heh kamu!" Bentak Romeo pada mbok Sisil. Pembantu itu menatap majikan nya lalu menggeleng.
"Nggak tuan, kali ini saya gak akan biarin tuan sakitin non Zira lagi," Ucap mbok Sisil membuat Romeo semakin murka. Dengan berani nya, pembantu itu berdiri dan menatap Romeo dengan tatapan menantang. "Lebih baik tuan sakitin saya aja, jangan non Zira."
"Halah! Banyak omong!" Romeo mengangkat tangan nya ke udara.
"Ayah, jangan!" Pekik Zira langsung berdiri di depan mbok Sisil.
Plakkk...
Mbok Sisil melotot kaget ketiga Romeo malah mendaratkan tamparan nya tepat di pipi Zira hingga cewek itu terjatuh ke samping sembari memegangi pipi nya yang terasa panas. Mbok Sisil langsung berjongkok di dekat Zira.
"Non Zira," pembantu itu memegang kedua bahu Zira yang sudah bergetar. "Ayok non, mbok antar ke kamar."
★★★
KAMU SEDANG MEMBACA
Boby Boys [On Going]
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA SOBAT] Kalian orang2 baik💘 _____ Semesta yang misterius telah mendekatkanku dengan seseorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dan seharusnya aku bersyukur atas kejutan itu. Hanya dengan hadirnya kamu, aku mengerti...
![Boby Boys [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/266634751-64-k713154.jpg)